Wartawan Kehormatan

2026.08.11

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro

Pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


Pada hari Senin (03/08/2026), penulis mengunjungi pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' yang diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje, Busan.

Pameran yang berlangsung sejak tanggal 18 Juli hingga 18 Agustus 2026 ini merupakan pameran yang dimulai untuk memperingati penyelenggaraan Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 di Busan dan berlanjut sebagai pameran khusus dalam Festival Foto Internasional Busan 2026.

Pameran tersebut memperkenalkan Warisan Dunia UNESCO Korea, warisan budaya takbenda, serta warisan dokumenter dunia melalui sudut pandang para fotografer kontemporer.

Pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' berlangsung sejak tanggal 18 Juli hingga 18 Agustus 2026 di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' berlangsung sejak tanggal 18 Juli hingga 18 Agustus 2026 di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


'Seribu Kamera' merupakan proyek dokumentasi kolaboratif Fujifilm yang diciptakan bersama oleh fotografer dan masyarakat.

Melalui pameran tersebut, pengunjung dapat melihat berbagai warisan budaya Korea yang beragam serta memahami bagaimana warisan UNESCO dan warisan lokal bersama-sama membentuk kekayaan lanskap budaya Korea.

Ruang pameran dirancang dalam satu area yang luas tanpa banyak sekat antarbagian. Konsep ini memberikan kebebasan bagi pengunjung untuk menikmati setiap koleksi sesuai alur yang mereka inginkan.

Potret Haenyeo Jeju karya Jung Hyewon dalam pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Potret "Haenyeo Jeju" karya Jung Hyewon dalam pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


Penulis memasuki area yang memperlihatkan potret "Haenyeo Jeju" karya Jung Hyewon. Budaya Haenyeo Jeju adalah tradisi perempuan penyelam yang hidup berdampingan dengan laut dan mewariskan pengetahuan serta budaya kerja sama antargenerasi.

Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2016, budaya Haenyeo di Jeju mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Karya Gu Uijin menghadirkan kembali situs Warisan Dunia UNESCO melalui teknik fotogrametri dalam pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Karya Gu Uijin menghadirkan kembali situs Warisan Dunia UNESCO melalui teknik fotogrametri dalam pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


Pameran tersebut tidak hanya menampilkan foto, tetapi juga karya video seperti "Lapisan Waktu" karya Gu Uijin yang dibuat dengan merekonstruksi ratusan foto situs Warisan Dunia UNESCO.

Beberapa potret situs Warisan Dunia UNESCO yang digunakan antara lain adalah Situs Dolmen Gochang dan Situs Kuil Mireuksa di Iksan yang diambil dengan menggunakan teknik fotogrametri.

Karya tersebut menampilkan lanskap yang tersusun dari puluhan ribu titik yang membentuk batu dan permukaan tanah, sementara ruang-ruang kosong di antaranya melambangkan data yang tidak dapat dipulihkan sekaligus jejak waktu dan kenangan yang telah hilang.

Potret Dongnae Hakchum Busan karya Jo Eunhee dalam pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Potret "Dongnae Hakchum Busan" karya Jo Eunhee dalam pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


Selanjutnya terdapat potret "Dongnae Hakchum Busan" karya Jo Eunhee. Tarian Dongnae Hakchum masuk ke dalam kategori Warisan Lokal UNESCO.

Tarian tersebut terinspirasi dari kepakan sayap burung bangau yang mencerminkan keanggunan para cendekiawan lokal serta melestarikan estetika budaya daerah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Potret upacara syamanisme karya Kim Myoungja dalam pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Potret upacara syamanisme karya Kim Myoungja dalam pameran Proyek Dokumentasi Fujifilm untuk Warisan UNESCO Korea bertajuk 'Seribu Kamera' diselenggarakan di Gedung Bekas Rumah Sakit Baekje di Busan. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


Festival Danoje Gangneung telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama lebih dari seribu tahun melalui perpaduan ritual leluhur, upacara perdukunan, musik, tarian, dan permainan rakyat.

