Kebudayaan

2026.07.10

Pameran khusus Meja Makan Kita: Makanan, Alam, dan Kehidupan, yang menyoroti budaya kuliner Korea secara menyeluruh, tengah berlangsung di Museum Nasional Korea.

Pameran khusus Meja Makan Kita: Makanan, Alam, dan Kehidupan, yang menyoroti budaya kuliner Korea secara menyeluruh, tengah berlangsung di Museum Nasional Korea.



Penulis: Jeong Euiseok
Foto: Park Daejin

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap K-culture dan K-food, sebuah pameran khusus digelar untuk menelusuri kembali akar budaya kuliner Korea.

Museum Nasional Korea sejak tanggal 1 Juli 2026 menyambut pengunjung melalui pameran khusus bertajuk Meja Makan Kita: Makanan, Alam, dan Kehidupan, yang menyoroti budaya kuliner Korea secara menyeluruh.

Untuk menunjukkan bahwa akar K-food terletak pada meja makan sehari-hari masyarakat Korea, museum menghimpun beragam koleksi dari berbagai periode dan genre dalam satu pameran. Sebanyak 684 artefak dipamerkan, mulai dari benih padi berusia 3.000 tahun, lukisan genre yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa lampau, hingga catatan tentang cita rasa yang ditulis oleh seorang pencinta kuliner pada era Dinasti Joseon.

Pameran ini terbagi menjadi dua bagian utama, yakni Bagian 1, Meja Makan yang Menyertai Kehidupan, dan Bagian 2, Meja Makan yang Dibentuk oleh Alam.

Benih padi terkarbonisasi dari Zaman Perunggu yang ditemukan di Songguk-ri, Buyeo. Temuan ini merupakan bukti penting yang menunjukkan bahwa budidaya padi mulai dilakukan secara luas di Semenanjung Korea pada masa tersebut.

Benih padi terkarbonisasi dari Zaman Perunggu yang ditemukan di Songguk-ri, Buyeo. Temuan ini merupakan bukti penting yang menunjukkan bahwa budidaya padi mulai dilakukan secara luas di Semenanjung Korea pada masa tersebut.



"Sudah makan?" merupakan sapaan akrab yang menyambut pengunjung di pintu masuk. Begitu melangkah masuk ke ruang pameran, perhatian pengunjung langsung tertuju pada “Benih Padi Terkarbonisasi”.

Bahan organik seperti benih padi sulit mempertahankan bentuknya dalam waktu lama dalam kondisi lingkungan biasa. Namun, jika terbakar dalam kondisi minim oksigen, bahan organik akan berubah menjadi karbon sehingga tidak membusuk dan dapat bertahan selama ribuan tahun.

Benih padi yang ditemukan di Songguk-ri, Buyeo, pada tahun 1979 ini merupakan bukti penting bahwa budidaya padi secara intensif di Semenanjung Korea telah dimulai sejak Zaman Perunggu.

Selain itu, "Diagram Tata Letak Hidangan", yang menggambarkan cara menata makanan di atas meja, serta berbagai jenis "Soban", meja makan portabel dari era Dinasti Joseon, memberikan gambaran nyata tentang budaya makan masyarakat pada masa itu.

Di salah satu sisi ruang pameran, pengunjung juga dapat melihat kehidupan sehari-hari rakyat biasa pada era Dinasti Joseon. Karya Kim Hongdo berjudul "Kedai Minum" menggambarkan secara realistis seseorang yang duduk dalam posisi setengah jongkok sambil menyantap semangkuk gukbap.

Sementara itu, karya Kim Deukshin berjudul "Berkumpul untuk Makan dan Minum di Tepi Sungai" menangkap momen sederhana ketika orang-orang duduk di bawah naungan pohon willow dan berbagi makanan pada hari musim panas yang terik. Lukisan tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa itu yang sederhana, tetapi penuh dengan kehangatan dan kebersamaan.

Wonhaeng Eulmyo Jeongni Uigwe yang dipamerkan. Dokumen ini mencatat jamuan yang digelar selama kunjungan Raja Jeongjo ke Istana Sementara Hwaseong untuk memperingati ulang tahun ke-60 Putri Mahkota Hyegyeong, serta berbagai acara yang diselenggarakan setelah rombongan kerajaan kembali ke istana.

"Wonhaeng Eulmyo Jeongni Uigwe" yang dipamerkan. Dokumen ini mencatat jamuan yang digelar selama kunjungan Raja Jeongjo ke Istana Sementara Hwaseong untuk memperingati ulang tahun ke-60 Putri Mahkota Hyegyeong, serta berbagai acara yang diselenggarakan setelah rombongan kerajaan kembali ke istana.



Memasuki Bagian 2, Meja Makan yang Dibentuk oleh Alam, pengunjung dapat melihat sekilas budaya makan di lingkungan kerajaan. Salah satu koleksi utamanya adalah "Wonhaeng Eulmyo Jeongni Uigwe", catatan yang mendokumentasikan perjalanan Raja Jeongjo ke Istana Sementara Hwaseong pada tahun 1795 untuk merayakan ulang tahun ke-60 Putri Mahkota Hyegyeong, serta berbagai acara yang digelar setelah rombongan kerajaan kembali ke istana.

Catatan tersebut mendokumentasikan secara terperinci berbagai hidangan selama perjalanan delapan hari, mulai dari hidangan pesta dan santapan sehari-hari yang disajikan kepada Raja Jeongjo dan Putri Mahkota Hyegyeong hingga makanan yang diberikan kepada para peserta dan rombongan pengiring. Ilustrasi yang merekonstruksi hidangan sarapan kerajaan pada masa itu semakin menghidupkan suasana pameran.

Pengunjung juga dapat melihat berbagai koleksi yang berfokus pada meja makan yang, sesuai dengan tema bagian ini, "dibentuk oleh alam". Di antaranya adalah "Domun Daejak", karya pencinta kuliner era Dinasti Joseon Heo Gyun yang ditulis di tempat pengasingan sambil mengenang berbagai hidangan khas dari sejumlah daerah, gumpalan kedelai terkarbonisasi yang diperkirakan merupakan bentuk awal meju atau cheonggukjang, serta berbagai catatan sejarah mengenai makanan fermentasi.

Upaya kreatif museum untuk mengatasi keterbatasan dalam memamerkan makanan asli juga menarik perhatian. Pengunjung dapat menikmati pameran sambil mendengarkan suara autentik dari berbagai proses memasak. Sementara itu, layar digital berukuran besar menampilkan daerah penghasil produk perikanan, pertanian, dan peternakan dari delapan provinsi Korea dalam satu tampilan.

"Saya berharap pameran ini dapat menjadi kesempatan bagi pengunjung untuk merasakan bahwa meja makan kita terbentuk berkat alam di tanah ini dan usaha para leluhur yang menganggap makanan sama berharganya dengan langit," ujar Direktur Jenderal Museum Nasional Korea You Hong June.

Bagaimana jika kita menelusuri dan merasakan sendiri akar K-food melalui pameran ini? Pameran berlangsung hingga 25 Oktober 2026.

innocence@korea.kr

konten yang terkait