Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Korea dikenal sebagai negara yang konsisten merawat dan memperkenalkan kekayaan budayanya, salah satunya melalui kehadiran museum.
Salah satu destinasi yang paling menarik perhatian adalah Museum Nasional Rakyat Korea, sebuah museum yang terletak di dalam area Istana Gyeongbokgung, Seoul.
Pada tanggal 18 Oktober 2025 penulis berkesempatan untuk mengunjungi langsung Museum Nasional Rakyat Korea yang menyuguhkan pameran berbeda dari museum-museum lainnya di Korea.
Panorama bangunan arsitektur yang menjadi ciri khas Museum Nasional Rakyat Korea memadukan elemen arsitektur dari berbagai kuil terkenal di Korea. Foto di atas dipotret pada tanggal 18 Oktober 2025. (Maulia Resta Mardaningtias)
Sejak memasuki area museum, pengunjung langsung disambut oleh bangunan utama yang menyerupai kuil dengan atap biru yang menjulang megah.
Menurut panduan pengunjung yang tersedia di laman resmi museum, bangunan ini merupakan karya Kang Bong Jin, pemenang kompetisi desain museum nasional pada tahun 1966.
Desainnya memadukan elemen arsitektur dari berbagai kuil terkenal di Korea, seperti misalnya tangga di bagian depan yang terinspirasi dari jembatan Cheongungyo dan Baekungyo di Kuil Bulguksa.
Bagian atas bangunan mengambil referensi dari Aula Palsangjeon di Kuil Beopjusa, Aula Mireukjeon di Kuil Geumsansa, serta Aula Gakhwangjeon di Kuil Hwaeomsa.
Potret penulis dan teman penulis berpose di zona 70’s and 80’s Streets of Memories yang menyuguhkan pengalaman unik bagi pengunjung untuk merasakan nuansa kehidupan masyarakat pada era. Foto di atas dipotret pada tanggal 18 Oktober 2025. (King Sejong Institute Foundation)
Museum Nasional Rakyat Korea menyuguhkan berbagai pameran menarik kepada para pengunjung, salah satunya adalah pameran luar ruangan yang memberikan pengalaman langsung bagi pengunjung untuk mengenal kehidupan masyarakat Korea pada masa lampau sesaat setelah mereka melangkah masuk ke area museum.
Pada area pameran luar ruangan tersebut, terdapat sebuah zona 70’s and 80’s Streets of Memories yang berisi replika bangunan-bangunan Korea pada era tersebut.
Pengunjung pun dapat melihat replika sekolah rakyat Bukchon, toko alat tulis Hyeondae, supermarket Geundaehwa, toko komik, toko cukur rambut, studio foto, hingga tempat pemandian umum yang bernuansa jadul.
Di depan replika supermarket dan toko alat tulis juga terdapat arena permainan tradisional sabangchigi. Permainan ini dimainkan dengan cara menggambar kotak di tanah, melempar batu kecil, lalu melompat sesuai aturan. Menariknya, permainan tradisional ini sangat serupa dengan permainan engklek yang sangat akrab di Indonesia.
Potret pengunjung bersiap memainkan permainan sabangchigi pada tanggal 18 Oktober 2025 di Museum Nasional Rakyat Korea, Seoul. (Maulia Resta Mardaningtias)
Selain pameran luar ruangan, Museum Nasional Rakyat Korea juga memiliki tiga pameran tetap dengan berbagai tema yang secara komprehensif menampilkan budaya serta perjalanan hidup masyarakat Korea dari masa lampau hingga masa kini.
Melalui kunjungan singkat yang dilakukan, penulis berkesempatan untuk menyoroti keunikan kehidupan masyarakat Korea yang tercermin melalui benda-benda yang dipamerkan pada Pameran Tetap I yang bertajuk "The Beginning of K-Culture."
