Wartawan Kehormatan

2026.02.02

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian
Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Foto: Maulia Resta Mardaningtias

Korean Culture Day (KCD) merupakan program yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea untuk memperkenalkan budaya Korea kepada masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Program ini dijalankan melalui Korean Cultural Center (KCC) yang tersebar di berbagai negara.

Pada hari Rabu, 28 Januari 2026, Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) mengadakan KCD dengan tema "Folklor Korea." Acara ini menghadirkan Yayah Cheriyah, S.E., M.A., dosen Program Studi Bahasa Korea Universitas Nasional, sebagai pembicara. Melalui sesi ini, masyarakat Indonesia diajak mengenal lebih dalam budaya Korea lewat cerita rakyat, legenda, dan mitos yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Potret suasana Aula Serbaguna KCCI saat penyelenggaraan Korean Culture Day (KCD) bertajuk Folklor Korea.

Potret suasana Aula Serbaguna KCCI saat penyelenggaraan Korean Culture Day (KCD) bertajuk Folklor Korea.


Cerita rakyat adalah salah satu bentuk warisan budaya yang biasanya dituturkan secara lisan dan terus hidup dalam masyarakat. Sebagai pembuka, Yayah menjelaskan perbedaan antara mitos, legenda, dan cerita rakyat dalam tradisi Korea.

Dalam bahasa Korea, cerita dongeng atau seolhwa terbagi menjadi tiga kategori, yaitu shinhwa yang berarti mitos, jeonseol yang berarti legenda, dan mindam yang berarti cerita rakyat.

Potret pembicara, Yayah Cheriyah, S.E., M.A., dosen Program Studi Bahasa Korea Universitas Nasional.

Potret pembicara, Yayah Cheriyah, S.E., M.A., dosen Program Studi Bahasa Korea Universitas Nasional.


Mitos biasanya berkaitan dengan hal-hal sakral, kepercayaan, dan asal-usul suatu bangsa. Salah satu mitos yang terkenal adalah kisah Dangun Wanggeom, tokoh yang dianggap sebagai pendiri kerajaan pertama Korea, yaitu Gojoseon.

Dalam cerita, Dangun digambarkan sebagai putra Hwanung, anak dewa langit, dan Ungnyeo, seekor beruang yang berubah menjadi wanita setelah bertapa di gua selama seratus hari dengan berbekal bawang putih. Kisah Dangun bahkan menjadi dasar penyebutan bangsa Korea sebagai keturunan dewa dan beruang.

Selain Dangun Wanggeom, ada pula kisah Bak Hyeokgeose, pendiri Kerajaan Silla. Mitos-mitos ini tidak hanya hidup dalam tradisi lisan, tetapi juga sering diadaptasi dalam karya modern, seperti drama Jumong dan Arthdal Chronicles.

Penjelasan dengan ilustrasi mitos Dangun Wanggeom yang dikenal sebagai sosok pendiri kerajaan pertama Korea.

Penjelasan dengan ilustrasi mitos Dangun Wanggeom yang dikenal sebagai sosok pendiri kerajaan pertama Korea.


Berbeda dengan mitos, legenda Korea biasanya menampilkan unsur supernatural, makhluk mistis, atau fenomena alam yang dijelaskan melalui tokoh dan tempat tertentu. Salah satu contoh yang menarik adalah legenda Ulsanbawi, batu granit raksasa dengan enam puncak yang berdiri megah di Gunung Seorak.

Menurut cerita, batu ini seharusnya dikirim ke Gunung Geumgang, tetapi karena terlalu berat, ia tidak sempat sampai dan akhirnya menetap di Gunung Seorak.

Legenda Korea juga kaya dengan kisah makhluk mitologi, seperti Gumiho yang digambarkan sebagai rubah berekor sembilan, Dokkaebi yang dikenal sebagai monster bertanduk dengan wajah abstrak, Imoogi yang merupakan ular raksasa yang harus bertapa selama seribu tahun, serta Bulgasari yang digambarkan sebagai monster pemakan logam dari era Goryeo.

Melalui legenda-legenda ini, masyarakat dapat memahami nilai moral dan kepercayaan yang berkaitan dengan shamanisme serta sejarah Korea.

Pembicara menjelaskan penggambaran makhluk mistis Korea seperti Gumiho dan Dokkaebi dalam berbagai konten modern.

Pembicara menjelaskan penggambaran makhluk mistis Korea seperti Gumiho dan Dokkaebi dalam berbagai konten modern. 


Cerita rakyat atau mindam biasanya lebih ringan, digunakan sebagai hiburan, dan sarat ajaran moral. Tradisi ini mulai berkembang pada masa Tiga Kerajaan, yaitu Goguryeo, Silla, dan Baekje, dan semakin pesat pada era Goryeo dan Joseon.

Beberapa cerita rakyat populer yang dikenalkan dalam acara ini antara lain "Heungbu dan Nolbu", kisah dua saudara dengan karakter berbeda. Cerita ini mirip dengan kisah "Bawang Merah dan Bawang Putih" di Indonesia, yang menekankan balasan atas perbuatan baik dan buruk, serta nilai kekeluargaan dan bakti kepada orang tua.

Potret layar menampakkan berbagai nilai budaya Korea yang terkandung dalam salah satu cerita rakyat populer Korea, Heungbu dan Nolbu.

Potret layar menampakkan berbagai nilai budaya Korea yang terkandung dalam salah satu cerita rakyat populer Korea, Heungbu dan Nolbu.


Ada pula cerita "Sang Matahari dan Sang Bulan" yang mengandung pesan tentang keberanian, doa, harapan, dan akibat dari keserakahan. Selain itu, cerita "Shim Cheong" juga diperkenalkan, yang mengisahkan seorang anak perempuan yang berbakti kepada ayahnya dan menunjukkan balasan atas pengorbanan tulus.

Cerita-cerita ini merefleksikan beragam nilai budaya Korea, seperti konfusianisme yang menekankan bakti kepada orang tua dan keluarga sebagai pusat kehidupan sosial, buddhisme yang mengajarkan konsep karma dan keadilan, serta shamanisme yang menekankan penghormatan terhadap alam dan makhluk sakral. Nilai-nilai tersebut membentuk moral dan etika sosial dalam masyarakat Korea dan masih relevan hingga kini.

Seusai acara, peserta dapat membaca berbagai buku cerita rakyat Korea, termasuk cerita rakyat Korea Sang Matahari dan Sang Bulan, yang tersedia di bagian belakang ruang acara.

Seusai acara, peserta dapat membaca berbagai buku cerita rakyat Korea, termasuk cerita rakyat Korea "Sang Matahari dan Sang Bulan", yang tersedia di bagian belakang ruang acara. 


Di masa kini, cerita rakyat Korea tidak hanya dituturkan secara lisan, tetapi juga diadaptasi ke dalam berbagai bentuk hiburan modern, mulai dari drama, film, animasi, hingga webtoon, sehingga generasi muda dapat menikmatinya dengan cara yang lebih relevan dengan kehidupan mereka.

Selain itu, festival budaya juga menjadi sarana untuk mengenalkan cerita-cerita tersebut. Festival Chilseok, misalnya, mirip dengan hari kasih sayang tradisional Korea dan berakar dari legenda "Gyeonwoo dan Jiknyeo".

Ada pula Hari Nasional Korea, atau Gaecheonjeol, yang berakar dari legenda Dangun Wanggeom, serta festival Gangneung Danoje yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap dewa gunung. Dengan cara ini, cerita rakyat tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya Korea yang terus diwariskan.

Buku cerita rakyat Korea yang disediakan KCCI untuk dibaca, umumnya menggunakan Bahasa Korea yang sederhana, sehingga cocok untuk dibaca oleh pemelajar Bahasa Korea level dasar.

Buku cerita rakyat Korea yang disediakan KCCI untuk dibaca, umumnya menggunakan Bahasa Korea yang sederhana, sehingga cocok untuk dibaca oleh pemelajar Bahasa Korea level dasar.


Acara KCD ditutup dengan sesi tanya jawab yang disambut antusias oleh peserta. Salah satu pertanyaan menarik adalah mengenai kesamaan antara cerita rakyat Korea "Bidadari dan Penebang Kayu" dengan cerita rakyat Indonesia "Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari".

Menanggapi hal tersebut, Yayah menjelaskan bahwa faktor historis, seperti hubungan perdagangan antarnegara dan masa penjajahan, bisa menjadi alasan mengapa cerita rakyat dengan pola hampir identik dapat ditemukan di berbagai budaya. Hal tersebut menunjukkan bahwa cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai jembatan budaya antarbangsa.

sofiakim218@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.

konten yang terkait