Kebijakan

2025.12.18

Rapat laporan kerja Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan yang dipimpin oleh Presiden Lee Jae Myung, digelar pada tanggal 17 Desember 2025 di Sejong Convention Center, Kompleks Pemerintahan Sejong. (Kantor Kepresidenan Republik Korea)

Rapat laporan kerja Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan yang dipimpin oleh Presiden Lee Jae Myung, digelar pada tanggal 17 Desember 2025 di Sejong Convention Center, Kompleks Pemerintahan Sejong. (Kantor Kepresidenan Republik Korea)



Penulis: Xu Aiying

Korea akan membangun sistem tenaga listrik berbasis energi terbarukan yang mampu memasok 100 GW energi terbarukan pada tahun 2030.

Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan memaparkan rencana kerja tahun 2026 kepada Presiden Lee Jae Myung pada tanggal 17 Desember 2025 di Kompleks Pemerintahan Sejong.

Kementerian tersebut mengumumkan dua strategi utama, yaitu transisi hijau berskala besar untuk menjadi peradaban yang rendah karbon serta pembangunan lingkungan tata ruang nasional berkelanjutan dengan mengedepankan koeksistensi antara alam dan manusia.

Kementerian telah menetapkan target menuju peradaban yang melakukan dekarbonisasi melalui Target Kontribusi Nasional (NDC) gas rumah kaca tahun 2030.

Salah satu jalan untuk menuju peradaban rendah karbon adalah suplai hingga 100 GW energi terbarukan pada tahun 2030.

Untuk memperbaiki undang-undang jarak penyangga pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), Korea akan merevisi peraturan perundang-undangan terkait.

Selain itu, Korea juga menetapkan undang-undang khusus guna mengaktifkan pemanfaatan PLTS terintegrasi dengan kegiatan pertanian dan memperluas penerapannya.

Korea juga berencana untuk menyuplai 25 GW listrik dengan tenaga angin, yaitu 12 GW menggunakan angin darat dan 25 GW menggunakan angin lepas pantai.

Pemerintah akan merasionalisasi regulasi dengan mengizinkan penggunaan data potensi angin dari Badan Administrasi Meteorologi Korea sebagai pengganti pemasangan alat pengukur angin pada tahap perizinan proyek pembangkit listik.

Tak hanya itu, Korea juga berencana akan membangun sistem dukungan terpadu lintas kementerian untuk memberikan pendampingan perizinan secara intensif.

Pihak kementerian juga akan mendorong dukungan pengembangan dan demonstrasi teknologi generasi berikutnya, seperti modul surya tandem dan turbin berskala ultrabesar berkapasitas 20 MW atau lebih.

Pengembangan teknologi tersebut akan didukung dengan komersialisasi dini agar mampu merebut peluang dan memimpin pasar internasional.

Dalam menyambut era energi terbarukan, pemerintah akan membangun jalur cepat yang selaras.

Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, jaringan listrik akan dioperasikan secara cerdas dan penerimaan energi terbarukan akan ditingkatkan melalui perluasan pemanfaatan sistem penyimpanan energi berkapasitas 2,3 GW dan pengaktifan pembangkit listrik virtual.

Korea berencana agar mampu mencapai target NDC melalui kerja sama industri dan lompatan besar dalam bidang ekonomi.

Untuk mencapai komersialisasi dini dalam bidang teknologi baru dekarbonisasi, teknologi dalam bidang netralitas karbon dikembangkan dalam berbagai bidang, seperti tenaga listrik bersih, bahan bakar, dan infrastruktur.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan mendukung perusahaan-perusahaan unicorn inovatif melalui pendanaan tahap awal dan layanan konsultasi kewirausahaan serta dukungan program inovasi terbuka dan penyediaan peralatan uji coba untuk keperluan demonstrasi.

Salah satu inovasi lain yang akan dilaksanakan adalah pembangunan ekonomi sirkular bebas plastik yang tidak bergantung pada penambangan bahan baku maupun pembuangan limbah.

Selain itu, Korea juga akan memperkenalkan skema sertifikasi bahan baku daur ulang ala Korea serta mendorong pengakuan sertifikasi tersebut dari negara-negara utama di dunia agar perusahaan-perusahaan Korea tidak terbeban untuk melakukan ekspor.


xuaiy@korea.kr

konten yang terkait