Potret jige tradisional yang disandingkan dengan jige modern, alat yang sejak zaman dahulu digunakan masyarakat Korea untuk memikul barang. Foto di atas dipotret pada tanggal 18 Oktober 2025. (Maulia Resta Mardaningtias)
Pameran Tetap I menampilkan bagaimana masyarakat Korea pada masa lalu hidup selaras dengan alam melalui benda-benda sehari-hari, serta menampakkan bagaimana nilai-nilai masa lampau tersebut masih eksis hingga masa kini.
Salah satu koleksi yang menarik adalah jige, alat berbentuk rangka kayu yang digunakan untuk memikul barang. Dari kejauhan, penulis sempat mengira jige adalah kursi kecil portabel, tetapi ternyata alat ini berfungsi sebagai penopang beban dalam kehidupan sehari-hari.
Potret onggi, guci tanah liat tradisional khas Korea yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan fermentasi makanan Korea. Foto di atas dipotret pada tanggal 18 Oktober 2025. (Maulia Resta Mardaningtias)
Selanjutnya, terdapat onggi, yaitu guci tanah liat tradisional yang berfungsi untuk menyimpan dan memfermentasi makanan khas Korea seperti kimci, doenjang, dan gocujang.
Kehadirannya yang krusial dalam dunia kuliner membuat onggi tidak hanya berfungsi sebagai wadah penyimpanan, tetapi juga merefleksikan warisan keterampilan turun-temurun yang membentuk dasar kebudayaan kuliner Korea.
Potret karya perabot modern yang memanfaatkan kerangka kayu berlapis kertas tradisional hanji. Foto di atas dipotret pada tanggal 18 Oktober 2025. (Maulia Resta Mardaningtias)
Koleksi lain yang tak kalah menarik adalah hanji, kertas tradisional Korea yang dibuat dari kulit bagian dalam pohon murbei. Kertas hanji dikenal memiliki ketahanan yang sangat tinggi, sangat kuat, tahan lama, serta ramah lingkungan.
Di museum, hanji tidak hanya ditampilkan dalam bentuk lembaran, tetapi juga dalam wujud benda sehari-hari. Ada sepatu dari hanji, rak lemari, hingga perlengkapan rumah tangga lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pemanfaatan hanji dalam kehidupan masyarakat Korea.
Potret simeui, jubah tradisional yang dikenakan oleh para cendekiawan Konfusius era Dinasti Joseon. Foto di atas dipotret pada tanggal 18 Oktober 2025. (Maulia Resta Mardaningtias)
Bagian pameran yang menyoroti hanbok juga memberikan kesan mendalam. Tidak hanya menampilkan hanbok klasik, museum juga memperlihatkan interpretasi modern dari pakaian tersebut.
Pengunjung pun diajak memahami proses pembuatan hanbok pada masa lalu. Salah satu koleksi unik adalah buku dari era Dinasti Joseon (1392-1910) berjudul Gyuhap Chongseo, sebuah ensiklopedia kehidupan wanita pada era tersebut.
Buku tersebut berisi panduan rumah tangga, mulai dari cara mewarnai kain, merapikan sutra berwarna dengan tongkat kayu, hingga teknik mencuci pakaian.
Sebelum pewarna sintetis ditemukan, masyarakat Korea menggunakan bahan alami seperti kulit bawang, buah ek, kayu secang, bunga kesumba, tanaman nila, dan akar tanaman beri untuk memberi warna pada kain.
Potret buku Gyuhap Chongseo yang berisi panduan rumah tangga era Dinasti Joseon (kiri) dan berbagai tumbuhan alami yang digunakan untuk mewarnai pakaian di masa lampau (kanan). Foto di atas dipotret pada tanggal 18 Oktober 2025. (Maulia Resta Mardaningtias)
Selain pameran "The Beginning of K-Culture," museum juga memiliki dua pameran tetap lainnya, yaitu "A Year in Korea" yang menggambarkan kehidupan masyarakat Korea sepanjang empat musim serta "Korean Life Passages" yang menampilkan peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Korea dari era Dinasti Joseon hingga awal abad ke-20.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.