Wartawan Kehormatan

2026.07.15

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Foto: Maulia Resta Mardaningtias

Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO merupakan konferensi internasional tahunan yang diselenggarakan untuk membahas nominasi baru sekaligus memantau kondisi konservasi Situs Warisan Dunia di berbagai negara. Sidang ke-48 akan berlangsung pada tanggal 19–29 Juli 2026 di Busan, Republik Korea.

Sebagai bentuk penyambutan atas perhelatan penting tersebut, Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) menghadirkan Festival Seni Budaya World Heritage UNESCO Korea yang berlangsung tanggal 8-17 Juli 2026 di KOREA 360, Lotte Shopping Avenue, Jakarta.

Festival Seni Budaya World Heritage UNESCO Korea berlangsung tanggal 8-17 Juli 2026 di KOREA 360, Lotte Shopping Avenue, Jakarta.

Festival Seni Budaya World Heritage UNESCO Korea berlangsung tanggal 8-17 Juli 2026 di KOREA 360, Lotte Shopping Avenue, Jakarta.


Pada hari pembukaan (Rabu, 8 Juli 2026) penulis berkesempatan hadir dan menyaksikan langsung beragam kegiatan yang ditawarkan dalam festival.

Acara tersebut mencakup pameran 17 situs warisan dunia UNESCO Korea, kuliah umum mengenai warisan dunia Korea dan Indonesia, kuis interaktif, aktivitas kerajinan membuat gantungan kunci dan pin, spot foto bertema budaya Korea, hingga informasi seputar Komite Warisan Dunia UNESCO.

Potret area permainan kuis interaktif yang dilengkapi dengan peta warisan dunia UNESCO di Korea dan Indonesia dalam Festival Seni Budaya World Heritage UNESCO Korea yang berlangsung tanggal 8-17 Juli 2026 di KOREA 360, Lotte Shopping Avenue, Jakarta.

Potret area permainan kuis interaktif yang dilengkapi dengan peta warisan dunia UNESCO di Korea dan Indonesia dalam Festival Seni Budaya World Heritage UNESCO Korea yang berlangsung tanggal 8-17 Juli 2026 di KOREA 360, Lotte Shopping Avenue, Jakarta.


Sebagai rangkaian awal, KCCI menggelar kuliah umum bertajuk "Menelusuri Warisan Dunia UNESCO di Korea dan Indonesia." Acara ini menghadirkan dua narasumber, yakni Rostineu, Direktur Lembaga Bahasa Internasional Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, serta Haris Rahmanendra, penanggung jawab Museum Manusia Purba Sangiran.

Keduanya membawakan materi yang berfokus pada warisan budaya Korea dan Indonesia. Dalam artikel ini, penulis menyoroti pemaparan Rostineu yang memperkenalkan warisan budaya Korea kepada audiens.

Potret Rostineu saat memaparkan materi dalam kuliah umum Menelusuri Warisan Dunia UNESCO di Korea dan Indonesia pada hari Rabu (08/07/2026) di KOREA 360, Lotte Shopping Avenue, Jakarta.

Potret Rostineu saat memaparkan materi dalam kuliah umum "Menelusuri Warisan Dunia UNESCO di Korea dan Indonesia" pada hari Rabu (08/07/2026) di KOREA 360, Lotte Shopping Avenue, Jakarta.


Alih-alih menjelaskan satu per satu dari 17 situs warisan dunia Korea, pembicara menekankan prinsip nilai yang digunakan UNESCO dalam menetapkan suatu bangunan atau unsur budaya sebagai warisan dunia.

Dalam penjelasannya, penulis mencatat bahwa penilaian UNESCO berlandaskan pada Outstanding Universal Value (OUV), yang mencakup tiga aspek utama.

Pertama, warisan budaya lahir dari perjalanan panjang ribuan tahun dengan daya tahan luar biasa. Kedua, memiliki otentisitas yang terintegrasi secara harmonis dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai masa lampau, termasuk kearifan praktis dan ritual kuno yang tetap hidup. Ketiga, merupakan mahakarya fisik yang memuat nilai spiritual dan sejarah bagi umat manusia.

Nilai-nilai tersebut kemudian dikaitkan dengan perkembangan budaya Korea sejak masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar, seperti Dinasti Silla, Balhae, Baekje, Goryeo, hingga Joseon.

Pembicara mencontohkan, pada era Silla dan Balhae abad ke-9, seni Buddhis berkembang pesat bersamaan dengan ekspansi wilayah, sementara Dinasti Joseon lebih menekankan fondasi tata kelola, konfusianisme, serta seni arsitektur kontemporer.

Potret area pameran yang menampilkan gambar Gerbang Hwahongmun, gerbang utara Benteng Hwaseong yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO Korea pada tahun 1997.

Potret area pameran yang menampilkan gambar Gerbang Hwahongmun, gerbang utara Benteng Hwaseong yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO Korea pada tahun 1997.


Beberapa situs warisan dunia Korea turut disorot, seperti Kuil Bulguksa yang menjadi jejak teologi pada masa Dinasti Silla. Terasering batu yang kokoh serta penggunaan kayu sebagai bahan utama bangunan kuil, yang tetap terjaga hingga kini, menunjukkan harmoni antara seni dan teknik struktural pramodern.

Pembicara juga menyinggung Istana Changdeokgung yang desainnya mengikuti kontur perbukitan alami sehingga mencerminkan keseimbangan antara fungsi bangunan dan keindahan alam.

Selain itu, ia menyoroti Kuil Haeinsa, khususnya bangunan penyimpanan Tripitaka Koreana, yang memiliki ventilasi alami asimetris sebagai bukti kemajuan pengetahuan dalam menjaga artefak kayu dari kerusakan akibat kelembapan dan suhu.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa vitalitas sejarah suatu bangsa menjadi kompas identitas di tengah arus globalisasi sekaligus membangun kepercayaan diri budaya untuk berdiplomasi sejajar dengan bangsa lain.

Pameran juga menampilkan replika situs Ganghwa Dolmen yang terletak di Pulau Ganghwado yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2000.

Pameran juga menampilkan replika situs Ganghwa Dolmen yang terletak di Pulau Ganghwado yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO pada tahun 2000.


Warisan dunia UNESCO tidak hanya berupa bangunan, tetapi juga warisan takbenda seperti talchum atau tari topeng Korea, serta pansori. Bahkan, naskah asli Hunminjeongeum yang menjadi dasar aksara Hangeul telah diakui sebagai Warisan Memori Dunia UNESCO karena nilai sastra dan keunikannya.

Melalui kuliah umum ini, pembicara mengingatkan bahwa mencintai budaya Korea tidak berarti mengabaikan budaya Indonesia. Justru, apresiasi terhadap budaya Korea dapat menjadi cermin untuk mengembangkan dan memperkuat budaya bangsa sendiri.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait