Foto di atas menunjukkan panorama Pantai Haeundae dari BUSAN X the SKY yang merupakan salah satu destinasi wisata utama di daerah Haeundae-gu, Kota Busan. (Margareth Theresia)
Penulis: Margareth Theresia
Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 akan digelar di Busan. Korea berhasil menjadi tuan rumah untuk pertama kali setelah bergabung selama 38 tahun di Konvensi Warisan Dunia.
Korea akan menjadi pangung utama dalam diskusi terkait perlindungan warisan dunia dan kerja sama internasional. Delegasi dari 196 negara anggota Konvensi Warisan Dunia pun akan hadir di Busan.
Sidang Utama Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 akan digelar pada tanggal 19-29 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.
Sebelum sidang utama dimulai, berbagai forum dan acara budaya akan digelar pada tanggal 12-23 Juli 2026 untuk menjadi jendela pertukaran bagi para pakar dunia dengan warga setempat.
Busan yang menjadi tuan rumah sidang tersebut merupakan kota dengan sejarah panjang di Semenanjung Korea, mulai dari masa prasejarah hingga saat ini.
Kapal Joseon Tongsinsa yang menjadi alat diplomasi perdamaian antara Joseon (1392-1910) dan Jepang pun berlayar dari Busan selama sekitar 400 tahun. Tak hanya itu, Busan pun sempat menjadi ibu kota darurat selama Perang Korea (1950-1953).
Hal tersebut membuktikan peran penting bersejarah Busan bagi Korea sehingga terpilih menjadi tuan rumah Sidang Utama Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48.
Foto di atas menunjukkan Kediaman Presiden Sementara yang terletak di Seo-gu, Kota Busan. Gedung tersebut digunakan sebagai kantor dan kediaman presiden pada masa Perang Korea dan sekarang digunakan sebagai Aula Peringatan Ibu Kota Sementara. (Lee Jeong Woo)
Busan menjadi ibu kota darurat Korea selama 1.023 hari saat pemerintah pusat dan warga Korea mundur ke arah selatan Semenanjung Korea setelah Perang Korea pecah pada tanggal 25 Juni 1950.
Busan yang menjadi pusat pengelolaan negara pada saat itu, memegang berbagai peranan penting dalam berbagai bidang, seperti politik, diplomasi, ekonomi, budaya, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan.
Para pengungsi pun datang membanjiri Busan pada saat itu. Penduduk Busan yang saat itu hanya sebesar 300 ribu jiwa, menerima kedatangan pengungsi sebesar satu juta jiwa.
Para pengungsi yang tidak memiliki tempat tinggal tersebut pun akhirnya menggunakan fasilitas kandang sapi dan pemakaman umum sebagai tempat tinggal mereka.
Selain itu, mereka pun setiap hari mengunjungi Jembatan Yeongdo untuk mencari anggota keluarga mereka yang terpisah.
Jejak kepedihan masa lalu tersebut pun masih bisa dilihat di berbagai tempat di Busan walaupun sudah lebih dari 70 tahun berlalu.
Pemerintah Kota Busan pun sedang berusaha mengajukan sebelas situs terkait agar bisa diakui sebagai warisan dunia UNESCO.
Situs-situs yang disebut sebagai Situs Ibu Kota Darurat Busan pada Masa Perang Korea tersebut menunjukkan peran Busan dalam menjaga keutuhan pemerintahan dan hubungan internasional serta kehidupan para pengungsai pada masa Perang Korea.
Foto di atas menunjukkan momen saat bendera PBB sedang diturunkan dalam sebuah upacara yang digelar di Pemakaman Peringatan PBB, Nam-gu, Kota Busan. Pemakaman tersebut merupakan satu-satunya pemakaman di dunia yang didedikasikan kepada para prajurit PBB yang wafat dalam Perang Korea. (Lee Jeong Woo)
Busan pun kini telah menjadi kota pariwisata utama Korea yang banyak dicari oleh wisatawan dunia.
Menurut data Organisasi Pariwisata Korea, jumlah wisatawan asing yang mengunjungi Busan pada tahun 2025 mencapai 3,64 juta orang. Busan berhasil membuka era 3 juta wisatawan asing untuk pertama kalinya.
Tempat wisata tujuan utama para wisatawan tersebut adalah Kuil Haedong Yonggung, BEXCO, Pantai Gwangalli, dan Pantai Seongjong.
Kuil di pesisir laut serta pantai-pantainya memang menjadi tujuan wisata utama di Busan. Selain itu fasilitas pertemuan internasional Busan pun sudah berkelas dunia sehingga Busan semakin sering menjadi tuan rumah berbagai acara MICE (pertemuan, insentif, konvensi, dan pameran).
Busan pun kini bersiap untuk menyambut delegasi dunia untuk Sidang Utama Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 dengan kekayaan sejarah dan fasilitas pariwisata yang dimilikinya.
Busan sedang memperluas fasilitas seni budayanya untuk menjadi kota musik klasik berkelas dunia.. Foto di atas menunjukkan Busan Concert Hall yang baru dibuka Juni 2025. (Margareth Theresia)