Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro
Sebelum memasuki ruang pameran khusus Warisan Busan sebagai Ibu Kota Sementara pada Masa Pengungsian di Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan, pengunjung disambut oleh potret pilu para pengungsi dan situasi kemanusiaan selama masa Perang Korea (1950-1953).
Penulis mengunjungi pameran khusus Warisan Busan sebagai Ibu Kota Sementara pada Masa Pengungsian pada tanggal 26 Juni 2026 di Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan.
Pameran yang berlangsung dari tanggal 25 Juni hingga 27 September 2026 ini diselenggarakan untuk memperingati penyelenggaraan Sidang ke-48 Komite Warisan Dunia UNESCO di Busan pada Juli 2026.
Melalui pameran ini, Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan berupaya meningkatkan pemahaman dan dukungan masyarakat terhadap pencalonan Situs Ibu Kota Darurat Busan pada Masa Perang Korea sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Potret di atas merupakan garis waktu sejarah yang merinci peristiwa-peristiwa penting selama Perang Korea dari tahun 1950 hingga 1953 di pameran khusus Warisan Busan sebagai Ibu Kota Sementara pada Masa Pengungsian di Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan.
Perang Korea yang pecah pada 25 Juni 1950 menjadikan Busan sebagai ibu kota sementara Republik Korea selama 1.023 hari sekaligus menjadi pusat pemerintahan dan perlindungan bagi para pengungsi.
Di tengah situasi perang, Busan menjadi simbol ketahanan negara, harapan bagi para pengungsi, dan wujud solidaritas masyarakat internasional terhadap Republik Korea.
Miniatur 3D berwarna putih dari gedung Aula Peringatan Ibu Kota Sementara yang terletak di Seo-gu, Busan.
Gyeongmudae merupakan salah satu situs warisan yang melambangkan keberlangsungan pemerintahan Republik Korea selama Perang Korea.
Bangunan tersebut didirikan pada tahun 1926 sebagai kediaman resmi Gubernur Provinsi Gyeongsangnam, kemudian digunakan sebagai kantor dan tempat Presiden Syngman Rhee menjalankan pemerintahan setelah ibu kota dipindahkan ke Busan.
Setelah ibu kota kembali dipindahkan ke Seoul, bangunan tersebut kembali digunakan sebagai kediaman gubernur.
Pada tahun 1984, bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi Aula Peringatan Ibu Kota Sementara yang hingga kini menjadi tempat untuk mengenang sejarah Busan sebagai ibu kota sementara selama Perang Korea.
Gambar ini merupakan dokumentasi Gedung Kompleks Pemerintahan Sementara di Busan saat Perang Korea berlangsung tahun 1950-1953.
Kompleks Pemerintahan Sementara merupakan salah satu situs warisan yang menjadi pusat administrasi pemerintahan selama Busan berstatus sebagai ibu kota sementara pada masa Perang Korea.
Dibangun pada tahun 1925 sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Gyeongsangnam, bangunan ini menjadi tempat beroperasinya Dewan Negara, kantor Perdana Menteri, berbagai kementerian, dan lembaga pemerintah yang memastikan pemerintahan tetap berjalan di tengah perang.
Kini, bangunan ini dialihfungsikan menjadi Museum Seokdang yang dikelola oleh Universitas Dong-A sejak tahun 2009.
Potret sejarah dan dokumentasi dari Stasiun Meteorologi Busan. Tempat ini merupakan salah satu situs warisan yang menyediakan informasi cuaca penting selama Busan menjadi ibu kota sementara.
Stasiun Meteorologi Busan merupakan salah satu situs warisan yang menyediakan informasi cuaca penting selama Busan menjadi ibu kota sementara pada masa Perang Korea.
Berlokasi di Gunung Bokbyeongsan, stasiun ini melakukan pengamatan cuaca sebanyak 24 kali sehari untuk mendukung operasi militer, distribusi bantuan kemanusiaan, pelayaran, serta aktivitas perikanan.
Hingga kini bangunan tersebut masih berfungsi sebagai stasiun pengamatan cuaca, dan pada tahun 2017 diakui oleh Organisasi Meteorologi Dunia sebagai Observatorium Berusia 100 Tahun.
Potret ini merupakan cuplikan video dokumentasi tentang pengusngsi yang berada di Uam-dong yang dipajang pada pameran khusus Warisan Busan sebagai Ibu Kota Sementara pada Masa Pengungsian di Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan.
Kampung Kandang Sapi Uam-dong merupakan kawasan permukiman pengungsi yang memanfaatkan bekas kandang sapi sebagai tempat tinggal selama Perang Korea.
Kompleks yang awalnya dibangun pada tahun 1909 sebagai kawasan karantina ternak ini diubah menjadi hunian bagi banyak keluarga pengungsi dengan membagi setiap kandang menjadi beberapa ruang.
Hingga kini, sebagian bangunan masih mempertahankan bentuk aslinya sebagai bukti kehidupan para pengungsi pada masa perang dan beberapa penghuni beserta keturunannya masih menetap di kawasan tersebut.
Pada masa-masa sulit pasca-Perang Korea, para pengungsi di Busan memanfaatkan karung terigu kosong bekas bantuan kemanusiaan untuk dijahit dan dijadikan tenda darurat sebagai tempat tinggal mereka.
