Foto di atas menunjukkan panorama Pantai Haeundae dari BUSAN X the SKY yang merupakan salah satu destinasi wisata utama di daerah Haeundae-gu, Kota Busan. (Margareth Theresia)
Huh Min
Kepala Layanan Warisan Korea
Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO akan dibuka pada tanggal 19 April 2026 di Busan, Republik Korea.
Sidang tersebut akan menjadi ruang untuk mendiskusikan warisan dengan nilai-nilai universal yang harus dilindungi dan dikembangkan bersama oleh seluruh umat manusia.
Sidang tersebut merupakan panggung bersejarah karena Korea menjadi tuan rumah Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO untuk pertama kalinya setelah bergabung di Konvensi Warisan Dunia pada tahun 1988.
Korea merupakan sebuah negara yang dahulu menerima bantuan kemanusiaan internasional, tetapi kini berkembang menjadi negara yang memimpin dari segi budaya.
Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO di Busan akan menjadi kesempatan terbaik untuk mengukir nama K-Heritage yang menjadi tonggak baru kebijakan warisan nasional Korea.
17 warisan budaya dan alam Korea telah tercatat sebagai warisan dunia UNESCO semenjak Korea bergabung dalam Konvensi Warisan Dunia pada tahun 1988. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dimiliki Korea pun diakui dunia.
Kuil Seokguram/Bulguksa serta Janggyeong Panjeon di Kuil Haeinsa diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dari Korea pertama pada tahun 1995. Selain itu, Pulau Vulkanik dan Pipa Lahar Jeju merupakan warisan alam Korea pertama yang diakui dunia pada tahun 2007.
Warisan terbaru yang diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO adalah Petroglif Bangudae. Warisan yang diakui pada tahun 2025 tersebut merupakan harta bersama umat manusia yang menghadirkan gambaran hidup tentang kehidupan dan cara berpikir manusia prasejarah.
Warisan Korea yang menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO telah membuktikan bahwa warisan tersebut telah hidup berdampingan dengan alam dan manusia serta menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Busan yang menjadi tuan rumah Sidang Utama Komite Warisan Dunia UNESCO pun memiliki simbol yang sangat penting.
Busan menjadi ibu kota darurat Korea selama 1.023 hari saat pemerintah pusat dan warga Korea mundur ke arah selatan Semenanjung Korea setelah Perang Korea pecah pada tanggal 25 Juni 1950.
Pemerintah Kota Busan pun sedang berusaha mengajukan sebelas situs terkait agar bisa diakui sebagai warisan dunia UNESCO dan situs tersebut kini sudah masuk ke dalam Daftar Sementara Warisan Dunia UNESCO.
Situs Ibu Kota Darurat Busan pada Masa Perang Korea menyimpan jejak keteguhan umat manusia yang tetap menjaga martabat dan harapan meski berada dalam penderitaan yang begitu ekstrem.
Busan yang berhasil mencapai pemulihan dan pertumbuhan ekonomi gemilang berkat bantuan masyarakat internasional di atas puing-puing perang, kini bertansformasi menjadi ruang solidaritas internasional tempat para pakar warisan dunia berkumpul untuk berdiskusi.
Jejak perjalanan Busan dalam mengatasi kesulitan serta mewujudkan pemulihan dan kemakmuran sejalan dengan nilai perdamaian dan hidup berdampingan yang dijunjung oleh UNESCO.
Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO yang baru pertama kali diselenggarakan di Korea tersebut akan menjadi momen penting yang mampu mendorong kepemimpinan Korea selangkah lebih maju di panggung internasional.
Penunjukkan Korea sebagai tuan rumah dan pemimpin sidang untuk pertama kali merupakan pengakuan bahwa Korea mampu memimpin pemeliharaan dan pengelolaan warisan dunia, bukan hanya sekadar menjadi negara yang memiliki banyak warisan dunia.
Selain itu, Korea menantikan penyelenggaraan sidang komite kali ini karena penetapan
getbol tahap kedua sebagai warisan dunia UNESCO akan diumumkan dalam sidang kali ini.
Empat dataran lumpur di Korea telah ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2021 dengan nama 'Getbol, Dataran Lumpur Korea'. Dalam pengajuan
getbol tahap kedua sebagai warisan dunia, Korea menambahkan Muan Getbol, Goheung Getbol, Yeosu Getbol, dan Seosan Getbol untuk perluasan warisan 'Getbol, Dataran Lumpur Korea'.
Apabila pengajuan perluasan warisan Getbol, Dataran Lumpur Korea disetujui dalam sidang, hal tersebut membuktikan bahwa keanekaragaman hayati di dataran lumpur Korea sekali lagi mendapatkan pengakuan dunia.
Selain itu, Republik Korea juga tengah menyiapkan pengesahan Deklarasi Busan sebagai upaya untuk menerobos berbagai krisis kompleks yang dihadapi warisan dunia dan menawarkan visi masa depan bagi arah kebijakan warisan global.
Warisan dunia pada masa kini tengah menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya, mulai dari kerusakan akibat perubahan iklim hingga kehancuran yang disebabkan oleh konflik bersenjata.
Untuk mengatasi hal tersebut, Korea akan menegaskan mengenai pentingnya solidaritas internasional melalui kolaborasi, di luar dari lima tujuan strategis UNESCO, yaitu kredibilitas, pelestarian, penguatan kapasitas, komunikasi, dan komunitas.
Deklarasi tersebut juga akan memuat isu etika dan tanggung jawab pada era transformasi digital untuk pertama kalinya di bidang warisan dunia.
Oleh karena itu, deklarasi tersebut hendak membuka diskusi praktis mengenai cara menjaga keaslian warisan di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
Deklarasi Busan diharapkan tidak sekadar menjadi pencapaian dari sebuah penyelenggaraan acara, tetapi juga berkembang menjadi tonggak penting di bidang warisan dunia yang terus diperbincangkan di tingkat internasional.
Oleh karena itu, Layanan Warisan Korea sedang menggodok berbagai proyek lanjutan serta menggelar Forum Busan.
Berangkat dari Deklarasi Busan, Republik Korea akan terus menampilkan kepemimpinan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab dalam diplomasi budaya global.
Salah satu sorotan utama lain dalam Sidang Utama Komite Warisan Dunia UNESCO kali ini adalah K-Heritage House yang akan dibangun seluas dua kali lapangan sepak bola.
Paviliun tersebut tidak akan menjadi ruang yang dibuka hanya untuk peserta asing saja, tetapi juga bagi warga Korea dan siapa pun yang hadir dalam sidang.
K-Heritage House akan menjadi ruang aktivitas konten budaya Korea yang memadukan warisan budaya dunia, warisan budaya takbenda, dan warisan memori Korea di satu tempat.
Ruang tersebut akan mengajak para pengunjung untuk mengetahui lebih dalam mengenai K-Heritage yang merupakan akar dari K-Culture yang kini mendunia.
Paduan dari budaya tradisional dan teknologi termutakhir akan menyambut pengunjung di K-Heritage House.
Warisan dunia bukan hanya sekadar menjadi artefak dari masa lalu, melainkan merupakan aset umat manusia yang diwariskan bagi generasi berikutnya.
Pesan K-Heritage yang disampaikan di Busan akan disampaikan kepada seluruh dunia dan menjadi tonggak untuk mengokohkan posisi Korea di dunia sebagai negara dengan kekuatan budayanya.
Melalui keberhasilan penyelenggaraan Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48, Republik Korea diharapkan dapat berdiri tegak sebagai pemimpin global sejati yang membuka arah masa depan Konvensi Warisan Dunia.
Huh Min menjabat sebagai Kepala Layanan Warisan Korea sejak Juli 2025.