Penulis: Wartawan Kehormatan Annisa Alifadhila dari Indonesia
Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) menggelar K-Culture Mentoring Day pada tanggal 3 Maret 2026 untuk mengasah potensi para pemuda Indonesia melalui sesi bimbingan bersama empat orang ahli bidang budaya dan industri kreatif Korea.
Poster rangkaian kegiatan K-Culture Mentoring Day yang diadakan oleh KCCI pada tanggal 3 Maret 2026. (KCCI)
Sesi pertama diisi oleh Dinar yang merupakan seorang penerjemah bahasa Korea dan pembuat konten. Sesi kedua dibawakan oleh Rahmi Kurniasih yang merupakan manajer perencanaan operasional CGV.
Sesi ketiga dibimbing oleh Ko Sang-Jin, yaitu seorang koki dengan spesialisasi pembuatan roti. Sedangkan sesi terakhir ditemani oleh Almira Devina yang merupakan seorang penari dan koreografer. Penulis pun berkesempatan mengikuti bimbingan di sesi ketiga bersama Ko.
Ko memaparkan materi tentang roti kepada para peserta yang hadir dalam K-Culture Mentoring Day pada tanggal 3 Maret 2026 di KCCI. (Annisa Alifadhila)
Sesi dibuka dengan pengenalan singkat tentang bagaimana Koki Ko menemukan ketertarikannya pada dunia roti di usia delapan tahun. Ia menyebutkan bahwa semuanya bermula saat ia mampir ke rumah temannya ketika ada pesta ulang tahun dan melihat ragi yang bergerak selayaknya makhluk hidup.
Ko menemukan bahwa pergerakan ragi yang memfermentasi adonan roti sangat menarik sehingga mulai mempelajari lebih lanjut tentang proses pembuatan roti.
Ko mengungkapkan bahwa tidak ada anggota keluarganya yang punya latar belakang membuat roti sehingga ia harus mempelajari semuanya sendiri. Bahkan, ia sempat mencoba langsung proses pembuatan roti dengan mampir ke toko roti.
Di usia 11 tahun, Ko menerima sertifikasi untuk pembuat roti yang menjadikannya sebagai pemegang sertifikasi pembuat roti termuda pada saat itu.
Ko menampilkan sertifikasi pembuatan roti yang ia dapatkan saat berusia 11 dan 12 tahun. (Annisa Alifadhila)
Ko kemudian menjelaskan cara pembuatan roti dari nol. Proses dimulai dengan melakukan perencanaan produksi yang meliputi persiapan bahan, konsep, dan teknis pengolahan bahan.
Setelah seluruh bahan sudah siap dengan takaran yang telah ditentukan, bahan-bahan tersebut dicampur dengan baik lalu masuk ke dalam proses fermentasi.
Ko menyebutkan bahwa proses fermentasi akan menjadi penentu utama dari tekstur hasil akhir produk. Perlakuan terhadap ragi sangat perlu diperhatikan. Ko bahkan sering mengajak ‘bicara’ ragi yang sedang dikembangkan.
Selain bisa membangun perasaan yang mendalam saat memasak, kehati-hatian dalam proses fermentasi ragi membuat enzim yang diolah oleh ragi bisa dicerna lebih baik oleh tubuh.
Dari semua proses fermentasi yang dilakukan, Ko selalu menggunakan ragi yang ia buat sendiri dari bahan-bahan alami seperti mangga, mentigi biru (blueberry), starter nasi, dan tepung beras ungu karena setiap ragi alami memiliki rasa khasnya masing-masing.
Beberapa ragi alami juga memiliki sifat anti jamur sehingga penggunaannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Ko menampilkan hasil penelitiannya dan rekannya mengenai penggunaan ragi alami. (Annisa Alifadhila)
Selesai proses fermentasi, roti kemudian dibentuk, dipanggang, dan dikemas. Sampai pada proses terakhir, perhatian yang diberikan pada roti tidak boleh berkurang. Hasil akhirnya pun bisa dijadikan bahan belajar untuk mengembangkan resep-resep yang lebih baik dan beragam ke depannya.
Setelah menyelesaikan penjelasan mengenai proses pembuatan roti, Ko juga menyampaikan perbedaan antara roti yang biasa dibuat di Korea dan di Indonesia.
Menurutnya, roti yang dibuat di Korea memiliki tingkat ketahanan lebih rendah daripada roti yang dibuat di Indonesia. Namun, hal itu menuntut para pembuat roti Korea untuk tetap menyajikan roti yang segar dan bisa bermain lebih bebas dalam kuantitas jenis.
Sebaliknya, karena lebih tahan lama, roti di Indonesia didominasi oleh roti dengan rasa yang manis. Selain itu, dari sisi penjual, para pembuat roti di Korea lebih berfokus pada rasa, sedangkan para pembuat roti di Indonesia lebih berfokus pada visual.
Ko berfoto bersama dengan para peserta acara di akhir sesi ketiga. (KCCI)
Di akhir acara, Ko membagikan roti cokelat yang dia buat sendiri kepada para peserta. Saat mencoba rotinya, penulis langsung bisa memahami maksud dari semua penjelasan yang Ko sampaikan. Roti cokelat itu terasa enak, empuk, dan sangat memuaskan saat dimakan.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.