Desa Batu Nisan Ami-dong merupakan kawasan permukiman yang dibangun oleh para pengungsi di atas bekas pemakaman umum didirikan pada tahun 1906 sebagai tempat pemakaman bagi warga Jepang yang tinggal di Korea. Kawasan ini terletak di lereng Gunung Cheonmasan.
Setelah Korea memperoleh kemerdekaan pada tahun 1945, banyak warga Jepang membawa pulang abu jenazah anggota keluarganya ke Jepang, sementara batu nisan dan berbagai struktur pemakaman ditinggalkan.
Ketika Perang Korea pecah di tahun 1950, para pengungsi yang melarikan diri ke Busan memanfaatkan kawasan ini sebagai permukiman sementara. Hingga kini, dinding penahan dan berbagai struktur asli pemakaman masih tetap terpelihara dengan baik.
Potret kehidupan sehari-hari dan perjuangan bertahan hidup bagi para pengungsi Perang Korea yang dipajang pada pameran khusus Warisan Busan sebagai Ibu Kota Sementara pada Masa Pengungsian di Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan.
Waduk Bokbyeongsan adalah fasilitas pengolahan air modern yang dibangun pada tahun 1910 untuk memasok air minum bagi warga asing di area Pelabuhan Busan dan kemudian memainkan peran krusial dalam menyediakan air bagi pusat kota Busan saat menjadi ibu kota masa perang selama Perang Korea.
Di masa perang tersebut, terjadi krisis pasokan ekstrem karena fasilitas ini hanya mampu memenuhi setengah dari 40.000 ton air untuk kebutuhan harian sehingga distribusi air harus digilir beberapa hari sekali, dibatasi selama dua jam, dan dijatah tiga ember per rumah tangga.
Sebagai salah satu infrastruktur air modern paling awal, waduk ini kini bernilai sejarah tinggi dalam melestarikan warisan sistem pasokan air awal di Korea.
Potret yang memperlihatkan para pengungsi dan warga lokal berjalan menyeberangi Jembatan Yeongdodaegyo sambil memikul barang-barang bawaan dan dagangan di atas kepala atau pundak mereka.
Jembatan Yeongdodaegyo merupakan tempat yang dipenuhi kesedihan dan harapan para pengungsi perang sekaligus berfungsi sebagai titik temu bagi keluarga-keluarga yang terpisah.
Jembatan ini dulunya diangkat tujuh kali sehari dan banyak pengungsi berkumpul di sana dengan harapan dapat bersatu kembali dengan anggota keluarga yang hilang selama perang.
Saat ini, prosesi seremonial pengangkatan jembatan berlangsung setiap hari Sabtu pukul 14.00 selama 15 menit.
Potret ini merupakan dokumentasi aktivitas logistik, kedatangan pengungsi, dan bantuan internasional di Pelabuhan Busan selama masa Perang Korea (1950-1953).
Dermaga 1 Pelabuhan Busan merupakan gerbang utama Busan bagi orang dan barang selama Perang Korea.
Dibangun pada tahun 1912 sebagai pelabuhan modern, dermaga ini awalnya menjadi pusat perdagangan antara Korea dan Jepang serta jalur masuk berbagai produk dan pengaruh dari Barat.
Setelah kemerdekaan Korea, pelabuhan ini menjadi pintu kepulangan para ekspatriat Korea. Selama Perang Korea, Dermaga 1 berperan sebagai tempat pendaratan pasukan PBB, pengungsi, material militer, dan bantuan kemanusiaan internasional sehingga menjadi simbol kerja sama internasional dalam mendukung Republik Korea di masa konflik dan pemulihan.
Selain itu, terdapat pula Kedutaan Besar Amerika Serikat dan United States Information Service (USIS) yang menjadi pusat komunikasi antara Amerika Serikat dan pemerintah Republik Korea selama Perang Korea serta berperan dalam koordinasi bantuan internasional dan penanganan pengungsi.
Bangunan yang didirikan pada tahun 1929 ini kemudian dialihfungsikan sebagai kantor Kedutaan Besar AS dan USIS ketika Busan menjadi ibu kota sementara. Kini, bangunan tersebut menjadi Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan.
Gambar ini adalah potret foto kapel dan pemandangan udara di atas menunjukkan bagaimana Kompleks Militer Hialeah ini dibangun dan beroperasi di tahun 1952.
Kamp Hialeah awalnya merupakan lintasan balap pada tahun 1930-an dan kemudian digunakan oleh militer Jepang. Kamp Hialeah kemudian menjadi pangkalan AS setelah kemerdekaan Korea.
Selama Perang Korea, tempat ini berfungsi sebagai simbol kerja sama internasional, menampung tentara PBB dan mendukung organisasi-organisasi PBB seperti UNKRA dan UNCACK yang memberikan bantuan kemanusiaan yang vital, termasuk bantuan medis dan rekonstruksi perumahan, bagi warga Korea yang dilanda perang. Saat ini, bekas kamp Hialeah telah diubah menjadi Taman Warga Busan.
Potret dari atas lanskap Pemakaman Peringatan PBB yang terletak di Nam-gu, Busan.