Presiden Lee Jae Myung terlihat sedang melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, di Cheong Wa Dae pada tanggal 24 Maret 2026. (Cheong Wa Dae)
Penulis: Yoo Yeon Gyeong
Presiden Lee Jae Myung pada tanggal 24 Maret 2026 melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, untuk membahas langkah respons terhadap situasi di Timur Tengah.
Juru Bicara Cheong Wa Dae, Kang Yu-jung, dalam konferensi pers menyampaikan bahwa kedua pemimpin bertukar pandangan mengenai perkembangan dan prospek situasi di Timur Tengah, serta membahas dampak yang ditimbulkan kondisi saat ini terhadap ekonomi global dan keamanan energi.
Keduanya sepakat bahwa stabilisasi rantai pasok energi global menjadi prioritas utama di tengah ketidakstabilan pasokan minyak dunia.
PM Luxon menekankan pentingnya menjaga keamanan Selat Hormuz dan stabilitas pasokan energi global, mengingat Selandia Baru sepenuhnya bergantung pada impor produk minyak olahan. Ia juga mengapresiasi partisipasi kedua negara dalam pernyataan bersama terkait Selat Hormuz serta menyatakan harapan untuk memperkuat komunikasi dan kerja sama ke depan.
Presiden Lee menegaskan bahwa kerja sama antarnegara dengan pandangan serupa sangat penting untuk memulihkan perdamaian kawasan dan menstabilkan ekonomi global. Ia juga menyampaikan komitmen untuk terus mempererat kerja sama antara Korea dan Selandia Baru.
dusrud21@korea.kr