Wartawan Kehormatan

2026.08.18

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Foto: Maulia Resta Mardaningtias

Pada Jumat (14/08/2026), penulis berkesempatan mengikuti Kuliah Umum Semantik dan Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi yang diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI).

Kuliah umum ini mengajak masyarakat mengenal lebih jauh bahasa Korea, khususnya bagaimana ungkapan negasi dapat dipahami dari sisi bentuk, makna, dan penggunaannya.

Acara ini menghadirkan Usmi, dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, sebagai pemateri.

Suasana Aula Multifungsi KCCI beberapa saat sebelum dimulainya Kuliah Umum Semantik dan Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi pada hari Jumat (14/08/2026).

Suasana Aula Multifungsi KCCI beberapa saat sebelum dimulainya Kuliah Umum Semantik dan Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi pada Jumat (14/08/2026).


Kuliah umum tersebut dihadiri peserta dari berbagai latar belakang pendidikan, tidak hanya mahasiswa yang mempelajari bahasa Korea.

Oleh karena itu, istilah semantik dan pragmatik yang menjadi landasan pembahasan diperkenalkan terlebih dahulu agar materi dapat diikuti oleh peserta dengan beragam tingkat pemahaman bahasa Korea.

Usmi menjelaskan kedua konsep tersebut dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami.

Semantik mengkaji makna bahasa berdasarkan unsur-unsur kebahasaan, sedangkan pragmatik mengkaji makna bahasa berdasarkan konteks penggunaannya, termasuk maksud penutur, situasi tutur, serta hubungan antara penutur dan mitra tutur.

Potret Usmi, dosen Bahasa dan Kebudayaan Korea dari Departemen Linguistik Universitas Indonesia, saat sedang menjelaskan dua konsep dasar semantik dan pragmatik pada hari Jumat (14/08/2026) di KCCI, Jakarta.

Usmi, dosen Bahasa dan Kebudayaan Korea dari Departemen Linguistik Universitas Indonesia, saat sedang menjelaskan dua konsep dasar semantik dan pragmatik pada Jumat (14/08/2026) di KCCI, Jakarta.


Setelah peserta memahami konsep dasar semantik dan pragmatik, pembahasan berlanjut pada berbagai bentuk ungkapan negasi dalam bahasa Korea.

Dalam bahasa Korea, negasi dapat diungkapkan melalui beberapa bentuk, yaitu negasi pendek, negasi panjang, dan negasi leksikal.

Pada negasi pendek, penanda yang umum digunakan adalah 'an' dan 'mot'. 'An' pada dasarnya menyatakan makna 'tidak', sedangkan 'mot' digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu tindakan tidak dapat dilakukan karena adanya keterbatasan atau keadaan tertentu.

Sementara itu, negasi panjang antara lain dibentuk dengan '-ji anta' dan '-ji mothada'. Perbedaan negasi pendek dan panjang terutama terletak pada cara pembentukannya, bukan pada tingkat formalitasnya.

Pemilihan kedua bentuk tersebut dapat disesuaikan dengan struktur kalimat dan konteks penggunaannya.

Selain itu, bahasa Korea juga mengenal negasi leksikal, seperti 'anida' untuk menyatakan 'bukan' dan 'eopda' untuk menyatakan 'tidak ada' atau 'tidak memiliki'.

Potret catatan salah satu dari banyak peserta yang mencatat materi dalam Kuliah Umum Semantik dan Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi pada hari Jumat (14/08/2026) di KCCI, Jakarta.

Catatan salah satu dari banyak peserta yang mencatat materi dalam Kuliah Umum Semantik dan Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi pada Jumat (14/08/2026) di KCCI, Jakarta.


Setelah membahas bentuk, materi beralih pada makna negasi dari perspektif semantis. Pada bagian ini, peserta diajak memahami bahwa ungkapan negasi tidak cukup dikenali berdasarkan bentuk gramatikalnya karena bentuk yang digunakan juga berkaitan dengan makna yang hendak disampaikan.

