Wartawan Kehormatan

2026.02.06

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Hanum Nur Aprilia dari Indonesia
Foto: Hanum Nur Aprilia

Musim dingin menjadi waktu yang tepat untuk mencoba permainan yang hanya bisa dinikmati saat suhu turun drastis. Korea memiliki banyak festival musim dingin yang meriah dan terkenal, tetapi tidak semuanya diketahui oleh wisatawan asing. Salah satu yang masih terasa lokal dan bersahaja adalah Festival Musim Dingin Hongcheongang di Hongcheon-gun, Provinsi Gangwon.

Festival Musim Dingin Hongcheongang yang tahun ini digelar pada 9-25 Januari 2026 dikenal dengan aktivitas memancing di atas sungai yang membeku.

Festival Musim Dingin Hongcheongang yang tahun ini digelar pada 9-25 Januari 2026 dikenal dengan aktivitas memancing di atas sungai yang membeku.


Festival ini digelar setiap tahun untuk memperkenalkan ikan trout khas Hongcheon sekaligus mempromosikan wilayahnya. Ragam aktivitas memancing ditawarkan, mulai dari memancing di atas es, memancing dalam ruangan, hingga memancing tanpa alat bantu. Tersedia pula program lainnya berupa permainan rakyat musim dingin, pameran rumah tradisional, serta aneka hidangan khas.

Mayoritas pengunjung merupakan wisatawan domestik. Namun, akses menuju lokasi terbilang ramah bagi pelancong asing. Festival dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar lima menit dari Terminal Bus Hongcheon. Kehadiran stan informasi wisata di sekitar terminal serta panitia yang sigap membantu membuat suasana terasa bersahabat sejak awal.

Pengunjung dari berbagai usia menikmati permainan musim dingin gratis, seperti seluncur salju dan bermain di sungai yang membeku.

Pengunjung dari berbagai usia menikmati permainan musim dingin gratis, seperti seluncur salju dan bermain di sungai yang membeku.


Festival Musim Dingin Hongcheongang dapat dinikmati tanpa tiket masuk. Namun, bagi pengunjung yang ingin mencoba memancing di atas es atau memancing dalam ruangan, dikenakan biaya sekitar 15.000 hingga 20.000 won. Bagi yang sekadar ingin menikmati suasana atau bermain seluncur salju, seluruh fasilitas tersebut dapat digunakan secara gratis.

Memancing di atas es menjadi daya tarik utama festival. Namun, cuaca yang dingin membuat penulis memilih opsi memancing dalam ruangan. Aktivitas ini menggunakan dibagi ke dalam beberapa sesi. Waktu tunggu sebelum sesi dimulai dapat dimanfaatkan untuk menjelajahi area festival.

Area penjualan tiket bersebelahan dengan berbagai stan hasil pertanian lokal Hongcheon yang ditata dalam ruangan. Tak jauh dari sana, sebuah panggung kecil menampilkan pertunjukan talenta lokal, mulai dari nyanyian hingga musik dan tarian tradisional.

Deretan stan jajanan musim dingin di area festival menjual berbagai makanan hangat khas Korea, seperti eomuk dan hotteok.

Deretan stan jajanan musim dingin di area festival menjual berbagai makanan hangat khas Korea, seperti eomuk dan hotteok.


Bagian luar festival tak kalah menarik. Jajanan khas musim dingin seperti eomuk dan hotteok berjajar rapi, menawarkan kehangatan bagi siapa pun yang mampir. Semakin jauh melangkah, pengunjung akan menemukan replika rumah tradisional dan berbagai patung yang kerap dijadikan latar berfoto. Salah satu yang paling populer, terutama bagi anak-anak, adalah patung alpaka berukuran besar. Keberadaan patung ini terasa relevan karena Hongcheon juga dikenal dengan Alpaca World, salah satu destinasi wisata unggulan daerah tersebut.

Di seberang area foto, sungai yang telah membeku dimanfaatkan sebagai arena bermain. Panitia menyediakan papan seluncur tradisional dari kayu maupun papan plastik modern yang bisa digunakan secara gratis. Jika menyeberangi sungai, pengunjung juga dapat mencoba perosotan salju menggunakan ban, permainan yang memacu adrenalin sekaligus mengundang tawa.

Suasana kegiatan memancing dalam ruangan yang diikuti pengunjung pada salah satu sesi Festival Musim Dingin Hongcheongang.

Suasana kegiatan memancing dalam ruangan yang diikuti pengunjung pada salah satu sesi Festival Musim Dingin Hongcheongang.


Tanpa terasa, waktu berlalu hingga tiba giliran penulis memasuki area memancing dalam ruangan. Peserta berbaris dengan tertib, sementara panitia membagikan tanda pengenal dan kail yang telah diberi umpan. Pemandu acara dengan gaya jenaka mencairkan suasana sekaligus menjelaskan prosedur keselamatan. Banyaknya peserta yang memancing dalam satu kolam menuntut kehati-hatian agar kail tidak saling tersangkut atau melukai orang lain.

Saat aba-aba dimulai, para peserta serempak melempar kail dengan harapan mendapatkan tangkapan. Beberapa orang berhasil menangkap ikan dalam waktu singkat. Setiap peserta diperbolehkan membawa pulang maksimal dua ekor ikan sehingga mereka yang telah mencapai batas harus keluar dari area memancing.

Ketika kolam mulai lengang, penulis justru diliputi rasa cemas karena belum mendapatkan satu pun ikan. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari mengamati teknik peserta lain, bertanya kepada panitia, hingga berpindah posisi. Saat harapan hampir sirna, kail penulis terasa berat. Dengan sabar dan hati-hati, kail diangkat perlahan. Panitia segera datang membantu, menangkap ikan dengan jaring, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik yang telah disediakan.

Ikan hasil tangkapan dapat langsung dimasak di area festival. Dengan biaya 5.000 won, ikan bisa diolah menjadi ikan bakar atau disajikan mentah sebagai hoe, hidangan khas Korea berupa irisan ikan segar yang disantap dengan saus pedas chogochujang atau dibungkus daun selada.

 Ikan hasil tangkapan di Festival Musim Dingin Hongcheongang dapat langsung dimasak dan dinikmati di area festival.

Ikan hasil tangkapan di Festival Musim Dingin Hongcheongang dapat langsung dimasak dan dinikmati di area festival.


Apabila memilih sajian ikan bakar, ikan akan disiapkan di area dalam lalu dibawa ke tungku pembakaran di luar. Tungku berbentuk laci-laci bernomor dan pengunjung akan menerima kunci sesuai nomor laci. Waktu pembakaran sekitar 30 menit, setelah itu ikan dapat diambil kembali.

Sambil menunggu, penulis kembali bermain seluncur salju. Kali ini, barang-barang dititipkan di loker gratis yang disediakan panitia. Tanpa disadari, waktu berlalu lebih lama dari yang direncanakan. Saat kembali ke area tungku dengan tergesa-gesa, para petugas terlihat khawatir. Rupanya, ikan tidak akan dikeluarkan dari tungku sebelum pemilik kunci datang mengambilnya.

Setelah meminta maaf karena terlambat, penulis menuju area makan dalam ruangan. Ikan bakar yang disajikan memang tampak gosong di bagian kulit, tetapi dagingnya tetap lembut dan menggugah selera. Rasanya pun semakin nikmat karena merupakan hasil tangkapan sendiri.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.

konten yang terkait