Institut Kesehatan Nasioanl (NIH) di bawah Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) pada tanggal 10 Desember 2025 mengumumkan bahwa pihaknya berhasil mengungkap penyebab gangguan kognitif, termasuk penurunan konsentrasi dan daya ingat yang dilaporkan setelah infeksi Covid-19, melalui penelitian berbasis uji coba pada hewan. Foto di atas menunjukkan seorang warga yang sedang menjalani tes Covid-19 di lokasi pemeriksaan sementara di depan Stasiun Seoul, Jung-gu, Seoul, pada tanggal 17 Desember 2020. (Korea.net DB)
Penulis: Charles Audouin
Hasil penelitian menunjukkan bahwa protein virus Covid-19 menurunkan plastisitas sinaps dan memicu penumpukan protein neurodegeneratif, sehingga menyebabkan gangguan fungsi kognitif.
Institut Kesehatan Nasioanl (NIH) di bawah Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) pada tanggal 10 Desember 2025 mengumumkan bahwa pihaknya berhasil mengungkap penyebab gangguan kognitif, termasuk penurunan konsentrasi dan daya ingat yang dilaporkan setelah infeksi Covid-19, melalui penelitian berbasis uji coba pada hewan.
Tim peneliti memberikan protein spike (S1) virus Covid-19 melalui hidung tikus. Hasilnya, kemampuan belajar dan mengingat menurun, yang ditandai dengan waktu yang lebih lama untuk menemukan platform tersembunyi, serta meningkatnya perilaku kecemasan di lingkungan asing. Pola yang diamati ini dinilai serupa dengan penurunan fungsi kognitif yang muncul setelah infeksi Covid-19.
Hal ini dianalisis sebagai akibat dari protein S1 yang mencapai otak, mengganggu fungsi koneksi antarsel saraf (sinaps), serta menurunkan ekspresi gen reseptor NMDA yang berperan penting dalam pembentukan memori. Enam minggu setelah pemberian protein S1, juga ditemukan penurunan jumlah sel saraf di otak tikus.
Selain itu, peningkatan penumpukan protein toksik yang dapat memicu penyakit, termasuk demensia dan Parkinson juga terdeteksi, sehingga memunculkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kerusakan otak dalam jangka panjang.
Namun, obat diabetes metformin dapat menghambat perubahan patologis tersebut, sehingga menarik perhatian sebagai kandidat terapi potensial untuk gangguan kognitif pasca-Covid-19. Pada tikus yang diberi metformin dalam kondisi yang sama, terlihat adanya pemulihan fungsi sel saraf serta penurunan penumpukan protein toksik.
KDCA menjelaskan, "Metformin merupakan obat yang telah digunakan secara luas, dan hasil penelitian ini menjadi bukti ilmiah pertama yang menunjukkan kemungkinan terapi untuk gangguan kognitif setelah Covid-19."
KDCA juga menyampaikan bahwa pihaknya berencana untuk meninjau potensi metformin sebagai terapi komplikasi pasca-Covid-19 melalui penelitian klinis ke depan.
KDCA sejak Agustus 2022 telah melakukan penelitian dan uji klinis untuk mengidentifikasi pola serta penyebab sindrom long Covid, sekaligus mencari kandidat obat untuk pengobatannya.
Kepala KDCA, Lim Seung-gwan, mengatakan, "Kami akan terus mendukung penelitian penyakit otak guna merumuskan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang berbasis pada bukti ilmiah."
Ringkasan Hasil Penelitian. (Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea)
caudouin@korea.kr