Presiden Lee Jae Myung dan Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, menggelar KTT Korea-Brasil pada tanggal 27 Juli 2026 (waktu setempat) di kediaman resmi Presiden Brasil. (Cheong Wa Dae)
Hong Hyun-ik
Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Korea untuk UNESCO
Republik Korea yang senantiasa menghadapi ancaman nuklir dari Utara tidak punya pilihan lain selain menempatkan keamanan nasional sebagai prioritas utama. Itulah sebabnya pemerintahan Lee Jae Myung berupaya memulihkan hubungan dengan Utara dengan berlandaskan kepercayaan dan solidaritas antara Korea, Amerika Serikat, dan Jepang.
Pada saat yang sama, pemerintah pun berupaya menormalisasi hubungan dengan Tiongkok yang berpengaruh terhadap keamanan Semenanjung Korea. Untuk memulihkan hubungan kemitraan strategis dengan Tiongkok yang memburuk pada masa pemerintahan sebelumnya, Presiden Lee melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok sejak awal tahun 2026 dan langsung melanjutkan lawatan ke Jepang.
Presiden Lee juga terus bertemu dengan Presiden AS, Donald Trump, baik dalam pertemuan bilateral maupun multilateral, untuk memperkuat kepercayaan pada berbagai tingkat. Dengan demikian, Presiden Lee lebih dahulu membangun fondasi diplomasi untuk memperkuat keamanan nasional.
Bidang yang kian penting selain keamanan politik dan militer adalah keamanan ekonomi, perdagangan, dan industri. Persaingan dalam bidang itu berlangsung sengit bahkan di antara negara-negara sekutu sehingga diplomasi praktis yang menyeluruh sangat diperlukan.
Presiden Trump memulai perang tarif dengan mengedepankan kepentingan negaranya sendiri, sementara persaingan AS dan Tiongkok telah mengganggu rantai pasok global. Perang Rusia-Ukraina dan perang AS-Iran juga telah memutus pasokan minyak serta bahan baku sehingga mendorong lonjakan harga dunia dan membuat perekonomian global mengalami kekacauan.
Korea harus mengimpor sebagian besar energi dan bahan bakunya serta memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap perdagangan. Oleh karena itu, Korea sangat perlu mengamankan rantai pasok dan pasar ekspor.
Stabilitas pasokan tanah jarang, litium, tembaga, minyak, dan gas bahkan menjadi penentu kelangsungan industri semikonduktor, baterai, serta kimia yang akan menjadi industri andalan Korea pada masa mendatang.
Hal tersebut melatarbelakangi lawatan diplomatik Presiden Lee mulai tanggal 24 Juli hingga 3 Agustus 2026. Ia memulai lawatannya dari San Fransisco di AS lalu mengunjungi Brasil, Cili, dan Argentina. Ia juga bertemu dan memberikan dukungan kepada diaspora Korea di Frankfurt di Jerman sebelum kembali ke Korea.
Hasil dan Makna Lawatan
Presiden Lee terlebih dahulu mengunjungi San Fransisco yang merupakan pusat industri kecerdasan buatan (AI) dunia. Di sana ia bertemu dengan para pemimpin perusahaan global, seperti Jensen Huang dari NVIDIA, Sam Altman dari OpenAI, Dario Amodei dari Anthropic, dan Hock Tan dari Broadcom. Ia pun mengajak mereka untuk berinvestasi di Korea.
Selain itu, Presiden Lee mendorong pembangunan jaringan kerja sama AI yang saling menguntungkan antara pemimpin-pemimpin perusahaan tersebut dengan pemimpin-pemimpin perusahaan Korea, yaitu Lee Jae-yong dari Samsung Electronics, Chey Tae-won dari SK hynix, Euisun Chung dari Hyundai Motor, dan Lee Hae-jin dari Naver. Jaringan tersebut mencakup kerja sama semikonduktor senilai 950 miliar dolar.
Presiden Lee juga menyepakati kerja sama permodalan dengan para pemimpin perusahaan modal ventura global. Melalui Deklarasi San Fransisco, ia menyatakan bahwa Korea akan melompat menjadi negara inti yang tak tergantikan dalam rantai pasok AI global.
Langkah tersebut telah memperkuat landasan industri teknologi termutakhir yang akan menjadi mesin pertumbuhan Korea pada masa mendatang sekaligus meletakkan pijakan global yang kokoh bagi Korea untuk menjadi negara maju dalam bidang AI.
Lawatan ke Amerika Selatan selanjutnya berfokus pada peningkatan perdagangan, pengamanan ranti pasok sumber daya penting, serta perluasan jangkauan diplomasi Korea ke negara-negara di belahan selatan.
Presiden Lee melakukan kunjungan kenegaraan ke Brasil yang merupakan negara dengan wilayah, populasi, dan pengaruh terbesar di Amerika Selatan. Ia bertemu dengan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva yang sama-sama memiliki latar belakang sebagai pekerja sejak usia muda serta memiliki pandangan hidup serupa. Keduanya kembali menegaskan solidaritas dan kepercayaan antara Korea dengan Brasil.
Presiden Lula berkomitmen untuk melanjutkan perundingan perdagangan antara Korea dan Pasar Bersama Amerika Selatan (MERCOSUR). Kesepakatan tersebut telah membuka pijakan bagi perusahaan Korea untuk memasuki pasar Amerika Selatan yang berpenduduk 280 juta jiwa.
Korea dan Brasil juga menandatangani tujuh nota kesepahaman (MoU) dalam berbagai bidang, seperti energi dan antariksa. Keduanya sepakat untuk mengembangkan mineral penting dan memperkuat rantai pasok, termasuk tanah jarang yang cadangannya di Brasil merupakan terbesar di dunia, nikel, serta bijih besi.
Kedua presiden juga menyepakati kerja sama industri pertahanan, seperti melalui pengembangan bersama untuk pesawat sipil generasi mendatang serta membuka peluang bagi perusahaan Korea untuk memasuki pasar Brasil, termasuk dalam industri kecantikan.
Korea dan Brasil bertekad menjadi mitra ideal dengan memadukan teknologi inovatif dan kemampuan manufaktur Korea dengan kekayaan sumber daya serta energi Brasil. Keduanya juga sepakat untuk bersama-sama membangun rantai pasok yang stabil dan memimpin industri masa depan.
Cili merupakan negara pertama yang menandatangani FTA (perjanjian perdagangan bebas) dengan Korea. Korea dan Cili kemudian sepakat untuk memodernisasi perjanjian tersebut setelah 22 tahun menjalin hubungan sebagai mitra perdagangan bebas internasional.
Korea memiliki daya saing global dalam bidang manufaktur berteknologi tinggi, seperti baterai, kendaraan, semikonduktor, dan AI. Sementara itu, Cili merupakan produsen tembaga terbesar di dunia sekaligus negara dengan cadangan litium terbesar yang menjadi basis pasokan utama bagi industri ramah lingkungan global.
Korea dan Cili pun sepakat untuk menjadi mitra kerja sama ideal. Cili juga diharapkan dapat membantu Korea bergabung dengan Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).
Presiden Lee kemudian mengunjungi Argentina yang memiliki cadangan litium terbesar keempat dan cadangan gas serpih terbesar kedua di dunia. Kunjungan tersebut merupakan kunjungan pertama seorang presiden Korea ke Argentina dalam 22 tahun sekaligus menghidupkan kembali diplomasi tingkat tinggi bilateral di antara keduanya.
Presiden Lee dan Presiden Javier Milei menandatangani MoU kerja sama mineral penting yang mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari eksplorasi, penambangan, hingga pengolahan. Keduanya juga menandatangani Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda. Impor minyak mentah dari Argentina yang mulai diuji coba pada tahun 2026 disepakati untuk dilaksanakan secara penuh mulai tahun 2027.
Lawatan tersebut menanggapi gelombang proteksionisme dan ketidakstabilan rantai pasok global dengan membangun jaringan yang saling menguntungkan antara perusahaan-perusahaan AI global termutakhir dari Korea dan AS sebagai mesin pertumbuhan masa depan Korea. Selain itu, lawatan itu pun mewujudkan strategi keamanan ekonomi untuk memperkuat rantai pasok melalui diplomasi.
Pengembangan industri berteknologi termutakhir dan pengamanan sumber daya telah memperkuat daya saing industri Korea pada masa mendatang sekaligus menjamin keamanan ekonominya. Langkah tersebut menunjukkan esensi diplomasi praktis.
Tugas Diplomasi Korea ke Depan
Korea kini telah menggelar KTT (konferensi tingkat tinggi) bilateral dengan seluruh negara anggota G20, kecuali Rusia. Hal tersebut menjadi landasan bagi Korea untuk menjalankan perannya sebagai ketua G20 pada tahun 2028.
Rusia diketahui menginginkan normalisasi hubungan dengan Korea. Apabila Korea mampu memanfaatkan hal tersebut dan menjaga keseimbangan yang fleksibel dalam hubungan antara Rusia dengan negara-negara Barat, Korea dapat menyempurnakan diplomasi praktis yang menyeluruh.
Korea juga perlu memperkuat kemampuan pertahanan mandiri dan mengambil kembali wewenang pengendalian operasi militer pada masa perang. Selain itu, Korea perlu terus menyampaikan keinginannya untuk hidup berdampingan secara damai dan menjalin kerja sama yang saling menguntungkan.
Apabila Korea mempertahankan kebijakan diplomasi yang berlandaskan kepercayaan diri tersebut, pihak Utara pada akhirnya juga akan memilih jalan dialog dan perdamaian di Semenanjung Korea akan menjadi semakin kokoh.
Hong Hyun-ik saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Komisi Nasional untuk UNESCO. Ia telah meneliti keamanan dan strategi nasional Korea sejak tahun 1997 di Institut Sejong. Bidang penelitiannya antara lain adalah permasalahan nuklir Korea Utara, hubungan antar-Korea, aliansi Korea-AS, hubungan Korea-AS, hubungan Korea-Rusia, serta pembentukan sistem perdamaian di Semenanjung Korea. Ia pernah menjabat sebagai Rektor Akademi Diplomatik Nasional Korea serta Kepala Subkomite Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional di Komite Presiden untuk Perencanaan Kebijakan.