Wartawan Kehormatan

2026.02.02

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro

Museum Peringatan Nasional Mobilisasi Paksa pada Masa Pendudukan Jepang merupakan museum sejarah nasional di Busan yang resmi dibuka pada tanggal 10 Desember 2015 sebagai ruang dokumentasi dan edukasi sejarah. Museum ini berfokus pada periode penjajahan kolonial Jepang (1910–1945), khususnya sejarah mobilisasi paksa terhadap masyarakat Korea.

Memasuki ruang museum, terdapat tumpukan Gukmin Nomu Sujang, yaitu arsip tenaga kerja nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesejahteraan Jepang pada masa perang.

Memasuki ruang museum, terdapat tumpukan Gukmin Nomu Sujang, yaitu arsip tenaga kerja nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesejahteraan Jepang pada masa perang.


Penulis mengunjungi museum ini untuk mengenal lebih jauh sejarah mobilisasi paksa pada masa pendudukan Jepang. Di dalam ruang pameran utama, museum menjelaskan secara sistematis makna mobilisasi paksa di bawah kekuasaan Jepang.

Setelah secara paksa menganeksasi Kekaisaran Korea pada tahun 1910, Jepang memperluas wilayah kekuasaannya melalui berbagai ekspansi militer sejak Perang Dunia I. Invasi ke Manchuria pada 1931 yang disusul pecahnya Perang Tiongkok–Jepang pada 1937, menandai ambisi Jepang untuk menguasai daratan Tiongkok.

Pada lorong ini terdapat alur sejarah Jepang menata ulang sistem mobilisasi paksa barang serta membentuk lembaga pengendali keuangan untuk mendukung perang.

Pada lorong ini terdapat alur sejarah Jepang menata ulang sistem mobilisasi paksa barang serta membentuk lembaga pengendali keuangan untuk mendukung perang.


Pada tahun 1941, agresi militer kembali meluas dengan serangan ke Malaysia dan Pearl Harbor serta pendudukan wilayah New Guinea dan Myanmar. Seiring eskalasi perang, kebutuhan akan barang, tenaga kerja, dan dana meningkat tajam sehingga melatarbelakangi penerapan kebijakan mobilisasi paksa di seluruh wilayah pendudukan, termasuk Republik Korea.

Mobilisasi paksa pada masa pendudukan Jepang dipahami sebagai kebijakan Kekaisaran Jepang untuk mengerahkan tenaga manusia dan sumber daya material sekaligus mengendalikan peredaran keuangan di kawasan Asia-Pasifik guna mendukung perang agresi.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah Jepang memiliki kewenangan luas untuk mengatur dan memanfaatkan tenaga kerja, bahan baku, serta dana di wilayah Jepang daratan, koloni, dan daerah pendudukan. Museum ini menunjukkan bahwa mobilisasi paksa bukan sebuah kebijakan sementara, melainkan sistem pengendalian masa perang yang diterapkan secara menyeluruh dan terstruktur.

Terdapat pula berbagai rangkaian puisi yang disajikan untuk mengekspresikan pengalaman mobilisasi paksa. Foto di atas merupakan puisi yang berjudul Kuntum-kuntum Bunga.

Terdapat pula berbagai rangkaian puisi yang disajikan untuk mengekspresikan pengalaman mobilisasi paksa. Foto di atas merupakan puisi yang berjudul "Kuntum-kuntum Bunga."


Saat menelusuri ruangan, terdapat ruang pameran menampilkan puisi-puisi yang disajikan dalam bentuk kaligrafi sebagai bagian dari pameran peringatan sejarah. Ruang ini memperlihatkan bagaimana ekspresi sastra turut digunakan untuk menyampaikan pengalaman dan ingatan tentang mobilisasi paksa.

Salah satu karya yang menarik perhatian penulis berjudul "Kuntum-kuntum Bunga." Puisi ini ditampilkan sebagai penghormatan bagi para perempuan yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama Perang Dunia II.

Melalui metafora jiwa-jiwa muda yang belum sempat mekar, puisi tersebut menggambarkan kehidupan yang terhenti akibat kekerasan dan penindasan dengan penggambaran alam seperti langit yang menangis sebagai simbol duka yang berlarut.

Potret Kim Joon-yeop yang merupakan seorang prajurit yang berhasil melarikan diri dari dinas militer Jepang.

Potret Kim Joon-yeop yang merupakan seorang prajurit yang berhasil melarikan diri dari dinas militer Jepang.


Memasuki ruangan berikutnya, terdapat kisah Kim Joon-yeop, yaitu seorang prajurit yang dimobilisasi secara paksa oleh militer Jepang pada masa pendudukan. Pada Maret 1944 ia berhasil melarikan diri dari dinas militer Jepang dan kemudian bergabung dengan Tentara Pembebasan Korea. Bersama rekan-rekannya, Kim menjalani pelatihan militer sebelum ditugaskan di bawah Pemerintahan Sementara Korea untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Penulis kemudian menelusuri lantai tiga museum yang menampilkan pameran mengenai kondisi kerja paksa di pertambangan selama masa pendudukan Jepang. Melalui papan informasi dan replika adegan kerja di tambang, diperlihatkan lingkungan kerja yang berbahaya dengan jam kerja panjang hingga 12 jam per hari. Keterangan dari para penyintas menunjukkan bahwa banyak pekerja mengalami cedera serius dan tidak keluar dari tambang dalam kondisi utuh.

Replika adegan kerja di tambang dilengkapi dengan audio suasana sehingga membuat pengunjung benar-benar merasakan atmosfernya.

Replika adegan kerja di tambang dilengkapi dengan audio suasana sehingga membuat pengunjung benar-benar merasakan atmosfernya.


Pameran ini juga memperlihatkan bagaimana buruknya kondisi tersebut mendorong upaya pelarian dalam skala besar. Data yang ditampilkan menunjukkan bahwa antara 1939 hingga 1942, ratusan ribu pekerja Korea mencoba melarikan diri dengan tingkat pelarian meningkat tajam seiring menyebarnya informasi tentang realitas kerja paksa. Upaya ini dilakukan meskipun mereka menghadapi ancaman hukuman berat, termasuk kekerasan fisik dan kematian jika tertangkap.

Comfort Station merupakan ruang berikutnya yang bisa dikunjungi. Ruang ini menjelaskan tentang kehidupan para perempuan yang dipaksa berada di tempat tersebut dikendalikan secara ketat berdasarkan aturan penggunaan stasiun penghibur yang ditetapkan oleh militer Jepang. Aturan ini mengatur secara rinci berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari waktu dan tarif pelayanan terhadap tentara dan personel militer, hingga jadwal pemeriksaan penyakit menular seksual serta hari libur.

Reka ulang papan regulasi Comfort Station.

Reka ulang papan regulasi Comfort Station.


Selain penjelasan tertulis, terdapat pula video rekonstruksi beserta audio yang menggambarkan peristiwa ketika perempuan Korea dipaksa menjadi wanita penghibur bagi tentara Jepang. Meskipun disajikan secara garis besar, penjelasan tersebut tetap memberi gambaran kuat tentang situasi dan tekanan yang mereka alami.

Selain itu, museum juga menayangkan video wawancara dengan para penyintas wanita penghibur yang kini telah lanjut usia. Melalui rekaman ini, pengunjung dapat mendengar langsung kesaksian korban mengenai pengalaman kelam yang mereka alami selama masa pendudukan Jepang.

Di Hall of Remembrance tergantung ratusan foto sejarah para korban mobilisasi pada masa kolonial Jepang.

Di Hall of Remembrance tergantung ratusan foto sejarah para korban mobilisasi pada masa kolonial Jepang.


Hall of Remembrance menjadi bagian terakhir yang dikunjungi penulis sebelum meninggalkan area pameran museum. Ruang ini dihadirkan sebagai tempat penghormatan bagi para korban mobilisasi paksa yang meninggal di luar negeri dan tidak pernah kembali, bahkan tanpa ditemukannya jenazah mereka.

Selain itu, ruang ini berfungsi sebagai ruang peringatan bagi keluarga yang ditinggalkan serta sebagai tempat refleksi atas sejarah mobilisasi paksa dan penderitaan akibat perang. Dengan makna tersebut, area ini diberi nama "Ruang Ingatan" sebagai pengingat akan pentingnya nilai perdamaian dan hak asasi manusia.

Mengunjungi museum ini memberikan gambaran yang jelas tentang beratnya dampak mobilisasi paksa terhadap kehidupan manusia. Pameran yang disajikan menunjukkan bagaimana peristiwa tersebut meninggalkan luka sejarah yang panjang. Kunjungan ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga ingatan sejarah, perdamaian, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.

konten yang terkait