Nilai total kontrak konstruksi yang berhasil dimenangkan Korea di luar negeri tahun 2025 berhasil mencapai angka 47,27 miliar dolar. Nilai tersebut merupakan nilai kontrak tahunan tertinggi setelah tahun 2014. Foto di atas menampilkan panorama PLTN Dukovany di Ceko. (KHNP)
Penulis: Margareth Theresia
Nilai total kontrak konstruksi yang berhasil dimenangkan Korea di luar negeri tahun 2025 berhasil mencapai angka 47,27 miliar dolar. Nilai tersebut merupakan nilai kontrak tahunan tertinggi setelah tahun 2014.
Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi mengumumkan hal tersebut pada tanggal 9 Januari 2026.
Kementerian mengungkapkan bahwa hasil tersebut didapat melalui penguatan pasar Eropa dan diversifikasi industri berteknologi termutakhir bernilai tambah dengan berpusat pada pembangunan pabrik dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Nilai kontrak konstruksi di luar negeri yang dimenangkan Korea mencapai 30,98 dolar pada tahun 2022, 33,31 dolar pada tahun 2023, 37,11 dolar pada tahun 2024, dan 47,27 dolar pada tahun 2025. Jumlah kontrak tersebut menunjukkan pertumbuhan selama empat tahun berturut-turut.
Eropa merupakan wilayah dengan jumlah kontrak sebesar 20,2 miliar dolar sehingga mencapai 42,6% dari keseluruhan kontrak yang dimenangkan tahun 2025. Angka tersebut bahkan meningkat empat kali lipat dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai 5,06 miliar dolar.
Korea berhasil memenangkan kontrak terutama dalam bidang pembangkit listrik, seperti proyek PLTN di Ceko, Pembangkit Listrik Tenaga Surya Dukhan di Qatar, dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap di Arab Saudi.
Kementerian menjelaskan bahwa permintaan tenaga listrik terus meningkat karena pertumbuhan industri dan ekonomi serta penguatan keamanan energi.
Proyek pembangunan PLTN Dukovany di Ceko bahkan mencapai nilai sebesar 18,72 miliar dolar sehingga menjadikan Ceko sebagai negara terbesar yang memegang pangsa proyek konstruksi Korea di tahun 2025.
Korea juga memperluas cakupan proyeknya ke bidang lingkungan, salah satunya melalui proyek besar senilai 1,37 miliar dolar untuk menangkap, mengompres, memindahkan, dan menyimpan karbon dioksida yang muncul dalam proses produksi LNG (gas alam cair).
Kementerian juga mengungkapkan bahwa Korea juga menanggapi permintaan utama dunia dan perubahan struktur industri dengan masuk ke dalam bidang pembangunan pusat data yang merupakan infrastruktur utama di era kecerdasan buatan (AI).
margareth@korea.kr