Salah satu bagian dalam Festival Danoje Gangneung pun dipotret oleh Kim Myoungja dan dipamerkan dalam pameran kali ini.

Tradisi dalam festival pun mencerminkan harmoni antara manusia dan alam sekaligus mewariskan identitas budaya dari generasi ke generasi. Festival Danoje Gangneung ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2005.

Tradisi Jeongseon Arirang merupakan Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang secara resmi ditetapkan pada tahun 2012. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Tradisi Jeongseon Arirang merupakan Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang secara resmi ditetapkan pada tahun 2012. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


Potret “Jeongseon Arirang” karya Lee Hyejin berfokus pada kehidupan dan suara para pewaris tradisi Jeongseon Arirang. Tradisi ini merupakan Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang secara resmi ditetapkan pada tahun 2012.

Kim Myoungja mengabadikan Gangneung Gwanno Mask Drama, sebuah Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang ditetapkan pada tahun 2008. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Kim Myoungja mengabadikan Gangneung Gwanno Mask Drama, sebuah Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang ditetapkan pada tahun 2008. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


Kim Myoungja memotret Gangneung Gwanno Mask Drama yang merupakan Warisan Budaya Takbenda UNESCO yang ditetapkan pada tahun 2008.

Tradisi ini mencerminkan nilai pewarisan budaya melalui pertunjukan, interaksi antara pelaku dan penonton, serta partisipasi masyarakat yang terus menjaga keberlanjutannya dari generasi ke generasi.

Karya Kim Jiwook tentang Getbol, Dataran Lumpur Korea menampilkan kekayaan ekosistem Gochang Getbol sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2021. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Karya Kim Jiwook tentang Getbol, Dataran Lumpur Korea menampilkan kekayaan ekosistem Gochang Getbol sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2021. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


"Getbol, Korean Tidal Flats," karya Kim Jiwook berfokus pada kekayaan keanekaragaman hayati dan siklus ekologis di kawasan Gochang Getbol sebagai bagian dari Getbol, Dataran Lumpur Korea yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2021.

Kawasan itu dikenal sebagai ekosistem penting yang menjadi habitat bagi beragam makhluk hidup dan tempat persinggahan bagi burung migrasi yang terancam punah. Karya fotografi itu pun menyoroti nilai keberlanjutan dari lanskap pesisir tempat manusia dan alam telah hidup berdampingan dalam harmoni.

Potret Tongdosa Temple Yangsan karya Kang Yangmi mengabadikan ritual Buddha dalam peringatan 1.380 tahun Kuil Tongdosa. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.

Potret "Tongdosa Temple Yangsan" karya Kang Yangmi mengabadikan ritual Buddha dalam peringatan 1.380 tahun Kuil Tongdosa. Foto di atas dipotret pada tanggal 3 Agustus 2026.


Potret "Tongdosa Temple, Yangsan" karya Kang Yangmi berfokus pada berbagai upacara penting Buddha yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 1.380 tahun berdirinya Kuil Tongdosa.

Beberapa upacara penting tersebut antara lain adalah upacara Dharma, upacara persembahan teh untuk stupa, dan upacara persembahan Gwaebul.

Kuil Tongdosa di Yangsan merupakan situs Warisan Dunia UNESCO yang terkenal sebagai salah satu kuil pegunungan Sansa dan termasuk dalam Tiga Kuil Permata Korea. Dibangun pada tahun 646, kuil ini menyimpan relik asli Buddha sebagai pengganti patung Buddha utama.

Masih banyak karya fotografi menarik lainnya yang dapat dinikmati dalam pameran ini. Melalui pameran Seribu Kamera ini, pengunjung dapat melihat warisan budaya Korea melalui perspektif yang lebih beragam dan menarik.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait