Kebudayaan

2026.07.31

Media art bergambar bunga peoni dipamerkan di Cheong Wa Dae Sarangchae, Seoul. Dalam seni tradisional Korea, bunga peoni melambangkan kemakmuran dan kehormatan.

Media art bergambar bunga peoni dipamerkan di Cheong Wa Dae Sarangchae, Seoul. Dalam seni tradisional Korea, bunga peoni melambangkan kemakmuran dan kehormatan.



Penulis: Lee Jihae
Foto: Park Daejin

Pameran yang mengemas pesona budaya tradisional Korea serta daya tarik berbagai daerah di seluruh negeri melalui konten digital menghadirkan pengalaman baru bagi para pengunjung.

Pameran Full of Colors: Regions Shaping K yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata di Cheong Wa Dae Sarangchae, Jongno-gu, Seoul, menghadirkan interpretasi baru terhadap budaya tradisional Korea melalui grafis, seni media, serta beragam konten interaktif berbasis pengalaman.

Karya Korea Fantasy merupakan interpretasi modern atas dancheong, ornamen khas arsitektur tradisional Korea.

Karya "Korea Fantasy" merupakan interpretasi modern atas dancheong, ornamen khas arsitektur tradisional Korea.



Karya "Korea Fantasy" ciptaan fotografer Koo Bohnchang menjadi salah satu karya yang paling menarik perhatian para pengunjung. Karya ini merupakan interpretasi modern atas dancheong, ornamen khas arsitektur tradisional Korea. Dancheong adalah teknik pewarnaan tradisional yang menghiasi bangunan kayu dengan beragam warna dan motif dekoratif. Teknik ini lazim diterapkan pada bangunan penting yang berkaitan dengan negara maupun agama, seperti istana, kuil Buddha, dan kantor pemerintahan.

Karya tersebut menampilkan pola-pola geometris yang memenuhi bidang visual layaknya kaleidoskop melalui susunan pecahan kaca yang simetris. Komposisinya menghadirkan kekayaan warna serta harmoni visual khas dancheong. Motif-motif yang terus berkembang dan berulang menciptakan kesan dinamis, seolah-olah pola-pola tradisional itu hidup dan terus bergerak.

Pengunjung dapat berfoto di area khusus sambil mengenakan gat di Cheong Wa Dae Sarangchae, Jongno-gu, Seoul.

Pengunjung dapat berfoto di area khusus sambil mengenakan gat di Cheong Wa Dae Sarangchae, Jongno-gu, Seoul.



Di sudut lain pameran, pengunjung dapat berfoto di area khusus sambil mengenakan gat, topi tradisional yang menjadi simbol keanggunan kaum yangban (bangsawan) pada era Joseon.

Gat merupakan topi tradisional pria yang menjadi penanda status sosial pemakainya. Pada masa Joseon, perempuan, anak-anak, dan budak dilarang mengenakannya. Topi ini terdiri atas dua bagian, yakni daeu, bagian silinder yang menjulang di bagian atas kepala, serta yangtae, bagian pinggiran berbentuk bundar yang kemudian dirakit menjadi satu.

Pada awalnya, baik daeu maupun yangtae dibuat dari bambu. Namun, seiring waktu, daeu mulai dibuat dari bulu ekor kuda. Perubahan ini dipengaruhi oleh struktur rumah tradisional Joseon yang memiliki ambang pintu rendah sehingga daeu berbahan bambu mudah rusak saat pemakainya keluar masuk ruangan. Dibandingkan bambu, bulu ekor kuda lebih ringan, lentur, sekaligus lebih tahan lama.

Setelah pemerintah Joseon memberlakukan Perintah Pemotongan Rambut Pendek pada tahun 1895 untuk menghapus tradisi sanggul pria, penggunaan gat pun perlahan mulai ditinggalkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, gat kembali mencuri perhatian publik internasional setelah tampil dalam berbagai konten Korea, termasuk serial Netflix Kingdom dan film animasi Netflix KPop Demon Hunters.

Media art yang terinspirasi dari kerajinan tradisional najeonchilgi.

Media art yang terinspirasi dari kerajinan tradisional najeonchilgi.



Di ruang media art, pengunjung dapat menyaksikan lima karya media art bertema budaya tradisional Korea. Di antara semuanya, karya yang terinspirasi dari najeonchilgi menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Najeonchilgi merupakan teknik kerajinan tradisional Korea yang menghias permukaan benda berlapis lak dengan menempelkan potongan lapisan mutiara dari cangkang abalon maupun kerang mutiara.

Proses pembuatannya diawali dengan melapisi kotak kayu atau furnitur menggunakan pernis alami dari getah pohon lak secara berulang hingga menghasilkan permukaan hitam yang halus dan mengilap. Selanjutnya, potongan cangkang yang dibentuk menjadi motif bunga, burung bangau, naga, dan berbagai ornamen lainnya ditempelkan secara teliti, lalu kembali dilapisi lak berulang kali hingga memperoleh hasil akhir yang sempurna.

Di Cheong Wa Dae Sarangchae, keindahan najeonchilgi dihidupkan kembali melalui media art. Kilau lapisan mutiara di atas permukaan lak hitam pekat diproyeksikan secara digital, sementara motif-motifnya memancarkan beragam warna sesuai sudut datangnya cahaya. Di antara pola-pola tersebut, harimau, rusa, dan burung bangau tampak bergerak dan melompat, menghadirkan kesan dinamis sekaligus penuh vitalitas.

Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati rangkaian video yang menampilkan warisan budaya takbenda serta berbagai destinasi ikonik dari seluruh penjuru Korea.

Pameran berlangsung hingga tanggal 31 Desember 2026. Pameran dibuka setiap hari, kecuali hari Selasa, pukul 09.00–18.00. Seluruh pengunjung dapat menikmati pameran secara gratis tanpa perlu melakukan reservasi terlebih dahulu.

jihlee08@korea.kr

konten yang terkait