Kebijakan

2026.10.15

Presiden Lee Jae Myung (kelima dari kiri) menyampaikan sambutan pembuka dalam acara Pencanangan Visi Strategi Kependudukan yang digelar pada tanggal 14 Oktober 2026 di Cheong Wa Dae, Jongno-gu, Seoul.

Presiden Lee Jae Myung (kelima dari kiri) menyampaikan sambutan pembuka dalam acara Pencanangan Visi Strategi Kependudukan yang digelar pada tanggal 14 Oktober 2026 di Cheong Wa Dae, Jongno-gu, Seoul. 



Penulis: Yoon Sojung
Foto: Cheong Wa Dae

Presiden Lee Jae Myung mengatakan, "Inilah momentum untuk mengubah struktur dan kerangka kebijakan kependudukan Republik Korea. Kita harus merancang ulang seluruh sistem sosial dan ekonomi Korea secara mendasar agar selaras dengan perubahan demografi."

Presiden Lee menyampaikan pernyataan tersebut dalam acara Pencanangan Visi Strategi Kependudukan yang digelar pada 14 Oktober 2026 di Cheong Wa Dae, Jongno-gu, Seoul.

Dalam kesempatan itu, ia mengatakan, "Visi strategi kependudukan merupakan agenda penting yang menentukan masa depan Republik Korea."

Presiden Lee juga menyoroti kebijakan kependudukan yang dijalankan berbagai pemerintahan sebelumnya.

"Selama 20 tahun terakhir, berbagai pemerintahan telah memperkuat landasan kelembagaan untuk mengatasi rendahnya angka kelahiran dan penuaan penduduk sekaligus mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk upaya tersebut," ujarnya.

"Namun, persoalan kependudukan justru semakin kompleks dan berkembang menjadi masalah struktural yang kian serius," tambahnya.

Presiden Lee menegaskan, "Masalah kependudukan merupakan persoalan sosial yang kompleks. Penyebabnya mencakup tatanan tradisional yang membebankan tanggung jawab pengasuhan anak kepada individu, kecemasan akan masa depan, serta terbatasnya kesempatan. Kesempatan yang sudah terbatas itu pun terkonsentrasi pada segelintir orang sehingga menimbulkan kesenjangan."

"Pada akhirnya, yang terpenting adalah membangun negara tempat setiap warga dapat menikmati hidup bahagia di setiap tahap kehidupannya," lanjutnya.

Ia melanjutkan, "Harus ada harapan bahwa kita dan keluarga dapat hidup bahagia bersama di mana pun dan dengan siapa pun kita tinggal. Dari harapan itulah upaya mengatasi persoalan kependudukan dapat dimulai."

"Kebijakan kependudukan juga harus mencakup kebijakan ketenagakerjaan, kesejahteraan, lapangan kerja, perumahan, dan pendidikan," tegasnya.

Presiden Lee juga melihat peluang dari kembali meningkatnya jumlah kelahiran selama dua tahun berturut-turut serta kenaikan jumlah pernikahan sebesar 6,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam jangka panjang, ia juga menyoroti peluang yang dihadirkan revolusi kecerdasan buatan (AI), yang menandai perubahan besar dalam sejarah.

"Ini menjadi kesempatan untuk merancang ulang seluruh sistem dalam masyarakat, mulai dari industri dan lapangan kerja hingga pendidikan serta layanan pengasuhan dan perawatan," ujarnya.

Presiden Lee kemudian menegaskan, "Diperlukan perubahan mendasar dalam kebijakan kependudukan untuk mendorong pertumbuhan yang berkualitas."

"Kita harus menyusun langkah-langkah menyeluruh yang mencakup pernikahan, kelahiran, dan pengasuhan anak sekaligus memperkuat tanggung jawab negara dalam layanan pengasuhan dan perawatan serta meningkatkan kualitas lingkungan kerja," ujarnya.


Presiden Lee Jae Myung (keempat dari kiri) bertepuk tangan bersama para peserta dalam acara Pencanangan Visi Strategi Kependudukan yang digelar pada 14 Oktober 2026 di Cheong Wa Dae, Jongno-gu, Seoul.

Presiden Lee Jae Myung (keempat dari kiri) bertepuk tangan bersama para peserta dalam acara Pencanangan Visi Strategi Kependudukan yang digelar pada 14 Oktober 2026 di Cheong Wa Dae, Jongno-gu, Seoul.


arete@korea.kr

konten yang terkait