Kebudayaan

2026.02.03

Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 akan diselenggarakan pada Juli 2026 di Busan, Korea. Untuk menyambut hal tersebut, Korea.net akan memperkenalkan 6 tempat dari 12 tempat yang berada dalam Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO di Korea.


Foto di atas memperlihatkan lima situs dari daftar Situs Ibu Kota Darurat Busan pada Masa Perang Korea. Dari kiri atas searah jarum jam: Jembatan Yeongdo, Desa Batu Nisan Ami-dong, Pemakaman Peringatan PBB, Kompleks Pemerintahan Sementara, dan Kediaman Presiden Sementara

Foto di atas memperlihatkan lima situs dari daftar Situs Ibu Kota Darurat Busan pada Masa Perang Korea. Dari kiri atas searah jarum jam: Jembatan Yeongdo, Desa Batu Nisan Ami-dong, Pemakaman Peringatan PBB, Kompleks Pemerintahan Sementara, dan Kediaman Presiden Sementara



Penulis: Margareth Theresia
Foto: Lee Jeong Woo

Situs Ibu Kota Darurat Busan pada Masa Perang Korea merupakan sebuah situs bersejarah yang menyimpan dokumentasi Busan selama menjadi ibu kota darurat selama 1.023 hari.

Sebanyak sebelas tempat ditetapkan sebagai Situs Ibu Kota Darurat Busan pada Masa Perang Korea untuk memperlihatkan bagaimana Busan berperan sebagai ibu kota darurat setelah Perang Korea meletus pada tahun 1950.

Situs-situs tersebut memperlihatkan bagaimana saat itu Busan berfungsi secara administrasi, diplomasi, dan militer dalam menjaga keberlangsungan Republik Korea.

Foto di atas menunjukkan gedung Kompleks Pemerintahan Sementara yang terletak di Seo-gu, Kota Busan. Gedung tersebut kini digunakan sebagai Museum Seokdang Universitas Dong-A.

Foto di atas menunjukkan gedung Kompleks Pemerintahan Sementara yang terletak di Seo-gu, Kota Busan. Gedung tersebut kini digunakan sebagai Museum Seokdang Universitas Dong-A.




Kompleks Pemerintahan Sementara di Tengah Perang

Kompleks Pemerintahan Sementara saat itu berperan sebagai pusat pemerintahan ibu kota darurat dengan Kantor Perdana Menteri serta delapan kantor kementerian utama, seperti Kementerian Kehakiman dan Kementerian Pertahanan Nasional.

Kompleks tersebut tak hanya menjadi tempat untuk menjaga keberlangsungan negara dan menetapkan kebijakan, tetapi juga menjadi jantung pengelolaan negara hingga tempat menjamu para diplomat asing.

Gedung tersebut awalnya dibangun pada tahun 1925 sebagai kantor pemerintahan Provinsi Gyeongsangnam hingga Korea merdeka. Akan tetapi, gedung tersebut berubah menjadi gedung pemerintahan negara darurat saat Perang Korea pecah.

Setelah Perang Korea berakhir, gedung tersebut digunakan sebagai pengadilan dan kejaksaan sehingga membuatnya menjadi gedung yang mencatat sejarah administrasi publik Korea selama lebih dari 90 tahun.


Foto di atas menunjukkan Kediaman Presiden Sementara yang terletak di Seo-gu, Kota Busan. Gedung tersebut digunakan sebagai kantor dan kediaman presiden pada masa Perang Korea dan sekarang digunakan sebagai Aula Peringatan Ibu Kota Sementara.

Foto di atas menunjukkan Kediaman Presiden Sementara yang terletak di Seo-gu, Kota Busan. Gedung tersebut digunakan sebagai kantor dan kediaman presiden pada masa Perang Korea dan sekarang digunakan sebagai Aula Peringatan Ibu Kota Sementara.



Kediaman presiden sekaligus panggung politik dan diplomasi

Kediaman Presiden Sementara merupakan gedung lain yang memegang peranan penting di Busan saat menjadi ibu kota darurat.

Fungsi administrasi negara dipegang oleh Kompleks Pemerintahan Sementara, sedangkan fungsi pemerintahan presiden dipegang oleh Kediaman Presiden Sementara.

Gedung tersebut awalnya dibangun pada tahun 1926 sebagai kediaman gubernur Provinsi Gyeongsangnam, tetapi digunakan sebagai kediaman dan ruang kerja presiden saat Perang Korea.

Gedung tersebut kini digunakan sebagai Aula Peringatan Ibu Kota Sementara dan pengunjung bisa melihat reka ulang ruang kantor dan tempat tinggal presiden pada masa Perang Korea.


