Seorang pakar seni ternama sekaligus profesor di Myeongji University Yu Hong-june di dalam bukunya yang berjudul Eksplorasi Warisan Leluhur Saya mengatakan, "Kita melihat sesuai dengan apa yang kita ketahui." Maksudnya adalah, seberapa pun terkenalnya suatu tempat, atau seberapa pun tidak istimewanya tempat yang kita datangi, hal itu bisa berubah tergantung dari seberapa kita tahu mengenai suatu tempat dan dari sisi mana kita melihat tempat tersebut.
Pada tahun 2022 ini, Korea.net memulai sebuah serial untuk memperkenalkan kebudayaan Korea dan tempat wisata di daerah yang belum begitu dikenal secara internasional. Kami mengajak pembaca untuk melihat dari sisi lain mengenai kisah dari suatu tempat dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Tempat wisata terkenal yang bisa kita cari informasinya di internet pun bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Kami juga berencana untuk mengunjungi tempat wisata populer yang sudah mendapatkan sorotan sebelumnya. Korea.net akan menyuguhkan permata tersembunyi Korea kepada para pembaca.
Batuan beku vulkanik Yanga-ri yang terletak di Sangju-myeon, Namhae-gun. Penduduk sekitar menyebutnya sebagai Batu Tuts Piano karena bentuknya yang menyerupai piano. (Lee Jun Young)
Pengunjung bisa melihat Gua Kura-kura dan Batu Raja Naga yang terukir di batuan beku vulkanik Yanga-ri. (Lee Jun Young)
Pengunjung bisa melihat kerja keras penduduk Namhae dalam memperluas lahan pertanian melalui petak sawah yang hanya sekecil ini. (Lee Jun Young)
Bagi penduduk pesisir Samdong-myeon, Namhae-gun, Hutan Pemecah Angin Mulgeon bukanlah sekadar hutan yang mampu memecah angin atau gelombang pasang yang datang. (Badan Wisata dan Kebudayaan Namhae)
Mari kita nikmati alam yang indah dengan santai. Hutan Pemecah Angin Mulgeon merupakan hutan buatan yang dibuat pada sekitar abad ke-17 untuk melindungi pedesaan dan persawahan dari angin dan gelombang pasang.
Terdapat sekitar 100 jenis pohon dengan sekitar 10.000 batang pohon yang ditanam mengelilingi pesisir pantai. Lokasi ini merupakan lokasi favorit pengunjung yang ingin berjalan kaki di tengah kesunyian.
Bagi penduduk pesisir Samdong-myeon, Namhae-gun, Hutan Pemecah Angin Mulgeon bukanlah sekadar hutan yang mampu memecah angin atau gelombang pasang yang datang.
Para penduduk melaksanakan sebuah ritual yang disebut Dongje pada setiap tanggal 15 bulan 10 penanggalan lunar. Ritual ini dilakukan di depan pohon Choinantus retusus yang berada di depan pintu masuk desa dan merupakan pohon tertua yang ada di sana. Saat ritual, penduduk desa memohon kedamaian, kesehatan, keamanan, dan juga tangkapan ikan yang banyak bagi penduduk desa.
Kim Jae-myung, seorang warga lokal Mulgeon-ri mengatakan, "Kami memilih dengan hati-hati tiga orang yang akan melaksanakan ritual. Merekalah yang akan mewakili warga desa dalam memohon kedamaian, kesehatan, dan keamanan bagi kami."
Ia lalu melanjutkan, "Setelah tiga orang tersebut selesai melaksanakan ritual, maka seluruh warga desa berkumpul untuk memakan makanan yang digunakan pada saat ritual. Ritual Dongje bukanlah sekadar ritual bagi kami. Kami menggunakan momen itu secara turun temurun sebagai pesta bagi seluruh masyarakat desa."
Tiga orang petugas sedang melakukan Ritual Dongjae di Mulgeon-ri, Samdong-myeon, Namhae-gun, pada tanggal 15 bulan 10 pada kalender lunar tahun lalu (19 November 2021). (Badan Wisata dan Kebudayaan Namhae)
Pernah terdengar suatu cerita bahwa pepohonan yang ada di Hutan Pemecah Angin ditebang lalu para penduduk desa mengalami kerusakan di berbagai tempat akibat badai. Oleh karena itu, para penduduk desa berjanji satu sama lain untuk memberikan denda apabila ada pohon yang ditebang. Hutan Pemecah Angin Mulgeon hidup bersama sejarah penduduk desa.
■ Hidden Charm 4 ┃ Apa yang membuat pasangan suami istri ini meninggalkan pekerjaan mereka untuk tinggal di Soeseom?
Pasangan suami istri Cho Hea-soon dan Jeong Wang-si yang mengelola kafe dan penginapan di Soeseom. Saat mereka makan di sebuah rumah makan sasyimi di Soeseom, mereka jatuh cinta kepada Soeseom sehingga membeli gedung di mana rumah makan sasyimi itu berada. (Lee Jun Young)
Pasangan suami istri Cho Hea-soon dan Jeong Wang-si mengelola kafe dan penginapan yang terletak 5 menit dari daerah Namhae-up. Mereka telah menjalani hidup perkotaan selama 30 tahun dan berencana untuk kembali ke Jeju untuk hidup di desa. Akan tetapi, saat Cho sedang berwisata ke Namhae, ia tak sengaja makan sasyimi di suatu rumah makan. Saat itu, ia jatuh cinta pada pemandangan di Soeseom.
Soeseom adalah sebuah pulau yang kecil tetapi sekarang jalannya sudah terhubung dengan semenanjung Korea. Ia mengatakan, "Setelah jatuh hati pada Soeseom, saya langsung menghubungi suami saya yang sudah kembali lebih dulu ke Jeju. Saya bilang, 'cepat kemari!' Kami lalu langsung membeli gedung rumah makan sasyimi tersebut lalu merenovasinya. Lantai satu merupakan kafe dan lantai 2-3 merupakan penginapan."
Cho lalu menambahkan. "Saya melihat Soeseom saat matahari terbit dan tenggelam. Pemandangannya terlihat berbeda setiap waktu. Saya paling menyukai suasana Soeseom yang sepi saat persis sebelum matahari terbit."
hyyoon@korea.kr
Jalan masuk ke pulau