Wartawan Kehormatan

2023.05.26

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Elfida Lubis dari Indonesia


Korea menjadi salah satu dari tujuan wisata utama bagi para pecinta wisata. Pada awal April lalu, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Republik Korea mengumumkan daftar seratus tempat wisata yang wajib dikunjungi periode 2023-2024. Tujuan wisata dalam daftar tersebut terdiri dari 61 objek wisata budaya dan 39 objek wisata alam. Pembagian dilakukan berdasarkan wilayah, yaitu 24 tempat wisata di Ibu Kota Seoul, 10 tempat wisata di Provinsi Gangwon, 13 tempat wisata di Wilayah Chungcheong, 17 tempat wisata di Wilayah Jeolla, 30 tempat wisata di Wilayah Gyeongsang, dan 6 tempat wisata di Provinsi Jeju.

Penulis berbincang dengan delapan orang narasumber dari Indonesia, Malaysia, sampai Amerika Serikat. Perbincangan dilakukan lewat berbagai media, yaitu aplikasi pesan Whatsapp, media sosial Instagram, Facebook, juga surel. Penulis meminta satu tempat wisata yang paling direkomendasikan dari seratus tempat wisata tersebut.


Provinsi Gangwon – Pulau Nami pilihan Ratih Ayu Cempaka Kansil

230526_turis_6

Patung Winter Sonata yang berada di Pulau Nami. (Ratih Ayu Cempaka Kansil)


Pulau Nami adalah tempat syuting drama fenomenal Winter Sonata. Tempat ini direkomendasikan oleh Ratih Ayu Cempaka Kansil yang sudah menetap di Korea sejak tahun 2022 karena mengikuti suami yang lebih dulu berada di Korea untuk melanjutkan pendidikannya. Menurut Cempaka yang juga seorang HR periode tahun 2023-2024, Pulau Nami adalah salah satu tempat yang harus masuk daftar kunjung turis karena sudah begitu terkenal. Pemandangannya juga sungguh indah, cocok untuk yang mau berfoto.

Pulau Nami merupakan objek wisata alam yang berdampingan secara serasi dengan seni budaya juga aktivitas yang menghibur. Tersedia jalur bagi pejalan kaki, seperti Jalur Metasequoia dan Jalur Pohon Gingko, serta beragam wahana seperti sepeda keluarga sampai aktivitas seni. Pulau Nami juga merupakan Taman Ramah Anak UNICEF pertama di Korea, sehingga tak heran banyak aktivitas wisata untuk anak-anak di sana.

Cempaka berkunjung ke Pulau Nami sebanyak tiga kali di bulan Oktober 2022. Pengalaman tersebut justru menjadikannya paham kapan waktu terbaik ke sana. “Di awal musim gugur, awal dan pertengahan Oktober, daunnya belum berubah menjadi kuning. Menjelang akhir bulan sudah mulai berubah warna, jadi paling bagus. Pastikan juga cuacanya tidak hujan supaya bisa berfoto,” ungkapnya. Cempaka menambahkan bahwa wisata kuliner kurang direkomendasikan di Pulau Nami, tetapi turis dari Indonesia bisa merasa aman karena terdapat restoran halal di dalam Pulau Nami.


Provinsi Gangwon – Gangneung Coffee Street pilihan James Maines

230526_turis_7

Deretan kedai kopi yang berada di Jalan Kopi di Gangneung. (James Maines)


James Maines adalah guru Bahasa Inggris dari Amerika Serikat yang sudah hidup di Korea selama tiga tahun. Sewaktu dihubungi lewat fitur pesan di Instagram, James bersedia untuk ikut berkontribusi dalam tulisan ini. James memilih Gangneung Coffee Street untuk direkomendasikan bagi turis asing yang akan mengunjungi Korea. “Saya tidak berharap banyak ketika memutuskan untuk pergi ke sana karena tidak pernah mendengar sama sekali tentang spot itu,” tulis James. Namun sesampainya di sana, pria ini terkagum-kagum melihat begitu banyak kedai kopi unik di sepanjang jalan. Apalagi, lokasinya dikelilingi oleh lautan, membuatnya mendapat dua keuntungan sekaligus, yaitu menyesap kopi enak sambil menikmati pemandangan indah. James menganjurkan untuk pergi ke Gangneung Coffee Street di musim semi atau gugur.


Wilayah Gyeongsang – Jalan Hwangridan dan Observatorium Cheomseongdae pilihan Thariq Hafidz Nabil Al Farouq

230526_turis_8

Thariq sempat mencoba camilan jagung yang sedang menjadi tren di Gyeongju. (Thariq Hafidz Nabil Al Farouq)


Jalan Hwangridan saat ini sedang popular di kalangan anak muda Korea karena jajanan pinggir jalannya. Salah satu Korean Tourism Influencer dari Indonesia pun akhirnya pergi ke sana untuk membuktikan langsung. Thariq berkesempatan mengunjungi kota Gyeongju pada tahun 2022 saat sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Daegu Catholic University. Menurut Thariq, Jalan Hwangridan adalah kawasan komersial yang unik mengingat posisinya menghadap komplek Makam Daereungwon Tomb.

Thariq dan teman-temannya pun tak ketinggalan mencicipi beberapa jajanan pinggir jalan di sana. Ada gyeongju ppang yang menurut Thariq sedikit menyerupai bakpia (camilan khas Yogyakarta). Ada juga hwangnam jjondeugi yang berbentuk seperti kentang goreng, terbuat dari tepung beras dan dibalur bumbu rasa pedas dan manis. Kemudian sipwon ppang, roti berbentuk seperti koin 10 won dengan isian keju mozzarella. Puncaknya adalah hwangnam oksusu, yaitu jagung pipil dengan 2 macam saus yang bisa dipilih, yaitu saus orisinal atau mayones.

Untuk jenis wisata, Thariq mengaku memang lebih suka berwisata ke tempat-tempat dengan nilai sejarah dan budaya yang tinggi dan Gyeongju adalah salah satu pilihan yang tepat. “Kota Gyeongju ini pernah menjadi ibukota pada zaman Dinasti Silla (57 SM-935 SM), jadi saya memutuskan untuk pergi ke sana. Seluruh wilayah dipenuhi peninggalan budaya dan aset yang berpengaruh dalam perkembangan dunia arsitektur serta ajaran Buddha Korea pada saat itu,” terangnya. Gyeongju juga telah terdaftar sebagai situs UNESCO World Heritage.

Selain Jalan Hwangridan, spot lain yang didatangi Thariq di Gyeongju ialah Observatorium Cheomseongdae yang secara harafiah berarti menara pengamat bintang. “Di zaman Dinasti Silla, tempat ini digunakan untuk melihat rasi bintang, perubahan cuaca, dan lain-lain,” kata Thariq. Cheomseongdae merupakan salah satu observatorium tertua yang masih tersisa di Asia Timur dan dunia.


Wilayah Gyeongsang – Pantai Gwangalli pilihan Angelina

230526_turis_9

Angelina saat menikmati pemandangan Jembatan Gwangalli dari kamar hotelnya. (Angelina)


Angelina merekomendasikan satu tempat lagi, yakni Pantai Gwangalli di Kota Busan. Awalnya, Angelina penasaran karena melihat Instastory seorang teman yang sedang duduk memandang laut biru lepas dari kamar bernuansa putih dan berjendela lebar, sehingga garis pantai terlihat dari ujung ke ujung. Ternyata pantai itu berada di Busan, tepatnya Pantai Gwangalli. Pergilah Angelina ke sana pada Maret 2023 lalu. Penggemar K-Pop dan K-Drama ini langsung menuju Busan saat mendarat di Korea Selatan menggunakan kereta cepat KTX.

