Presiden Lee Jae Myung (kanan) menggelar KTT Korea-Prancis dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, pada tanggal 3 April 2026 di Cheong Wa Dae, Jongno-gu, Seoul. (Cheong Wa Dae)
Penulis: Charles Audouin
Korea dan Prancis mempererat kerja sama dalam berbagai bidang seiring dengan kunjungan kenegaraan Presiden Emmanuel Macron ke Korea.
Presiden Lee Jae Myung dan Presiden Macron telah membuat pernyatan bersama, memperbarui tiga perjanjian, serta menandatangani sebelas nota kesepahaman.
Kerja sama dalam budaya semakin erat dalam rangka peringatan 140 tahun hubungan diplomatik antara Korea dengan Prancis.
Perpustakaan Nasional Korea dan Perpustakaan Nasional Prancis memperbarui nota kesepahaman kerja sama yang ditandatangani pada tahun 2011 untuk memperluas pertukaran ahli, kerja sama dalam proyek budaya, serta pertukaran arsip.
Dewan Film Korea (KOFIC) serta Pusat Film dan Animasi Nasional Prancis (CNC) memperluas pertukaran dalam lokakarya pembuatan film melalui jalinan kerja sama yang ditandatangani pada September 2025.
Korea pun diundang sebagai negara ketua bersama dalam pertemuan tingkat tinggi industri film dan audivisual internasional yang akan diselenggarakan di Prancis pada September 2026.
Presiden Lee dan Presiden Macron juga memiliki pandangan yang sama mengenai perlunya untuk memperbarui perjanjian kerja sama dalam bidang budaya dan teknologi antara Korea dan Prancis yang ditandatangani pada tahun 1965.
Menteri Kebudayaan Prancis, Catherine Pegard, menegaskan, "Pembaruan perjanjian kali ini akan menjadi landasan sistematis penting yang mendorong kerja sama nyata dalam industri budaya, seperti dalam bidang film, musik, webtun, e-sports, buku, dan mode."
Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, Chae Hwi-young, dan Menteri Kebudayaan Prancis, Catherine Pegard, memperhatikan Alun-alun Gwanghwamun dan Istana Gyeongbokgung sebelum berdialog pada tanggal 3 April 2026 di ruang rapat Komite Presiden untuk Pertukaran Budaya Populer yang terletak di Jongno-gu, Seoul. (Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, Heo Man-jin)
Pertukaran sumber daya manusia juga diperluas, salah satunya melalui pertukaran guru bahasa Korea dan Prancis yang akan dimulai pada paruh pertama tahun 2026.
Pemuda Korea yang dikirim ke Prancis akan memberikan kelas bahasa Korea dengan menjadi asisten guru di SMP dan SMA setempat.
Bahasa Korea telah ditetapkan sebagai mata pelajaran bahasa asing pilihan di sekolah umum serta mata pelajaran pilihan untuk ujian masuk perguruan tinggi di Prancis.
Jumlah pemelajar bahasa Korea di Prancis bahkan mencapai 1.800 orang pada tahun 2025.
Kerja sama dalam bidang mineral kritis pun diperkuat dengan peningkatan kerja sama yang selama ini dijalankan melalui kerangka kerja multilateral, seperti FORGE (Forum Kerja Sama Sumber Daya Strategis) dan Pax Silica, menjadi kerja sama bilateral.
Selain itu, Korea dan Prancis pun sepakat untuk memperkuat kerja sama secar sistematis, mengembangkan proyek bersama, memperkuat kapasitas pengelolaan mineral kritis berkelanjutan, serta memperkuat kerja sama dalam bidang penelitian dan pendidikan.
Kerja sama dalam pertumbuhan masa depan juga diperkokoh melalui penandatanganan Letters of Intent (LoI) dalam bidang kecerdasan buatan, semikonduktor, dan teknologi kuantum.
Korea dan Prancis diperkirakan akan bekerja sama semakin aktif dengan pertukaran kebijakan, perluasan pertukaran, penguatan upaya pemulihan jaringan suplai, serta kerja sama dalam penelitian dan inovasi.
Dialog Masa Depan Bidang Ekonomi Korea-Prancis digelar pada tanggal 3 April 2026 di FKI Tower, Yeongdeungpo-gu, Seoul. Dari kiri ke kanan: Ketua Federasi Industri Korea, Ryu Jin; Perdana Menteri Kim Min-seok; Presiden Prancis, Emmanuel Macron, serta CEO Air Liquide, Francois Jackow. (Lee Jeong Woo)
Kerja sama dalam bidang penelitian juga dijalin oleh Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (CNRS) dengan lembaga-lembaga penelitian utama Korea, seperti APCTP (Asia Pacific Center for Theoretical Physics), KAIST (Korea Advances Institute of Science and Technology), Universitas Nasional Seoul, dan Universitas Korea.
KAIST dan Quandella pun memperkuat kerja sama dalam membentuk rantai pasok untuk menufaktur perangkat keras kuantum serta sektor bahan, komponen, dan peralatan.
Quandella yang merupakan perusahaan komputer kuantum Prancis pun akan masuk ke Korea per tahun 2026 dan melakukan penelitian bersama dengan KAIST.
Yayasan Penelitian Nasional Korea (NRF) dan Agensi Penelitian Nasional Prancis (ANR) sepakat memperluas proyek penelitian bersama Korea-Prancis yang telah dimulai sejak tahun 2025.
Korea dan Prancis juga terus melakukan kerja sama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi setelah menandatangani perjanjian pada tahun 1981 lalu.
Kerja sama tersebut diperluas melalui pertukaran pelajar antarnegara dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sejak tahun 2018 lalu.
Selain itu, Korea dan Prancis juga sepakat untuk memperkuat kerja sama dalam bidang veteran, salah satunya melalui penghormatan untuk veteran Perang Korea (1950-1953).
Prancis mengirim 3.421 orang prajurit yang terdiri dari Angkatan Darat dan Angkatan Laut pada masa Perang Korea.
Tahun 2026 pun merupakan tahun peringatan ke-75 untuk kemenangan prajurit Prancis pada Pertempuran Chipyong-ni yang terjadi pada Februari 1951.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron (tengah), dan Ibu Negara Prancis, Brigitte Macron, bersama Menteri Urusan Patriot dan Veteran, Kwon Oh-eul, pada tanggal 2 April 2026 menyusuri Balai Peringatan Perang Korea di Seoul untuk memperingati para prajurit yang gugur pada masa Perang Korea. (Kementerian Urusan Patriot dan Veteran)