Wartawan Kehormatan

2026.03.10

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian
Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro

Busan Modern and Contemporary History Museum yang terletak di kawasan Jung-gu, Busan.

Busan Modern and Contemporary History Museum yang terletak di kawasan Jung-gu, Busan.



Pada Kamis (5 Maret 2026), penulis mengunjungi Busan Modern and Contemporary History Museum yang terletak di kawasan Jung-gu, Busan. Museum ini berfokus pada sejarah modern dan kontemporer Busan serta menampilkan berbagai perkembangan penting yang membentuk kota tersebut.

Museum ini telah direnovasi dengan tetap mempertahankan dua bangunan bersejarah, yaitu gedung Busan Modern History Museum, yang awalnya dibangun pada masa kolonial Jepang dan pernah difungsikan sebagai kantor Oriental Development Company serta American Cultural Center, serta bekas kantor cabang Bank of Korea di Busan yang dikenal sebagai salah satu contoh awal arsitektur modern di Korea.

Berbagai industri padat karya seperti tekstil, makanan, logam, mesin, kimia, dan karet.

Berbagai industri padat karya seperti tekstil, makanan, logam, mesin, kimia, dan karet.



Setelah kemerdekaan dan melalui masa Perang Korea (1950–1953), Busan berkembang menjadi kota industri berkat sejumlah kondisi yang menguntungkan, seperti pertumbuhan penduduk serta masuknya berbagai bahan baku dan bantuan dari luar negeri. Pada masa ini berkembang pula apa yang dikenal sebagai “industri tiga putih”, yaitu industri tekstil, penggilingan tepung, dan produksi gula.

Memasuki dekade 1960–1970-an, Busan mengalami pertumbuhan pesat seiring pelaksanaan Rencana Pembangunan Ekonomi Lima Tahun oleh pemerintah serta peningkatan status kota menjadi wilayah yang berada langsung di bawah pemerintah pusat pada tahun 1963. Kota ini memanfaatkan posisinya sebagai pelabuhan utama untuk mengembangkan berbagai industri padat karya seperti tekstil, makanan, logam, mesin, kimia, dan karet. Para pekerja di Busan aktif di berbagai sektor, termasuk logistik, manufaktur, dan perikanan, yang turut mendorong kota ini menjadi salah satu pusat industrialisasi dan ekspor di Korea.

Industri sepatu Busan. Tiger Brand Shoes merupakan salah satu merek sepatu yang populer pada masanya.

Industri sepatu Busan. Tiger Brand Shoes merupakan salah satu merek sepatu yang populer pada masanya.



Salah satu industri yang paling terkenal di Busan adalah industri sepatu. Industri ini bermula dari produksi sepatu karet pada masa penjajahan Jepang dan berkembang pesat setelah kemerdekaan serta Perang Korea. Pada 1950-an, meningkatnya pesanan sepatu militer serta melonjaknya permintaan sepatu untuk kebutuhan umum mendorong Busan berkembang sebagai pusat industri sepatu.

Pada dekade 1960-an, sejumlah perusahaan sepatu terkemuka di Korea seperti Jinyang, Dongyang, Taehwa, Bosaeng, dan Kukje Chemical mulai berdiri dan beroperasi di sekitar kawasan Seomyeon. Memasuki dekade 1970-an, industri sepatu Busan mencapai masa kejayaan seiring meningkatnya aktivitas ekspor ke luar negeri. Namun pada akhir dekade tersebut, pembatasan impor oleh Amerika Serikat menyebabkan penurunan produktivitas yang memicu kemunduran industri sepatu di Busan, yang ditandai antara lain oleh kebangkrutan Kukje Chemical pada tahun 1985.

Selain perkembangan industri manufaktur, Busan juga berkembang sebagai pusat maritim. Pelabuhan Busan mengalami peningkatan signifikan dalam volume impor dan ekspor sejak 1950-an sehingga berkembang menjadi pelabuhan logistik terbesar di Korea. Pada dekade 1960-an, pelabuhan ini berkembang menjadi pelabuhan perdagangan yang lebih matang seiring perluasan fasilitas pelabuhan.

Proses perluasan tersebut terus berlanjut hingga 1990-an, yang menandai dimulainya era terminal peti kemas. Sejak saat itu, Pelabuhan Busan tetap mempertahankan posisinya sebagai pelabuhan logistik terbesar di Korea.

Panel pameran di Busan Modern and Contemporary History Museum yang menampilkan visualisasi perkembangan ekspor, industri, serta pertumbuhan kota Busan dari 1960-an hingga 1990-an.

Panel pameran di Busan Modern and Contemporary History Museum yang menampilkan visualisasi perkembangan ekspor, industri, serta pertumbuhan kota Busan dari 1960-an hingga 1990-an.



Busan mengalami pertumbuhan pesat setelah pemerintah memulai Rencana Pembangunan Ekonomi Lima Tahun pada 1962 serta peningkatan statusnya menjadi kota yang berada langsung di bawah pemerintah pusat pada 1963. Memasuki dekade 1970-an, jaringan transportasi penumpang dan barang yang menghubungkan wilayah utara–selatan serta timur–barat semakin berkembang. Bersamaan dengan proyek pengembangan Pelabuhan Busan yang memperluas fasilitas pelabuhan, Busan semakin mengukuhkan perannya sebagai gerbang utama kegiatan ekspor dan impor Republik Korea.

Namun sejak 1970-an perekonomian Busan mulai melambat karena kesulitan beralih dari struktur industri yang berfokus pada industri ringan menuju struktur industri yang lebih berorientasi pada industri berat dan petrokimia. Pada 1995, reorganisasi Busan menjadi kota metropolitan mendorong munculnya pusat-pusat perkotaan baru. Setelah gedung Balai Kota dipindahkan ke Distrik Yeonje pada 1998, kawasan pusat kota lama secara bertahap mulai kehilangan vitalitasnya.

Pameran di museum ini memperlihatkan bagaimana Busan tumbuh melalui berbagai fase industrialisasi, perdagangan, dan perkembangan pelabuhan. Perjalanan kota Busan menjadi pengingat bahwa perkembangan sebuah kota tidak terlepas dari dinamika sejarah dan kebijakan ekonomi yang melingkupinya.

sofiakim218@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.

konten yang terkait