Menurut Angelina, kebanyakan orang lebih sering mendengar Pantai Haeundae karena pernah diangkat dalam sebuah film, tetapi Gwangalli tak kalah menarik. “Pemandangan pagi, siang, dan malam sangat berbeda di sana. Saat matahari terbit, suasana pantai terlihat damai dengan desiran ombak pelan menyapu pasir pantai. Saat siang, matahari terik, tetapi suhu masih dingin sehingga bisa duduk santai di kafe atau pinggir pantai sambil bergaya dengan kacamata hitam. Saat malam, lampu kerlap-kerlip gedung tinggi serta Jembatan Gwangandaegyo begitu semarak, belum lagi kembang api yang dimainkan dari kapal yang lewat. Inilah healing sesungguhnya,” kenangnya.

Gwangalli juga dikenal sebagai tempat ideal untuk menaiki SUP (Stand Up Paddleboard) karena pantai ini memiliki ombak yang tenang. Tak hanya itu, Gwangalli M Drone Lightshow menjadi satu-satunya peruunjukan drone regular di Korea, yang diadakan setiap Sabtu malam. Ada juga festival Gwangalli Eobang, festival budaya rakyat bertema desa nelayan, sampai festival kembang api Busan.


Provinsi Jeju – Pulau Gapado pilihan Ukasya

230526_turis_10

Jeju bisa dinikmati dengan sepeda. (Ukasya)


Jeju seolah tak bisa dipisahkan dari pesona wisata alam di Korea. Ukasya memilihkan Jeju sebagai salah satu tempat wisata yang harus dikunjungi, khususnya Jeju Olle Trail yang menurutnya tak boleh dilewatkan. Jeju Olle Trail adalah jalur untuk trekking dan hiking yang mengelilingi seluruh pulau. Petualangan wisata akan terasa luar biasa di rute ini karena segudang lanskap yang ditawarkan. Mulai dari garis pantai, hutan, hingga suasana desa yang menawan.

Bukan sekali dua kali dia mengunjungi Jeju, baik dalam rangka liburan pribadi sampai perjalanan yang disponsori. Ketika pada akhirnya merencanakan perjalanan untuk ke sekian kali, Ukasya betul-betul melakukan riset dan mendapati keindahan sebuah pulau kecil yang terletak di sepanjang Jeju Olle Trail, yaitu Pulau Gapado. “Meskipun mungkin tak seterkenal Udo, namun Gapado memiliki pesona dan daya pikat setara,” terangnya. Ukasya pun bercerita bahwa sebagian besar pulau ini dihiasi ladang gandum yang indah dengan dua desa kuno yang terletak di kedua ujung jalan utama. Udara yang sangat bersih dan dijaga dengan baik, terbukti dengan tidak adanya mobil di sana. Selain itu, meskipun posisinya tidak terlalu tinggi, sangat mencengangkan bahwa Pulau Gapado menawarkan pemandangan panorama yang menakjubkan, termasuk pemandangan Hallasan, gunung di Jeju yang sangat terkenal.

Ukasya menganjurkan untuk berkunjung ke sana di musim semi, terutama karena Festival Jelai Hijau yang menandai puncak musim di daerah ini. Festival musim semi Jeju tersebut berlangsung di tengah-tengah ladang jelai hijau subur mulai tanggal 30 Maret hingga 12 Mei. Selama bulan April, seluruh pulau berubah menjadi panorama yang menakjubkan berkat gelombang hijau jelai yang melambai. Sebagian besar jelai hijau yang dibudidayakan di Pulau Gapado berasal dari varietas asli Jeju yang dikenal sebagai hyangmaek. “Pulau Gapado dapat ditempuh dengan 20 menit perjalanan feri dari Seogwipo. Pastikan membawa paspor fisik saat membeli tiket. Selain itu, Anda harus mengisi formulir boarding. Meskipun petugas di konter mungkin tidak fasih berbahasa Inggris, mereka akan memberikan bantuan yang cepat dan tanggap,” ungkapnya menutup perbincangan kami.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Wartawan Kehormatan merupakan komunitas masyarakat dunia yang menyukai Korea dan membagikan minat mereka terhadap Korea dalam bentuk tulisan.

konten yang terkait