Berdasarkan maknanya, negasi diperkenalkan melalui beberapa kategori, meliputi negasi faktual, negasi kehendak atau intensional, negasi kemampuan, negasi identitas, negasi eksistensi dan kepemilikan, serta negasi larangan.

Pada negasi faktual, bentuk pendek dan panjang dalam konteks tertentu dapat menyampaikan makna dasar yang serupa, yaitu menyangkal atau meniadakan suatu keadaan maupun tindakan, meskipun keduanya tidak selalu dapat saling menggantikan.

Sementara itu, negasi kehendak atau intensional menyatakan tidak dilakukannya suatu tindakan yang berkaitan dengan kehendak atau niat penutur.

Makna ini dapat dikenali melalui penanda kebahasaan lain yang muncul dalam kalimat serta konteks penggunaannya.

Potret layar proyektor yang menayangkan contoh penggunaan negasi bahasa Korea dalam mengelola sikap dan hubungan interpersonal dalam Kuliah Umum Semantik dan Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi pada hari Jumat (14/08/2026) di KCCI, Jakarta.

Layar proyektor menayangkan contoh penggunaan negasi bahasa Korea dalam mengelola sikap dan hubungan interpersonal dalam Kuliah Umum Semantik dan Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi pada Jumat (14/08/2026) di KCCI, Jakarta.


Pembahasan selanjutnya beralih pada penggunaan negasi dari perspektif pragmatik. Peserta diajak memahami bahwa ungkapan negasi tidak hanya menyatakan makna 'tidak', tetapi juga dapat menjalankan berbagai fungsi komunikasi bergantung pada konteks penggunaannya.

Dalam interaksi sehari-hari, negasi dapat digunakan untuk merespons informasi, misalnya dengan menyangkal, mengoreksi, atau mengontraskan informasi; menolak tawaran atau ajakan; mengarahkan tindakan melalui larangan atau peringatan; mengelola sikap dan hubungan interpersonal; serta mengelola bahasa dan jalannya percakapan.

Dengan demikian, bentuk yang secara gramatikal sama tidak selalu menjalankan fungsi komunikasi yang sama.

Maksud yang disampaikan dapat berbeda bergantung pada situasi, hubungan antara penutur dan mitra tutur, serta konteks percakapan.

Potret layar proyektor yang menampakkan contoh penggunaan fungsi pragmatis negasi bahasa Korea dalam mengelola jalannya percakapan dalam Kuliah Umum Semantik dan Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi pada hari Jumat (14/08/2026) di KCCI, Jakarta.

Layar proyektor  menampakkan contoh penggunaan fungsi pragmatis negasi bahasa Korea dalam mengelola jalannya percakapan dalam Kuliah Umum Semantik dan Pragmatik Bahasa Korea: Memahami Ungkapan Negasi pada hari Jumat (14/08/2026) di KCCI, Jakarta.


Menutup sesi penjelasan, pemateri merangkum pesan utama kuliah umum. Salah satu hal yang ditekankan adalah bahwa ungkapan negasi dalam bahasa Korea jauh lebih luas daripada sekadar 'an' yang kerap dipadankan dengan 'tidak' atau 'mot' yang sering dipahami sebagai 'tidak bisa'.

Setiap penanda negasi memiliki karakteristik dan batasan penggunaan masing-masing. Bentuk yang sama pun dapat berkaitan dengan makna dan fungsi komunikasi yang berbeda sesuai dengan konteks penggunaannya.

Oleh karena itu, memahami negasi bahasa Korea tidak cukup dengan menghafal bentuk atau padanan katanya. Konteks berperan penting dalam memahami maksud penutur.

Dengan kata lain, menguasai ungkapan negasi berarti memahami keterkaitan antara bentuk, makna, dan penggunaannya dalam situasi komunikasi nyata.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait