Penulis: Wartawan Kehormatan Irez Anggraini dari Indonesia
Foto: Irez Anggraini
Bagi masyarakat Korea, makan bersama bukan sekadar tentang mengisi perut, melainkan wujud rasa hormat dan sarana mempererat kebersamaan. Mulai dari posisi duduk, urutan menyantap hidangan, hingga etika penggunaan alat makan, semuanya menyimpan makna sosial yang mendalam.
Budaya makan Korea ini menjadi salah satu materi yang disampaikan dalam kelas budaya King Sejong Institute Jakarta (KSIJ) pada Minggu (16/8/2026). Berlangsung di ruang kelas KSIJUniversitas Atma Jaya, Jakarta, materi kali ini dibawakan oleh salah seorang staf KSIJ, Nabilah Istnaini Rachmah.
Kelas budaya ini tidak hanya diperuntukkan bagi murid KSIJ, tetapi juga terbuka untuk masyarakat umum. Selain tentang budaya makan, peserta juga dibekali materi terkait kerajinan dari kertas tradisional Korea.
Kelas budaya ini berlangsung dalam dua sesi terpisah dengan jadwal dan peserta yang berbeda. Meski materi yang disampaikan pada kedua sesi sama, praktik yang dilakukan peserta berbeda.
Pada sesi pertama, peserta berfokus pada praktik pembuatan kerajinan kertas tradisional berbentuk piring kecil, sedangkan pada sesi kedua, peserta mempraktikkan pembuatan kerajinan berbentuk sekesel mini.
Staf KSIJ, Nabilah Istnaini Rachmah, menjelaskan materi tentang budaya makan Korea serta kerajinan dari kertas tradisional Korea di kelas budaya yang berlangsung pada Minggu (16/8/2026) di ruang kelas KSIJ, Universitas Atma Jaya, Jakarta.
Nabilah memaparkan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan saat makan bersama di Korea. Pertama adalah menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua atau yang dihormati. Saat makan bersama, orang yang lebih tua dipersilakan untuk mengambil makanan terlebih dahulu.
Selain itu, kecepatan makan idealnya menyesuaikan dengan kecepatan makan orang tersebut. Orang yang lebih muda tidak diperkenankan meninggalkan meja makan lebih dulu, serta biasanya bertugas menuangkan minuman untuk yang lebih tua.
Kemudian ada pula etika penggunaan alat makan. Di Korea, alat makan utama yang digunakan adalah sendok dan sumpit dengan pembagian fungsi yang jelas, yaitu sendok untuk mengambil nasi dan sup, sedangkan sumpit digunakan khusus untuk mengambil lauk-pauk. Keduanya pun tidak boleh dipegang secara bersamaan.
Saat menyantap hidangan, mangkuk sebaiknya tetap diletakkan di atas meja dan tidak diangkat mendekati mulut karena dianggap kurang sopan. Selain itu, dianjurkan untuk tidak mengeluarkan suara keras saat mengunyah maupun saat menggunakan alat makan.
Nabilah turut menjelaskan penataan meja dan alat makan di Korea. Biasanya, hidangan yang disajikan meliputi nasi, sup, kimci, bancan, serta sendok dan sumpit.
Selain itu, kerajinan berbahan hanji (kertas tradisional Korea) dapat dimanfaatkan sebagai peralatan pendukung, seperti alas makan, piring, atau mangkuk kecil untuk wadah kimci dan kue.
Meski berbahan dasar kertas, peralatan tradisional dari hanji ini sangat aman digunakan karena menggunakan bahan alami yang tidak berbahaya saat bersentuhan langsung dengan makanan.
Suasana kelas budaya KSIJ dengan materi budaya makan Korea dan kerajinan dari kertas tradisional Korea yang berlangsung pada Minggu (16/8/2026) di ruang kelas KSIJ, Universitas Atma Jaya, Jakarta.
Terkait materi kerajinan dari hanji, Nabilah menyampaikan bahwa seni ini diperkirakan mulai dibuat sejak abad ke-3 Masehi dan berkembang pesat pada zaman Goryeo (918-1392) serta Dinasti Joseon (1392-1910).
Hanji terbuat dari kulit pohon mulberry yang tumbuh subur di Korea dan menghasilkan kertas yang kuat, tahan lama, dan bertekstur unik. Kerajinan hanji tidak hanya diolah menjadi wadah makanan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai bahan pelapis lantai dan dinding rumah, pembuatan kipas, kotak perhiasan, lampu hias, hingga beragam aksesori.
Salah satu bentuk hiasan hanji yang paling populer adalah sekesel tradisional Korea. Seni ini awalnya diperkenalkan dari Tiongkok dan berkembang menjadi bagian khas dari kebudayaan Korea sejak zaman Goryeo.
Sekesel umumnya dipasang dalam berbagai upacara penting, seperti pernikahan, perayaan ulang tahun ke-60, hingga ritual pemakaman. Motif lukisan yang menghiasi sekesel pun mengandung makna filosofis yang mendalam, bergantung pada gambar yang ditorehkan di atas kertas:
Hasil kerajinan sekesel mini bermotif lukisan tumbuhan dan serangga yang dibuat penulis pada Minggu (16/8/2026) di ruang kelas KSIJ, Universitas Atma Jaya, Jakarta.
Seorang murid KSIJ bernama Erica mengaku sangat menikmati kegiatan ini karena dapat menambah wawasan baru, khususnya mengenai etika sopan santun di meja makan masyarakat Korea.
Sementara itu, Andreas Gunawan Putra, peserta dari masyarakat umum, merasa senang dapat mempraktikkan langsung proses pembuatan sekesel tradisional ala Korea.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.