Wartawan Kehormatan

2026.08.11

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Amanda Larasati dari Indonesia
Foto: Santi Manda Sari

Santi Manda Sari merupakan guru bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Lhokseumawe, Provinsi Aceh. Dari tanggal 1 Agustus hingga 19 November 2025, ia mengikuti Program Pertukaran Guru Indonesia-Korea (IKTE) 2025 di Korea. Santi mengajar di SD Yongnam yang berlokasi di Changwon, Provinsi Gyeongsangnam, Korea.

Penulis mewawancarai Santi melalui aplikasi Zoom pada tanggal 5 Juli 2026 untuk mengetahui pengalaman Santi ketika mengajar di Korea serta dampak IKTE bagi diplomasi pendidikan dan budaya Korea-Indonesia.

Santi berfoto bersama siswa-siswanya yang mengenakan pakaian tradisional Aceh setelah mengajarkan gerakan tari tradisional Aceh, tari Ratoh Jaroe, pada tanggal 14 November 2025 di SD Yongnam, Changwon, Provinsi Gyeongsangnam, Korea.

Santi berfoto bersama siswa-siswanya yang mengenakan pakaian tradisional Aceh setelah mengajarkan gerakan tari tradisional Aceh, tari Ratoh Jaroe, pada tanggal 14 November 2025 di SD Yongnam, Changwon, Provinsi Gyeongsangnam, Korea.


- Mohon perkenalkan diri Anda.

Saya adalah Santi Manda Sari yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris di SMP Negeri 3 Lhokseumawe, Provinsi Aceh.

- Bagaimana proses Anda mengikuti IKTE 2025?

Pertama kali saya mendengar informasi mengenai IKTE pada tahun 2017, tetapi saat itu Provinsi Aceh tidak termasuk dalam provinsi sasaran. Seiring berjalannya waktu saya mulai mempersiapkan diri, seperti meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, mengikuti lomba inovasi, dan mempelajari kesenian tradisional Aceh. Kemudian pada tahun 2025, saya mendapatkan informasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe bahwa pendaftaran IKTE dibuka untuk guru dari Provinsi Aceh. Ketika seluruh persyaratan saya sudah lengkap, saya langsung mendaftar saat itu.

- Apa motivasi Anda mengikuti IKTE 2025?

Motivasi saya mengikuti IKTE adalah untuk memahami pendidikan di Korea. Dengan berpartisipasi dalam IKTE, saya dapat memahami bagaimana pendidikan di Korea berlangsung dan langkah-langkah mengajar. Selain itu, Korea memiliki kualitas pendidikan yang baik. Melalui program ini, saya ingin memberikan dampak bagi sekolah tempat saya mengajar dan lingkungan sekitar saya.

- Kegiatan apa saja yang Anda ikuti selama IKTE 2025?

Selama mengikuti IKTE 2025, saya mengajar siswa kelas 4,5, dan 6 di SD Yongnam di Changwon, Provinsi Gyeongsangnam. Mata pelajaran yang saya ajar meliputi bahasa Inggris, sains, hingga seni budaya Aceh, serta mata pelajaran lain yang diminta guru mentor saya. Saya juga belajar bagaimana mengelola kelas dengan baik selama mengajar di sana. Selain mengajar, saya juga pernah mengunjungi pameran pendidikan di Changwon hingga menghadiri kegiatan guru-guru SD Yongnam seperti bermain voli bersama.

- Budaya Indonesia apa yang Anda kenalkan kepada siswa Korea?

Pertama kali saya masuk ke kelas, saya memakai baju tradisional Aceh dan membawa rapai. Rapai adalah alat musik tradisional Aceh yang dimainkan dengan cara ditabuh. Saya memperkenalkan rapai kepada siswa di SD Yongnam. Siswa-siswa saya di sana sangat antusias belajar memainkan rapai hingga belajar gerakan tari Ratoh Jaroe. Bahkan yang paling berkesan adalah kegiatan budaya ini diliput oleh media lokal di Provinsi Gyeongsangnam. Saya juga memberikan informasi tentang Aceh seperti makanan dan tari tradisional Aceh melalui presentasi.

Santi mengenalkan rapai yang merupakan alat musik tradisional Aceh Korea pada tanggal 23 September 2025 kepada siswa-siswa di SD Yongnam, Changwon, Provinsi Gyeongsangnam.

Santi mengenalkan rapai yang merupakan alat musik tradisional Aceh Korea pada tanggal 23 September 2025 kepada siswa-siswa di SD Yongnam, Changwon, Provinsi Gyeongsangnam.


- Apa pengalaman berkesan Anda selama mengajar di Korea?

Saya sangat terkesan dengan keramahan masyarakat Korea. Siswa dan guru di sana sangat sopan dan menghargai saya. Masyarakat Korea di sekitar tempat tinggal saya juga selalu membantu saya ketika saya membutuhkan bantuan. Selain itu, guru-guru di Korea sangat berdedikasi tinggi dalam mengajar. Hal ini terlihat dari persiapan mengajar yang lengkap dan terstruktur.

- Bagaimana IKTE berpengaruh terhadap wawasan Anda tentang Korea?

Saya banyak belajar tentang budaya Korea melalui kunjungan ke berbagai festival dan tempat-tempat bersejarah di Korea selama program ini. Saya juga sempat berkunjung ke Kota Gyeongju yang terkenal dengan tempat-tempat bersejarahnya. Di sana saya mengunjungi makam raja dan berbagai museum sejarah.

260811_Aceh_3

Selain mengajar, Santi juga mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Korea misalnya ia berkunjung ke Jembatan Woljeonggyo sambil memakai hanbok (kiri) dan Makam Geumgwanchong (kanan) di Kota Gyeongju pada tanggal 5 Oktober 2025.


- Bagaimana perbedaan sistem belajar mengajar di Korea dan Indonesia?

Biasanya 1 jam pelajaran di SD Korea berlangsung selama 40 menit. Sebelum beralih ke pelajaran selanjutnya, ada istirahat selama 10 menit. Di Indonesia, tidak ada jeda sebelum ke pelajaran selanjutnya. Siswa-siswa di Korea dapat memanfaatkan waktu istirahat ini untuk bermain sehingga mereka dapat lebih fokus ketika kembali belajar. Di kelas SD Korea juga disediakan banyak mainan. Selain itu alih-alih mengajarkan materi yang umum, materi ajar di sekolah Korea sangat spesifik dan rinci.

- Apakah ada metode dan inovasi pendidikan Korea yang ingin Anda terapkan di Indonesia?

Saat ini saya sudah menyusun modul inovasi mengajar yang saya pelajari selama di Korea. Saya juga mendapatkan video edukasi dari Korea yang dapat saya gunakan untuk referensi mengajar. Selain itu, saya juga menerapkan materi ajar yang spesifik dan rinci bagi murid-murid saya seperti kurikulum di Korea.

- Bagaimana dampak IKTE bagi Anda, murid-murid Anda di Korea dan di Indonesia?

Selain meningkatkan keterampilan saya dalam mengajar, dampak lain yang saya rasakan adalah terbukanya wawasan siswa-siswa saya di Korea dan Indonesia terhadap keragaman budaya global melalui IKTE. Siswa-siswa saya di Indonesia lebih semangat belajar dan mengenal budaya Korea karena saya memiliki pengalaman mengajar dan jejaring di Korea. Sebaliknya, siswa-siswa saya di Korea menunjukan respon yang positif terhadap budaya Indonesia melalui pengalaman budaya yang mereka dapatkan. Bahkan banyak siswa saya di Korea yang mengirimkan saya pesan melalui media sosial tentang kerinduan mereka mempelajari budaya Indonesia bersama saya.

Siswa-siswa Santi di SD Yongnam, Changwon, Provinsi Gyeongsangnam, Korea antusias belajar memainkan alat musik tradisional Aceh, rapai, bersama Santi pada tanggal 14 November 2025.

Siswa-siswa Santi di SD Yongnam, Changwon, Provinsi Gyeongsangnam, Korea antusias belajar memainkan alat musik tradisional Aceh, rapai, bersama Santi pada tanggal 14 November 2025.


- Apakah Anda memiliki tip dan pesan bagi guru-guru Indonesia yang berminat mengikuti IKTE di periode selanjutnya?

Bagi rekan-rekan guru Indonesia yang berminat mengikuti IKTE, persiapkan diri Anda sedini mungkin karena persyaratan IKTE cukup banyak. Pahami dan ikuti alur seleksi dengan baik. Prosesnya membutuhkan kesabaran. Selain itu, tingatkan inovasi pendidikan dan pemahaman Anda tentang seni budaya daerah Anda.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait