Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan pada tanggal 29 September 2026 menyampaikan Rencana Inovasi Jaringan Listrik dalam rapat kabinet untuk merancang ulang sistem jaringan listrik guna mendukung pengembangan energi terbarukan hingga lebih dari 100 gigawatt (GW) hingga tahun 2030. Foto di atas menunjukkan pemandangan pembangkit listrik tenaga surya terapung di Danau Daeho, Seosan, Provinsi Chungcheongnam. (Korea East-West Power)
Penulis: Charles Audouin
Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan pada tanggal 29 September 2026 menyampaikan Rencana Inovasi Jaringan Listrik dalam rapat kabinet untuk merancang ulang sistem jaringan listrik guna mendukung pengembangan energi terbarukan hingga lebih dari 100 gigawatt (GW) hingga tahun 2030.
Melalui kebijakan tersebut, daya tampung jaringan terhadap energi terbarukan pada tahun 2030 diperkirakan meningkat dari 119 GW menjadi 171 GW pada tingkat transmisi, serta dari 84 GW menjadi 110 GW pada tingkat distribusi.
Inti kebijakan ini adalah memperluas kapasitas sambungan energi terbarukan dengan memanfaatkan sistem penyimpanan energi (ESS).
Pemerintah akan menerapkan sistem sambungan fleksibel yang memungkinkan produksi listrik tenaga surya dibatasi sementara ketika melebihi kapasitas jaringan.
Dengan langkah ini, kapasitas sambungan tenaga surya pada jaringan distribusi akan dinaikkan dari 14 megawatt (MW) menjadi 16 MW, sedangkan kapasitas pada gardu induk akan meningkat dari 50 MW menjadi 60 MW.
Langkah tersebut memungkinkan wilayah Honam menampung tambahan kapasitas tenaga surya sebesar 2,6 GW tanpa perlu membangun jaringan listrik tambahan.
Pemerintah juga akan memperkenalkan sistem sambungan mandiri pada tahun 2027 setelah menjalankan proyek percontohan. Melalui sistem ini, pelaku usaha dapat membangun fasilitas pembangkit dengan kapasitas lebih besar daripada kapasitas sambungan yang tersedia dan mengendalikan
output listrik menggunakan ESS.
Standar penilaian sambungan juga akan diubah. Mulai sekarang, sambungan pembangkit energi terbarukan baru akan dinilai dengan asumsi bahwa energi terbarukan mendapat prioritas dalam pembangkitan dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dan gas alam cair (LNG).
Dengan perubahan tersebut, wilayah seperti Yeongnam dan Gangwon, yang memiliki banyak pembangkit listrik termal, diperkirakan dapat menampung tambahan energi terbarukan sebesar 20 GW hingga tahun 2030.
Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan mengatakan pembangunan jaringan listrik secara tepat waktu sangat mendesak untuk memastikan pasokan listrik yang stabil bagi proyek-proyek berskala besar, termasuk kompleks industri semikonduktor.
Kementerian menambahkan bahwa perluasan infrastruktur jaringan listrik diperlukan untuk menyalurkan listrik dari pusat pembangkitan ke pusat-pusat permintaan listrik.
caudouin@korea.kr