Penulis: Wartawan Kehormatan Urfillah Ulfi dari Indonesia
Foto: Young Ae Park
Pada tanggal 17–20 Juni 2026, King Sejong Institute Surabaya menggelar Sejong Culture Academy (SCA) 2026 dengan menghadirkan pelatihan buchaechum, salah satu tari tradisional Korea yang menggunakan kipas sebagai properti utama.
Program pendidikan budaya yang dikembangkan oleh King Sejong Institute Foundation ini diikuti oleh 19 peserta, termasuk penulis, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya Korea melalui pengalaman belajar secara langsung.
Para peserta kelas buchaechum berfoto bersama dalam Sejong Culture Academy (SCA) 2026 yang digelar pada tanggal 17-20 Juni 2026 di King Sejong Institute Surabaya.
Buchaechum dikenal melalui penggunaan kipas berwarna-warni yang membentuk berbagai pola indah ketika dimainkan secara berkelompok.
Gerakan-gerakannya terinspirasi dari alam, seperti bunga yang bermekaran, kupu-kupu yang beterbangan, dan ombak yang mengalun.
Oleh karena itu, buchaechum tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga mengandung filosofi tentang harmoni antara manusia dan alam.
Selama empat hari pelatihan berlangsung, peserta dipandu oleh Song Mhin Suk, seorang penari yang telah menekuni berbagai tarian tradisional Korea sejak usia lima tahun.
Song Mhin Suk sedang mempraktikan cara memegang kipas yang benar pada hari pertama (17/06/2026) program SCA berlangsung di King Sejong Institute Surabaya.
Pada hari pertama, peserta tidak langsung mempelajari koreografi. Song terlebih dahulu memperkenalkan sejarah buchaechum, makna yang terkandung dalam setiap gerakan, serta properti utama dalam pertunjukan tarian.
Setelah sesi pengenalan, peserta mulai berlatih teknik dasar. Latihan diawali dengan pemanasan yang dikemas dengan menyenangkan melalui permainan sederhana, kemudian dilanjutkan dengan mempelajari posisi tubuh yang benar, cara menjaga keseimbangan, hingga teknik memegang kipas.
Meskipun terlihat sederhana, dasar-dasar tersebut menjadi bagian penting karena menentukan keindahan gerakan saat menari bersama.
Penulis sedang berlatih salah satu gerakan buchaechum bersama peserta lainnya pada saat mengikuti SCA 2026 pada tanggal 17-20 Juni 2026 di King Sejong Institute Surabaya.
Memasuki hari kedua, peserta mulai mempelajari rangkaian gerakan buchaechum secara bertahap. Selain menghafal koreografi, peserta juga berlatih membentuk formasi menggunakan kipas.
Tantangan terbesar bukan hanya mengingat urutan gerakan, tetapi juga menjaga kekompakan dengan anggota kelompok agar pola yang terbentuk terlihat selaras dari sudut pandang penonton.
Hari ketiga difokuskan untuk menyempurnakan koreografi, perpindahan formasi, dan ekspresi. Instruktur beberapa kali mengingatkan pentingnya mengatur napas, menjaga keseimbangan tubuh, serta menampilkan gerakan yang lembut diiringi dengan senyuman.
Penulis merasakan sendiri bahwa keindahan buchaechum tidak bergantung pada kemampuan satu penari, melainkan pada kerja sama seluruh kelompok dalam membentuk harmoni.
Seluruh peserta SCA 2026 berfoto bersama Song Mhin Suk pada saat gladi sebelum tampil di acara kelulusan semester 1 King Sejong Institute Surabaya pada tanggal 20 Juni 2026.
Puncak kegiatan berlangsung pada hari keempat saat seluruh peserta SCA menampilkan buchaechum dalam rangkaian upacara kelulusan siswa King Sejong Institute Surabaya semester 1 Tahun 2026.
Peserta hadir di lokasi lebih awal untuk mempersiapkan diri seperti merias diri, memakai hanbok sampai gladi bersih sebelum acara dimulai.
Penampilan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperkenalkan salah satu seni pertunjukan tradisional Korea kepada seluruh siswa yang hadir.
Melalui Sejong Culture Academy 2026, peserta tidak hanya mempelajari teknik menari, tetapi juga mengenal nilai-nilai budaya Korea yang terkandung dalam buchaechum.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pertukaran budaya dapat dilakukan melalui seni, sekaligus memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk memahami warisan budaya Korea secara lebih dekat melalui pengalaman belajar secara langsung.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.