Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro
Pameran Land of Boundaries and Memories diselenggarakan dari tanggal 2 Desember 2025 hingga 10 Mei 2026 di Museum Sejarah Taman Warga Busan, Busanjin-gu, Busan.
Pada hari Sabtu (28/02/2026), penulis mengunjungi pameran khusus bertajuk Land of Boundaries and Memory, HIALEAH yang diselenggarakan dalam rangka peringatan 80 Tahun Kemerdekaan Korea oleh Aula Peringatan Ibu Kota Sementara.
Pameran yang berlangsung sejak tanggal 2 Desember 2025 hingga 10 Mei 2026 ini digelar di Museum Sejarah Taman Warga Busan dan terbuka untuk umum setiap hari pada pukul 09.00–18.00. Selama periode penyelenggaraan, pengunjung dapat menikmati seluruh rangkaian pameran tanpa dikenakan biaya masuk.
Pameran ini menyoroti sejarah modern dan kontemporer Busan melalui kisah Kamp Hialeah, bekas pangkalan militer Amerika Serikat di pusat kota.
Lahan tersebut telah mengalami berbagai perubahan mulai dari lahan pertanian subur pada akhir Dinasti Joseon (1392–1910) lalu berubah menjadi arena pacuan kuda pada masa kolonial Jepang (1910-1945).
Arena tersebut digunakan sebagai pangkalan militer tentara Amerika Serikat pascakemerdekaan pada tahun 1945 hingga akhirnya bertransformasi menjadi ruang publik yang kini dikenal sebagai Taman Warga Busan.
Pameran Land of Boundaries and Memory, HIALEAH menggambarkan sebuah ruang yang dahulu dipenuhi batas, kini menyimpan ingatan dan cerita yang membentuk Busan hari ini.
Ruang pameran menyimpan jejak perang dan pendudukan, sekaligus kisah tentang koeksistensi dan konflik yang membentuk dinamika sosial Busan.
Setelah melalui perjuangan panjang dan upaya berkelanjutan dari warga, AS akhirnya menarik diri dan lahan tersebut dikembalikan kepada masyarakat setempat.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak menelusuri perjalanan panjang sebuah ruang yang dahulu terisolasi sebagai 'wilayah orang luar' di balik pagar kawat berduri, hingga bertransformasi menjadi ruang publik yang menghubungkan ingatan kolektif sekaligus masa depan warga Busan.
Kamp Hialeah memiliki arti 'padang rumput yang indah' dalam bahasa suku Seminole dari Florida. Nama tersebut diberikan oleh seorang pelaut dari USS Prescott yang teringat pada Hialeah Park Race Track di Florida ketika melihat arena pacuan kuda di Beomjeon-dong.
Di sekitar Kamp Hialeah, kehadiran militer AS menghadirkan pertemuan budaya baru melalui bahasa, musik, film, makanan, dan gaya hidup.
Selama dan setelah Perang Korea (1950-1953), Kamp Hialeah berfungsi sebagai pangkalan logistik penting di Busan sekaligus berkembang menjadi komunitas hunian bagi militer AS dan keluarganya.
Kamp ini dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, perbankan, rekreasi, serta berbagai sarana penunjang kehidupan sehingga seluruh kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi di dalam kawasan tersebut. Oleh karena itu, Kamp Hialeah dikenal sebagai ‘Little America’ di tengah Kota Busan.
Meski merupakan pangkalan militer tertutup, Kamp Hialeah pada tahun 1960-an menjadi ruang berkarya bagi Lee Yong-gil, perintis seni grafis generasi pertama di Busan.
Di Kamp Hialeah, berbagai pekerja Korea bekerja sebagai penerjemah, operator telepon, juru ketik, dan staf lainnya. Para pekerja Korea memperoleh upah yang stabil dan kesempatan mengenal budaya Amerika, tetapi tetap menghadapi kesulitan akibat perbedaan budaya.
Pada tahun 2010 pengelolaan lahan bekas Kamp Hialeah dialihkan kepada Pemerintah Kota Busan dan pada tahun 2014 dibuka kembali sebagai Taman Warga Busan.
Kamp Hialeah yang terletak di pusat kota lama terikat oleh hukum perlindungan fasilitas militer sehingga pengembangannya terbatas dan menjadi wilayah terabaikan. Berkat gerakan pengembalian lahan yang berlangsung sejak tahun 1990-an, kamp ini resmi ditutup pada tahun 2006.
Pada tahun 2010, pengelolaan lahan bekas Kamp Hialeah dialihkan kepada Pemerintah Kota Busan dan pada tahun 2014 dibuka kembali sebagai Taman Warga Busan.
Dibangun sekitar tahun 1949 sebagai ruang perjamuan dan acara resmi bagi militer Amerika Serikat serta para pejabat, gedung Officers’ Club kini hadir kembali sebagai Museum Sejarah Taman Warga Busan.
Melalui ruang inilah jejak Kamp Hialeah dan kisah orang-orang yang hidup di dalam maupun di luar pagar pangkalan terus direkam dan dikenang. Transformasi bangunan ini menjadi simbol bagaimana ruang yang dahulu tertutup kini terbuka sehingga menghubungkan ingatan masa lalu dengan kehidupan Busan hari ini.
Potret pembangunan Museum Sejarah Taman Warga Busan.
Mengunjungi pameran ini membuat penulis menyadari bahwa Kamp Hialeah bukan sekadar bagian dari masa lalu Busan, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebuah ruang bisa berubah dan diberi makna baru oleh warganya.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.