Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Foto: Hurum Maqshuro
Pameran The Treasure Island of Busan, Yeongdo berlangsung dari tanggal 18 November 2025 hingga 2 Maret 2026.
Pada hari Minggu (22/02/2026) penulis mengunjungi pameran khusus bertajuk The Treasure Island of Busan, Yeongdo yang diselenggarakan di Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan.
Pameran yang berlangsung sejak tanggal 18 November 2025 hingga 2 Maret 2026 ini digelar di ruang pameran khusus lantai dua museum dan dibuka untuk umum setiap hari pukul 09.00–18.00.
Selama periode penyelenggaraan, pengunjung dapat menikmati seluruh rangkaian pameran tanpa dikenakan biaya masuk.
"Lapangan Panahan Raja, Ruang Persembahan Doa, Taejongdae Saat Ini."
Busan merupakan kota pelabuhan utama di Korea yang sejak awal pertumbuhannya hidup berdampingan dengan laut. Dinamika sejarah, mobilitas manusia, serta perkembangan industri menjadikan kota ini sebagai salah satu pusat maritim dan perdagangan penting di Republik Korea.
Di antara berbagai distriknya, Yeongdo menempati posisi yang istimewa. Pulau ini tidak hanya merepresentasikan jejak sejarah Busan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara komunitas lokal, aktivitas perkapalan dan industri, serta perkembangan budaya yang terus bergerak maju.
Pameran ini memperlihatkan bahwa keindahan alam menjadi salah satu fondasi utama identitas Yeongdo. Lanskapnya ditandai oleh Bongnaesan yang dijuluki "Gunung Keabadian" dan diyakini sebagai tempat bersemayamnya dewi pelindung, Yeongdo Halmae. Selain itu terdapat pula tebing-tebing pesisir di Taejongdae yang pada masa lalu merupakan lokasi sakral untuk doa memohon hujan.
Kini Taejongdae menjadi destinasi pemandangan yang dicintai baik wisatawan lokal maupun asing, sementara Bongnaesan dan Taejongdae merepresentasikan keindahan alam sekaligus spiritualitas masyarakat Yeongdo.
Lukisan dewi pelindung, Yeongdo Halmae.
Pada awalnya, akses menuju Yeongdo mengandalkan perahu-perahu penyeberangan kecil. Seiring meningkatnya mobilitas, jalur tersebut berkembang menjadi transportasi reguler hingga pada tahun 1934 dibangun Jembatan Yeongdo membuka akses darat sekaligus mempercepat transformasi kawasan ini dalam dinamika perkembangan kota.
Doseon merupakan perahu penyeberangan yang menjadi satu-satunya penghubung antara Yeongdo dan daratan utama sebelum Jembatan Yeongdo dibangun. Sistem tarifnya tidak ditetapkan secara khusus dan terkadang dibayar dalam bentuk barang, sementara warga secara bergiliran menjadi pendayung dan mengumpulkan ongkos bersama. Perahu ini beroperasi hingga tahun 2008.
Gambar tentang penyewaan lahan Yeongdo oleh Jepang (1885) dan upaya Rusia (1897) menunjukkan posisi strategis pulau ini.
Setelah Pelabuhan Busan dibuka, kawasan Yeongdo dimanfaatkan sebagai pangkalan militer dan pusat industri perkapalan pada masa penjajahan Jepang. Saat Perang Korea (1950–1953), Yeongdo menjadi tempat berlindung para pengungsi sebelum berkembang sebagai kawasan industri yang makmur.
Dalam pameran ini juga dijelaskan bagaimana letak strategis Yeongdo menarik perhatian negara-negara imperialis. Pada tahun 1885 Jepang menyewa sekitar 16 ribu meter persegi lahan untuk gudang batu bara angkatan laut. Rusia pada tahun 1897 juga berupaya menyewa sebagian wilayahnya, tetapi ditolak oleh pemerintah Joseon pada tahun 1898.
Pakaian selam berbahan karet yang digunakan oleh Yeongdo haenyeo.
Di ruang selanjutnya dijelaskan bahwa Yeongdo merupakan salah satu wilayah tujuan utama migrasi haenyeo (penyelam wanita) dari Jeju. Sejak akhir abad ke-19, para haenyeo menyelam ke luar daerah asal mengikuti kondisi laut di Pulau Jeju dan Yeongdo menjadi titik persinggahan utama ketika mereka melaut ke daratan.
Awalnya datang untuk penyelaman musiman, mereka kemudian bermigrasi bersama keluarga dan membentuk komunitas tetap, bahkan menjadikan Yeongdo sebagai tempat pertama di Korea yang menggunakan pakaian selam berbahan karet.
Beberapa hasil produksi Daehan Ceramics, jejak sejarah industri keramik di Yeongdo.
Tak hanya menjadi ruang hidup bagi komunitas haenyeo, Yeongdo juga mencatat sejarah penting dalam bidang industri melalui keberadaan Daehan Ceramics.
Perusahaan ini berawal dari industri keramik pada masa penjajahan Jepang dan kembali beroperasi setelah kemerdekaan Korea dengan memadukan industri dan seni.
Namun, seiring maraknya penggunaan peralatan makan plastik, perusahaan ini akhirnya tutup dan kini hanya menyisakan dinding bata merah sebagai jejak sejarahnya.
Alat selam tradisional yang digunakan untuk menangkap hasil laut di perairan dalam.
Di bagian akhir pameran dijelaskan tentang alat selam tradisional yang digunakan untuk menangkap hasil laut di perairan dalam. Alat ini awalnya terbuat dari paduan logam dengan selang suplai oksigen dan dibuat berat untuk menahan tekanan laut dalam.
Di Yeongdo, terutama di Daepyeong-dong dan Namhang-dong, alat ini diproduksi di bengkel besi, termasuk Daeseong Sugi yang sempat menjadi satu-satunya tempat pembuatannya dan juga memasok alat bagi tentara AS.
Pameran ini menampilkan bagaimana Yeongdo tidak hanya kaya akan keindahan alam dan sejarah, tetapi juga merekam perjalanan sosial, budaya, dan industri yang membentuk identitasnya. Melalui penelusuran ini, pengunjung diajak memahami Yeongdo sebagai pulau yang menyimpan cerita masa lalu sekaligus pelajaran bagi masa kini.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.