Foto di atas menunjukkan demonstrasi pemanenan hasil pertanian serta distribusi hasil panen dengan robot pada Agri Expo Korea yang digelar pada tanggal 25 September 2025 di aT Center, Seocho-gu, Seoul. (Agri Expo Korea)
Penulis: Charles Audouin
Pemerintah Korea mendorong transformasi kecerdasan buatan (AI) di industri pertanian dan pedesaan dengan target peningkatan produktivitas pertanian sebesar 30% dan pengurangan tenaga kerja sebesar 10% hingga tahun 2030.
Pemerintah akan mengimplementasikan penggunaan teknologi AI di seluruh bidang pertanian, mulai dari penanaman hingga distribusi hasil pertanian.
Selain itu, penggunaan AI diprediksi akan mampu meningkatkan daya saing tenaga kerja sekaligus mengurangi krisis tenaga kerja di lapangan.
Kementerian Pertanian, Pangan, dan Peternakan bersama Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Transformasi mengumumkan strategi transformasi AI tersebut pada tanggal 11 Maret 2026.
Di sektor produksi pertanian, pemerintah akan mendukung penerapan teknologi AI beserta infrastruktur terkait pada pertanian di lahan terbuka.
Pada tahun 2026 pemerintah berencana menyediakan teknologi pengelolaan irigasi serta sistem pemantauan dan prediksi hama dan penyakit pada sekitar 500 hektare lahan di lima kawasan sentra produksi komoditas sawi putih dan bawang daun.
Untuk lahan pertanian berskala kecil dan menengah di bawah 0,5 hektare, pemerintah juga akan mengembangkan model pertanian yang lebih terjangkau untuk didistribusikan secara luas.
Selain itu, pemerinatah akan mengembangkan teknologi pertanian nirawak dengan memanfaatkan drone dan mesin pertanian cerdas.
Teknologi tersebut akan terlih dahulu diterapkan pada tanaman utama seperti kedelai dan gandum sebelum diperluas ke berbagai jenis tanaman lainnya.
Per Juni 2026 pun pemerintah akan memanfaatkan drone karantina berbasis AI untuk memantau kepadatan habitat burung migran serta melakukan uji coba otomatisasi fasilitas disinfeksi di titik-titik strategis.
Pemerintah juga membuat peta risiko rencana berbasis AI melalui analisis data bencana dan cuaca. Selain itu, sistem tanggapan krisis juga disiapkan dengan memanfaatkan AI untuk mempredikisi ketersediaan air tanah bagi keperluan pertanian sehingga dapat dikelola secara preventif.
Penggunaan AI juga diterapkan di bidang distribusi produk pertanian melalui proses penerimaan, penyortiran, dan pengiriman produk di Pusat Pemrosesan Produk Pertanian (APC). AI pun akan dimanfaatkan dalam penilaian mutu produk peternakan guna meningkatkan tingkat akurasinya.
Pemerintah mengungkapkan target pembangunan 55 tempat APC Pintar hingga akhir tahun 2026.
Sejak tahun 2023, Pemerintah Provinsi Gyeongsangbuk telah mendorong peningkatan skala dan digitalisasi untuk 16 APC dari 133 APC yang berada dalam provinsi tersebut. Foto di atas menunjukkan bagian dalam salah satu APC Pintar. (Pemerintah Provinsi Gyeongsangbuk)
Pemerintah Seongju-gun di Provinsi Gyeongsangbuk bahkan sudah menerapkan sistem pemilahan AI otomatis untuk komoditas chamoe (melon Korea).
Sistem tersebut memilah chamoe berdasarkan kualitas, ukuran, dan kerusakan pada kulit buah secara otomatis dengan menggunakan kamera dan sensor canggih.
Penerapan sistem tersebut dapat meningkatkan jumlah chamoe yang dipilah per jam hingga 20-30% serta mengurangi jumlah tenaga kerja hingga 50%.
Pada paruh kedua tahun 2026, pemerintah akan meluncurkan satelit untuk memantau luas area budidaya komoditas padi, hortikultura, dan produk peternakan guna meningkatkan sistem prediksi pasokan dan permintaan hasil pertanian.
Selain itu, sebuah aplikasi perbandingan harga produk pertanian akan diuji coba di lima wilayah untuk meningkatkan kenyamanan para konsumen.
Kualitas kehidupan masyarakat di desa pertanian pun akan meningkat melalui penerapan AI dalam pengobatan nontatap muka, mesin administrasi, pemilahan sampah, dan halte bus.
Zona Kehidupan Desa Pertanian Pintar yang menggunakan layanan AI pun akan diperluas hingga mencapai 100 wilayah pada tahun 2030.
Untuk mendorong keberlanjutan ekosistem industri, pemerintah akan mendukung 3.000 perusahaan rintisan yang dianggap memiliki prospek hingga tahun 2030.
Selain itu, industri pertanian akan diperkokoh dengan membangun sistem berlandaskan data pertanian.
Menteri Pertanian, Pangan, dan Peternakan mengatakan, "AI adalah landasan utama yang menentukan keberlanjutan dan daya saing masa depan industri serta desa pertanian."
Ia melanjutkan, "Kami akan membuat perubahan yang dapat dirasakan melalui penerapan AI di seluruh industri pertanian dan pedesaan."
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Informasi, Bae Kyunghoon, mengungkapkan, "Kami akan mendukung penuh transformasi AI di industri dan desa pertanian."
Ia menambahkan, "Kami akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk penggunaan data sistematis serta peningkatan kemampuan teknis terkait AI di industri pertanian."
caudouin@korea.kr