Presiden Yoon Suk Yeol terlihat sedang memimpin rapat kabinet pada tanggal 15 Oktober 2024 di Kantor Kepresidenan Republik Korea, Yongsan-gu, Seoul. (Kantor Kepresidenan Republik Korea)
Penulis: Park Hye Ri
Presiden Yoon Suk Yeol menelepon Sekretaris Jenderal NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) Mark Rutte untuk berbagi informasi terkait pengiriman pasukan Korea Utara ke Rusia serta membahas rencana tanggapan ke depannya.
Menurut Kantor Kepresidenan Republik Korea, dalam sambungan telepon tersebut, Presiden Yoon berkata, "Invasi Rusia ke Ukraina serta hubungan militer yang sembrono antara Korea dengan Korea Utara telah mengguncang tatanan internasional yang berdasar pada norma-norma yang berlaku. Hal ini dapat mengancam perdamaian Semenanjung Korea dan dunia."
Presiden Yoon melanjutkan, "Pemerintah Republik Korea akan mengamati secara khusus mengenai terkait gerakan Rusia dan Korut serta akan bertindak aktif secara bertahap terkait perkembangan kerja sama militer antara Rusia dan Korut. Kami berharap bisa mencari langkah tanggapan nyata dalam proses ini bersama negara-negara anggota NATO."
Sekjen Rutte mengungkapkan keprihatinannya terhadap pengiriman pasukan Korut ke Eusia karena hal tersebut telah melanggar Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa dan hukum internasional.
Sekjen Rutte menekankan, "NATO siap bekerja sama aktif dengan Korea untuk menanggapi kerja sama militer antara Rusia dan Korut yang telah mengancam perdamaian dan keamanan dunia."
Sekjen Rutte kemudian meminta kepada pemerintah Korea untuk mengirimkan tim perwakilan pemerintah ke NATO untuk berbagi informasi detail terkait hal tersebut.
"Kami berharap bisa mempererat kerja sama dan dialog terkait pertahanan antara Korea, Ukraina, dan NATO untuk bisa menanggapi pengiriman pasukan Korut ke Rusia," ungkap Sekjen Rutte.
Presiden Yoon menjawab, "Kami berharap bisa berbagi informasi dengan aman dan efektif serta berkomunikasi dalam waktu nyata dengan NATO melalui percepatan pendaftaran Korea ke dalam BICES (Sistem Pengumpulan dan Penggunaan Informasi Medan Perang) milik NATO."
Sekjen Rutte kemudian menjawab, "Kami akan berusaha untuk mewujudkan hal tersebut secepat mungkin."
Kedua belah pihak sepakat untuk meninjau tanggapan bersama yang nyata dan melakukan pengamatan secara aktif terkait arah kerja sama Korut dan Rusia yang ilegal, termasuk kemungkinan pemindahtanganan teknologi sensitif Rusia.
Presiden Yoon kemudian memberikan selamat kepada Rutte yang menjabat sebagai sekjen NATO sejak tanggal 1 Oktober 2024.
Presiden Yoon menambahkan, "Kami berharap Korea dan NATO dapat bekerja sama erat ke depannya agar bisa berkontribusi bersama terhadap keamanan Asia-Pasifik dan Atlantik."
hrhr@korea.kr