Tokoh

2026.01.14

Kepala Program Artistik Theatre de la Ville Paris, Claire Verlet, menerima undangan wawancara dari Korea.net pada tanggal 11 Desember 2025 di sebuah hotel yang terletak di Kota Seoul. (Lee Jeong Woo)

Kepala Program Artistik Theatre de la Ville Paris, Claire Verlet, menerima undangan wawancara dari Korea.net pada tanggal 11 Desember 2025 di sebuah hotel yang terletak di Kota Seoul. (Lee Jeong Woo)



Penulis: Charles Audouin
Video: Theatre de la Ville Paris

Kepala Program Artistik Theatre de la Ville Paris, Claire Verlet, mengunjungi Korea pada Desember 2025 melalui program K-Fellowship.

Program tersebut merupakan program unggulan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata untuk mengundang tokoh-tokoh penting dalam bidang seni budaya dari berbagai negara.

Claire merupakan pakar dalam bidang tari yang telah berkecimpung selama lebih dari sepuluh tahun dalam dunia tersebut. Ia merupakan salah satu dari 200-an orang tokoh yang telah berkunjung ke Korea dalam 17 tahun terakhir melalui program K-Fellowship.

Claire mendiskusikan arah untuk memperluas pertukaran antar lembaga seni di Korea dan Prancis dengan para koreografer, penari, dan pejabat terkait saat berkunjung ke berbagai tempat pertunjukan di Korea.

Ia juga hadir dalam gladi bersih pertunjukan tari di Teater Nasional Korea dan Sejong Center sehingga bisa melihat langsung dunia pertunjukan tari Korea.

Claire sempat bergabung dalam lebih dari sepuluh proyek dalam bidang tari, teater, dan musik dalam peringatan 130 tahun hubungan diplomatik antara Korea dan Prancis pada tahun 2016.

Saat itu kompetisi tari internasional bernama Danse Elargie bahkan digelar secara bersamaan di Paris dan Seoul pada tahun 2016 sehingga membuat para seniman baru Korea bisa melebarkan sayap mereka ke panggung dunia.

12 tim dari 34 tim yang masuk ke babak final bahkan merupakan tim yang berasal dari Korea sehingga berhasil membuktikan keunggulan dunia tari Korea.

Dalam wawancara dengan Koreanet pada Desember 2025, Claire mengungkapkan bahwa seni merupakan 'tanda tangan' yang unik, bukan hanya sekadar imitasi.

Ia berkata, "Setiap gerakan tubuh memiliki maknanya sendiri, tetapi Theatre de la Ville Paris tidak mengejar tiruan dari gerakan belaka."

Claire menjelaskan, "Kami justru mencari sosok yang mampu keluar dari kerangka yang sudah ada dan menciptakan sesuatu yang khas miliknya sendiri, khususnya mereka yang memiliki kepribadian kreatif serta mampu merangkul daya tarik negaranya dan tradisi budayanya."

Ia menambahkan, "Hal itu seperti tanda tangan seorang pelukis dalam lukisannya."

'Tanda tangan' terbaik yang ia pilih adalah Koreografer Eun-Me Ahn. Ia menuturkan, "Ahn merupakan seniman yang sungguh unik dengan energi yang menular dan penuh vitalitas."

Claire melanjutkan, "Kostum yang ia ciptakan selalu menarik perhatian dan panggung yang ia hadirkan pun terasa fantastis."

An telah menampilkan karya terbarunya yang berjudul Post Orientalist Express pada November 2025 di Theatre de la Ville Paris dan turnya akan terus berlanjut hingga Maret 2026.



Koreografer Lee Yanghee menjadi perhatian utama Claire dalam kunjungannya ke Korea kali ini. Lee memulai dan mengembangkan kariernya melalui sinmuyeong, yaitu aliran tari modern yang berkembang pesat di Korea dari tahun 1920-an hingga 1970-an. Ia lalu berkarier di New York sambil membawa akar sinmuyeong untuk menjajaki bentuk-bentuk ekspresi baru.

Claire mengungkapkan, "Meninggalkan lingkungan yang nyaman untuk mencoba cara baru merupakan pilihan yang memerlukan keberanian besar."

Ia menambahkan, "Saya menantikan bagaimana keunikan yang tumbuh dari proses tersebut dapat disampaikan di atas panggung."

Claire pun mencari inspirasi di luar panggung pertunjukan, salah satunya melalui kerajinan tangan di Kampung Hanok Eunpyeong. Di sana semua terasa baru baginya sehingga ia mencari barang-barang yang sudah tua dan usang.

Ia juga memperhatikan berbagai karya seni eksperimental Korea yang berada di Museum Seni Modern dan Kontemporer Nasional.

Claire menilai, "Dalam kerangka pendidikan yang ketat dan sarat norma, para seniman ini tetap berpegang pada landasan budaya mereka sembari menggali bahasa ekspresi baru yang menjadi pendekatan yang terasa berlawanan, tetapi terasa kuat.

Ia pun mengungkapkan bahwa ia tidak pernah melewatkan kunjungan ke museum dan penggunaan transportasi umum pada setiap kunjungan wisatanya karena itulah cara untuk memahami budaya suatu negara.

Akan tetapi, Claire mengungkapkan bahwa ia tidak menggunakan transportasi umum dalam kunjungannya ke Korea.


caudouin@korea.kr

konten yang terkait