Foto di atas merupakan potret terowongan yang dibangun sejak era Meiji di Tambang Emas dan Perak Aikawa, salah satu lokasi utama Tambang Sado di Prefektur Niigata, Jepang. (Yonhap News)
Penulis: Uyen Nguyen
Komite Warisan Dunia UNESCO merekomendasikan Jepang agar menyajikan sejarah Tambang Sado 'dengan lebih menyeluruh', termasuk sejarah kerja paksa warga Korea di pertambangan tersebut.
Menjelang pelaksanaan sidang ke-48, Komite Warisan Dunia UNESCO mengevaluasi laporan mengenai status pelestarian situs tersebut.
Dalam rancangan keputusan yang diedarkan kepada negara-negara anggota pada tanggal 16 Juli 2026, komite menilai bahwa interpretasi dan materi pameran yang tersedia di Museum Sejarah Aikawa masih belum cukup untuk menjelaskan 'keseluruhan sejarah' situs tersebut selama periode kegiatan penambangan.
Museum Sejarah Aikawa merupakan lokasi tempat diselenggarakannya pameran mengenai Tambang Sado.
Potret di atas merupakan tangkapan layar rancangan keputusan Komite Warisan Dunia UNESCO mengenai Tambang Sado. (laman Komite Warisan Dunia UNESCO)
Komite mencatat bahwa Museum Sejarah Aikawa telah memuat informasi mengenai pekerja yang berasal dari Semenanjung Korea.
Akan tetapi, Jepang direkomendasikan untuk terus berdialog dengan negara-negara pihak terkait agar sejarah situs tersebut selama seluruh periode pertambangan dapat disajikan secara lebih menyeluruh.
Tambang Sado berkembang sebagai tambang emas pada zaman Edo. Selama Perang Pasifik pada tahun 1941-1945, tambang tersebut dioperasikan untuk memperoleh bahan-bahan yang diperlukan bagi kepentingan perang.
Dalam prosesnya, warga Korea yang berada di bawah penjajahan Jepang dikerahkan untuk bekerja dalam kondisi yang buruk.
Sebanyak 1.519 orang warga Korea diketahui bekerja di Tambang Sado antara tahun 1940 hingga 1945.
Tambang Sado ditetapkan sebagai Warisan Dunia dalam Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-46 pada tahun 2024.
Saat itu komite merekomendasikan Jepang untuk menyusun strategi serta menyediakan fasilitas interpretasi dan penyajian yang membahas secara 'menyeluruh mengenai sejarah' situs tersebut selama seluruh periode pertambangan.
Jepang berjanji akan melaksanakan rekomendasi tersebut, tetapi langkah-langkah terkait dinilai belum diterapkan secara memadai hingga kini.
uyen81@korea.kr