Foto di atas menunjukkan Jembatan Yeongdodaegyo (depan) dan Busandaegyo yang menyambungkan Kota Busan dengan Pulau Yeongdo. Alun-alun pengungsi yang berada di dekat Jembatan Yeongdo saat ini berfungsi menjadi ruang peringatan untuk mengenang sosok Busan pada masa Perang Korea.

Foto di atas menunjukkan Jembatan Yeongdodaegyo (depan) dan Busandaegyo yang menyambungkan Kota Busan dengan Pulau Yeongdo. Alun-alun pengungsi yang berada di dekat Jembatan Yeongdo saat ini berfungsi menjadi ruang peringatan untuk mengenang sosok Busan pada masa Perang Korea.



Jembatan Yeongdo yang menjadi simbol perpisahan dan pertemuan kembali

Jembatan Yeongdo menjadi tempat harapan untuk memastikan anggota keluarga para pengungsi yang masih hidup.

Jembatan tersebut menjadi jembatan pertama di Korea yang menyambungkan daratan dengan pulau pada tahun 1934. Jembatan tersebut kemudian berkembang menjadi simbol utama Kota Busan.

Jembatan Yeongdo menjadi tempat para pengungsi datang dalam skala besar pada masa Perang Korea sehingga menjadi lokasi pertemuan kembali para pengungsi yang terpisah akibat perang.

Dalam ketidakpastian akibat perang, banyak para pengungsi yang berkata, "Mari bertemu di Jembatan Yeongdo apabila kita berpisah."

Oleh karena itu, setiap harinya para pengungsi mengunjungi kaki Jembatan Yeongdo untuk mencari keluarganya yang hilang akibat terpisah saat proses mengungsi.


Foto di atas menunjukkan sisi depan Desa Batu Nisan Ami-dong yang terletak di Seo-gu, Kota Busan. Desa ini dibangun oleh para pengungsi yang tiba di Kota Busan dengan menggunakan batu-batu nisan yang tersisa karena lahan desa tersebut awalnya digunakan sebagai pemakaman umum warga Jepang sejak tahun 1906.

Foto di atas menunjukkan sisi depan Desa Batu Nisan Ami-dong yang terletak di Seo-gu, Kota Busan. Desa ini dibangun oleh para pengungsi yang tiba di Kota Busan dengan menggunakan batu-batu nisan yang tersisa karena lahan desa tersebut awalnya digunakan sebagai pemakaman umum warga Jepang sejak tahun 1906.



Desa yang dibangun dengan batu nisan

Desa Batu Nisan Ami-dong merupakan sebuah tempat yang menunjukkan betapa menyedihkannya hidup para pengungsi pada masa Perang Korea.

Para pengungsi yang tidak memiliki tempat untuk tinggal akhirnya membangun rumah sementara di atas lahan pemakaman umum warga Jepang.

Batu nisan serta bangunan makam digunakan sebagai tangga dan pondasi rumah. Seiring waktu berjalan, makin banyak batu dan bahan bangunan yang ditumpuk di atasnya sehingga terlihat pula bagaimana sulitnya para pengungsi tersebut bisa bertahan hidup selama perang.

Ruang bagi mereka yang sudah meninggal berubah menjadi rumah bagi mereka yang sudah hidup. Desa ini menjadi saksi bisu untuk mereka yang tidak berhenti menyerah walau berada dalam kesulitan yang luar biasa akibat perang.


Pemakaman Peringatan PBB yang berada di Busan merupakan satu-satunya pemakaman di dunia yang didedikasikan untuk para prajurit PBB.

Pemakaman Peringatan PBB yang berada di Busan merupakan satu-satunya pemakaman di dunia yang didedikasikan untuk para prajurit PBB.




Satu-satunya pemakaman di dunia yang didedikasikan untuk prajurit PBB

Pemakaman Peringatan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) merupakan satu-satunya pemakaman resmi di dunia untuk prajurit PBB yang wafat pada Perang Korea.

Taman pemakaman tersebut mulai dibangun pada tahun 1951 untuk menjadi tempat peristirahatan utama bagi para prajurit PBB yang wafat di berbagai penjuru Semenanjung Korea.

Terdapat lebih dari 11 ribu jenazah yang disemayamkan di pemakaman tersebut saat pemakaman tersebut baru dibuka. Akan tetapi, kini hanya tersisa sekitar 2.300 jenazah karena banyak jenazah yang dikembalikan ke negara asalnya melalui kebijakan negaranya masing-masing.

Untuk mengenang pengorbanan para prajurit PBB yang wafat pada Perang Korea, acara Turn Toward Busan digelar setiap tahunnya pada tanggal 11 November pk. 11:11.

Masyarakat di seluruh dunia diajak untuk mengheningkan cipta bersama ke arah Pemakaman Peringatan PBB, tempat para prajurit tersebut dimakamkan.


margareth@korea.kr

konten yang terkait