Tim peneliti UNIST (Ulsan National Institute of Science and Technology) mengungkapkan pada tanggal 12 Januari 2026 bahwa pihaknya telah mengembangkan alat yang mampu mendesalinasi air laut dengan cahaya matahari. Foto di atas menunjukkan struktur desalinasi sistem tersebut. (UNIST)
Penulis: Charles Audouin
Peneliti Korea telah mengembangkan teknologi yang mampu mengubah air laut menjadi air tawar hanya dengan bantuan cahaya matahari.
Tim peneliti UNIST (Ulsan National Institute of Science and Technology) mengungkapkan pada tanggal 12 Januari 2026 bahwa pihaknya telah mengembangkan alat yang mampu mendesalinasi air laut dengan cahaya matahari.
Alat tersebut mampu menguapkan air hingga 4,1 kilogram air per meter persegi per jam hanya dengan cahaya matahari biasa. Kecepatan tersebut tujuh kali lebih cepat dibanding penguapan air laut secara alami.
Penelitian ini memperkenalkan CuMnCrO₄, yaitu material oksida logam dengan tiga unsur utama berupa tembaga, mangan, dan kromium. Material ini belum pernah digunakan sebelumnya dalam teknologi desalinasi tenaga surya.
Material tersebut memiliki tiga keunggulan, yaitu mampu menyerap cahaya matahari lebih luas, mengubah cahaya matahari menjadi panas dengan efisien, dan lebih stabil dibanding material berbasis karbon yang umum dipakai sebelumnya.
Masalah umum dalam desalinasi adalah pemupukan garam yang membuat sistem cepat rusak. Akan tetapi, solusi unik dalam penelitian tersebut adalah pemasangan material pada kain katun, penambahan strip poliester yang bersifat menolak air, dan penyusunan dalam bentuk U terbalik.
Hasil yang dapat dicapai dari solusi tersebut adalah air laut dapat terus mengalir ke area pemanasan, garam terpisah sehingga tidak menumpuk, dan sistem bisa bekerja dengan stabil.
Jurnal yang memuat hasil penelitian tersebut telah dirilis secara daring pada tanggl 16 Desember 2025 dalam Advanced Materials.
caudouin@korea.kr