Kebijakan

2026.07.06

Presiden Lee Jae Myung dan Ibu Negara Kim Hae Kyung memberikan sapaan setelah menyelesaikan jadwal KTT G7 di Bandara Internasional Jenewa, Swiss. (Cheong Wa Dae)

Presiden Lee Jae Myung dan Ibu Negara Kim Hae Kyung memberikan sapaan setelah menyelesaikan jadwal KTT G7 di Bandara Internasional Jenewa, Swiss. (Cheong Wa Dae)



Penulis: Hong Angie

Presiden Lee Jae Myung akan mengunjungi Turkiye untuk menghadiri KTT NATO (Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara) lalu mengunjungi Mongolia.

Jadwal perjalanan Presiden Lee tersebut diungkapkan oleh Kepala Kantor Keamanan Nasional Cheong Wa Dae, Wi Sung-lac, dalam pengarahan yang digelar pada tanggal 3 Juli 2026.

Presiden Lee akan menghadiri KTT NATO (Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara) yang digelar di Ankara, Turkiye, pada tanggal 7-8 Juli 2026 (waktu setempat) melalui undangan dari Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte.

Ia kemudian akan melanjutkan kunjungan kenegaraan ke Mongolia pada tanggal 9-11 Juli 2026 melalui undangan dari Presiden Mongolia, Ukhnaagiin Khurelsukh.

Wi mengungkapkan bahwa cakrawala diplomasi Korea akan semakin meluas seiring dengan hadirnya Presiden Lee pada KTT NATO setelah menghadiri KTT G7 di bulan Juni 2026.

Ia menjelaskan, "(Kehadiran Presiden Lee) sangat bermakna karena bisa mendorong kerja sama dalam bidang pertahanan dengan negara-negara aliansi NATO yang merupakan pasar pertahanan terbesar di dunia dengan proporsi 55% dari pangsa pasar dunia."

Setelah tiba di Ankara pada tanggal 7 Juli 2026, Presiden Lee akan berdialog dengan Sekjen Rutte untuk berdiskusi terkait penguatan kerja sama antara Korea dengan NATO.

Setelah itu, Presiden Lee akan berdialog dengan para pemimpin negara mitra Asia-Pasifik, seperti Jepang, Australia, dan Selandia Baru.

Presiden Lee juga mungkin akan bertemu kembali dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, setelah sebelumnya sempat bertemu dalam KTT G7.

Presiden Lee juga akan menjadi panelis dan pembicara utama di Forum Industri Pertahanan dengan tema "Nilai-nilai Kebersamaan Berbasis Industri yang Lebih Kuat."

Presiden Lee akan memperkenalkan kemampuan suplai cepat dan daya saing industri pertahanan Korea serta mendorong landasan sistematis bagi perusahaan-perusahaan Korea agar bisa masuk ke dalam jaringan suplai NATO.

Selain itu, ia juga akan mendorong perluasan kerja sama dalam bidang inovasi, seperti drone, kecerdasan buatan, dan antariksa.

Setelah menyelesaikan jadwalnya di KTT NATO, Presiden Lee akan mengunjungi Mongolia pada tanggal 9-11 Juli 2026. Kunjungan tersebut akan menjadi kunjungan presiden Korea yang pertama dalam 15 tahun terakhir.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden Lee akan berdialog dengan Presiden Khurelsukh lalu bertukar nota kesepahaman, kemudian menggelar konferensi pers bersama.

Kedua presiden akan mengumumkan deklarasi bersama terkait Era Emas Hubungan Korea-Mongolia.

Deklarasi tersebut berisi mengenai penguatan hubungan kemitraan strategis dan pembukaan era pertukaran sumber daya manusia sebanyak 500 ribu orang hingga tahun 2030 yang menjadi titik 40 tahun hubungan diplomatik antara keduanya.

Presiden Lee dan Presiden Khurelsukh akan mendiskusikan perluasan kerja sama nyata dalam berbagai bidang, seperti jaringan suplai mineral kritis, keamanan pangan, tanggapan terhadap debu kuning, layanan medis dan kesehatan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain bertemu dengan Presiden Khurelsukh, Presiden Lee juga akan menjadi pembicara utama dalam Forum Bisnis Korea-Mongolia, mengunjungi Aula Peringatan Lee Tae-Joon, serta menghadiri dialog dengan diaspora Korea di Mongolia.

Pada hari terakhir kunjungannya di Mongolia, Presiden Lee akan hadir sebagai tamu kehormatan dalam Festival Naadam, yaitu festival terbesar di Mongolia. Ia akan menjadi presiden Korea pertama yang menghadiri festival tersebut.

Diplomasi perdamaian Semenanjung Korea juga menjadi salah satu agenda utama karena Mongolia memiliki hubungan persahabatan yang baik dengan pihak Utara.


shong9412@korea.kr

konten yang terkait