Penulis: Wartawan Kehormatan Hanum Nur Aprilia dari Indonesia
Foto: Hanum Nur Aprilia
Makguksu adalah mi khas Korea berbahan dasar gandum kuda yang biasanya disajikan segar setelah dipesan. Di Chuncheon, Provinsi Gangwon, hidangan ini tidak hanya bisa dinikmati sebagai makanan, tetapi juga sebagai pengalaman. Museum Makguksu Chuncheon mengajak pengunjung untuk membuat makguksu sendiri dari menguleni adonan hingga menyantap hasil buatan tangan mereka.
Museum Makguksu Chuncheon di Provinsi Gangwon memperkenalkan sejarah dan budaya makguksu sekaligus pengalaman langsung membuatnya.
Tanpa perlu reservasi, pengunjung dapat langsung menuju lantai dua museum dan membayar biaya pengalaman sebesar 5.000 won. Menariknya, harga ini setara dengan seporsi makguksu di restoran sekitar Chuncheon sehingga pengalaman yang ditawarkan terasa semakin bernilai. Setelah pembayaran, pengunjung diminta menyimpan barang bawaan agar lebih leluasa bergerak lalu mencuci tangan dengan bersih sebelum memulai aktivitas.
Area di Museum Makguksu Chuncheon tempat pengunjung dapat mencoba langsung membuat makguksu dari adonan hingga siap disajikan.
Tahapan pertama dimulai dengan mengenakan celemek dan menuju stasiun pencampuran adonan. Di bawah arahan instruktur, pengunjung mencampur bahan yang telah disiapkan dan mulai menguleni adonan hingga kalis. Proses ini memang membutuhkan waktu dan tenaga, tetapi justru menjadi bagian paling menyenangkan karena memberi gambaran nyata tentang kerja di balik semangkuk mi sederhana.
Penulis menguleni adonan makguksu berbahan dasar gandum kuda dengan bimbingan instruktur di Museum Makguksu Chuncheon.
Adonan makguksu sendiri dibuat dari campuran tepung gandum kuda dan tepung terigu atau pati. Semakin tinggi kandungan tepung terigu, tekstur mi akan semakin kenyal. Namun, di Provinsi Gangwon, makguksu tradisional umumnya dibuat dari 100 persen gandum kuda. Mi jenis ini dianggap paling merepresentasikan cita rasa lokal dan semangat kuliner Gangwon yang autentik.
Setelah adonan siap, tahap berikutnya adalah mencetaknya menjadi lembaran mi menggunakan alat khusus. Bagian ini menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan tenaga ekstra untuk menekan tuas cetakan. Penulis sempat kesulitan, tetapi dengan tip dari instruktur untuk memanfaatkan tekanan tubuh, proses pun berhasil dilalui hingga mi siap dimasak.
Sambil menunggu mi direbus, penulis berkeliling melihat foto-foto dan dokumentasi yang dipajang di area sekitar. Museum ini tampak populer di kalangan keluarga, terutama anak-anak. Saat kunjungan berlangsung, terlihat beberapa keluarga yang mengajak anak kecil untuk ikut mencoba. Momen paling ikonik adalah ketika anak-anak diminta menekan cetakan mi dengan menggantungkan tubuh mereka dan menarik tuas menggunakan seluruh berat badan.
Proses mencampur mi makguksu yang telah matang dengan bumbu untuk membuat bibim makguksu.
Proses memasak mi berlangsung singkat. Instruktur kemudian menanyakan pilihan bumbu dan penulis memilih bumbu merah khas bibim makguksu. Hidangan ini merupakan makguksu tanpa kuah yang dicampur saus berbasis gocujang sehingga memberikan rasa pedas dan gurih yang kuat. Setelah semua bahan dimasukkan ke dalam mangkuk, pengunjung dapat mencampurnya sendiri sebelum menyantapnya di area makan yang masih berada di lantai yang sama.
Makguksu buatan sendiri terasa berbeda. Ada kepuasan saat menyantap mi yang dibuat dengan tangan sendiri, lengkap dengan proses panjang dan usaha di baliknya. Rasa lezatnya seolah bertambah karena pengalaman yang menyertainya.
Beragam sejarah hidangan berbahan dasar gandum kuda dari berbagai negara yang diperkenalkan di Museum Makguksu Chuncheon.
Usai makan, pengunjung dapat melanjutkan eksplorasi ke lantai satu museum. Di sana sejarah makguksu dan gandum kuda di Korea dipaparkan secara informatif. Tidak hanya itu, museum juga memperkenalkan berbagai hidangan berbahan dasar gandum kuda dari berbagai negara, seperti tempura soba dari Jepang dan buckwheat galette dari Prancis.
Pameran di Museum Makguksu Chuncheon menampilkan ekosistem tanaman gandum kuda, sejarahnya di Korea, serta proses pengolahan dari metode tradisional hingga modern.
Kunjungan ke Museum Makguksu Chuncheon menghadirkan pengalaman kuliner yang berkesan dan penuh makna. Pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam bahwa makanan dapat menjadi medium untuk mengenal budaya, sejarah, dan cara hidup masyarakat setempat.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.