Presiden Lee Jae Myung (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sebelum penyelenggaraan KTT Korea-Prancis yang digelar pada tanggal 3 April 2026 di Cheong Wa Dae, Jongno-gu, Seoul. (Yonhap News)
Penulis: Charles Audouin
Presiden Lee Jae Myung dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menggelar KTT (konferensi tingkat tinggi) pada tanggal 3 April 206 untuk mendiskusikan kerja sama yang lebih erat dalam bidang industri termutakhir dan energi.
Presiden Prancis terakhir kali mengunjungi Korea pada tahun 2015 dan kunjungan kali ini merupakan kunjungan pertama pemimpin Eropa ke Korea setelah Presiden Lee dilantik pada Juni 2025.
Presiden Lee dan Presiden Macron sebelumnya sempat bertemu pada KTT G7 dan G20 yang digelar tahun 2025.
Dalam pernyataan bersama hari itu di Cheong Wa Dae, Presiden Lee menegaskan, "Prancis adalah sahabat yang telah menjaga Korea selama 140 tahun sejak hubungan diplomatik dijalin pertama kali tahun 1886."
Ia melanjutkan, "(Prancis) juga bersama Korea dengan mengirimkan prajurit pada Perang Korea (1950-1953) serta membantu Korea dalam proses kemajuan industri dari segi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), kereta cepat, dan bioteknologi."
Presiden Lee menambahkan, "Kini (Prancis) juga menikmati K-pop dan K-contents bersama sehingga hubungan persahabatan kepercayaan tersebut pun semakin mendalam."
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Lee dan Presiden Macron membuat pernyataan bersama, memperbarui tiga perjanjian, serta menandatangani sebelas nota kesepahaman.
Kerja sama bilateral antara Korea dan Prancis pun semakin meluas, terutama dalam bidang perdagangan, kecerdasan buatan, antariksa, energi, pertahanan, pendidikan, penelitian, budaya, veteran, serta pertukaran sumber daya manusia.
Nilai perdagangan antara Korea dan Prancis telah memecahkan rekor sebesar 15 miliar dolar untuk pertama kalinya pada tahun 2025. Oleh karena itu, keduanya sepakat untuk meningkatkan nilai tersebut hingga mencapai 20 dolar pada tahun 2030.
Untuk memperluas kerja sama dalam bidang SDM, Korea dana Prancis meningkatkan rentang usia penerbitan visa working holiday (berlibur sambil bekerja dan belajar) dari 18-30 tahun menjadi 18-35 tahun.
Presiden Lee pun mengucapkan terima kasih kepada Presiden Macron atas undangan resmi untuk Korea agar dapat menghadiri KTT G7 yang akan digelar pada bulan Juni 2026 di Evian, Prancis.
Ia mengungkapkan, ''Korea dan Prancis sepakat untuk memperkuat tanggapan bersama untuk agenda global sebagai mitra strategis global."
Terkait kerja sama pertahanan karena perang yang berkepanjangan di Timur Tengah, Presiden Lee menjelaskan, "Kami sepakat untuk berusaha bersama dalam mengurangi ketidakpastian ekonomi global dan berbagi strategi serta pengalaman dalam bidang kebijakan untuk menanggapai bersama krisis ekonomi dan energi akibat perang di Timur Tengah."
Ia menambahkan, "Dengan memperluas kerja sama dalam bidang PLTN dan pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai, Korea dan Prancis memperkuat kerja sama dalam bidang pertahanan energi sekaligus memastikan kembali tekad untuk membuka kembali pelayaran yang aman di Selat Hormuz."
Presiden Macron menjawab, "Kami merasa terkesan dengan ketulusan dan kepercayaan satu sama lain yang dapat dipastikan melalui pertemuan tersebut."
Ia melanjutkan, "Mari kita berusaha untuk terus mengembangkan hubungan bilateral yang sudah terjalin selama 140 tahun serta menjaga perdamaian dunia serta saling menghargai satu sama lain."
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, berziarah di tugu peringatan Perang Korea untuk prajurit Prancis pada tanggal 2 April 2026 di Balai Peringatan Perang Korea, Yongsan-gu, Kota Seoul. (Park Daejin)
Setelah KTT Korea-Prancis berakhir, Presiden Macron menghadiri jamuan makan siang yang digelar di Cheong Wa Dae.
Jamuan tersebut digelar untuk memperingati 140 tahun hubungan diplomatik antara Korea dengan Prancis sehingga dihadiri oleh lebih dari 140 orang tokoh dari kedua negara.
Felix Stray Kids dan Jun Ji-hyun hadir sebagai duta kehormatan untuk 140 tahun hubungan diplomatik Korea dan Prancis.
Setelah itu, Presiden Macron memberikan kuliah di Universitas Yonsei dan menghadiri dialog ekonomi Korea-Prancis. Ia kemudian menghadiri jamuan makan malam dengan tokoh dari industri budaya lalu kembali ke Prancis.
caudouin@korea.kr