Penulis: Wartawan Kehormatan Arif Sakhbana Lubis dari Indonesia
Haman Nakhwa nori merupakan sebuah tradisi kembang api tradisional Korea yang berasal dari Haman-gun, Provinsi Gyeongsangnam.
Penulis berkesempatan menyaksikan pertujukan nakhwa nori pada tanggal 27 Juli 2026 melalui tur ke Haman-gun yang diselenggarakan oleh Gaya Tumuli World Heritage Management Foundation sebagai salah satu acara pendamping dalam Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 yang diselenggarakan di Busan.
Para peserta Tur Gaya Tumuli menikmati Haman nakhwa nori pada tanggal 27 Juli 2026 di Paviliun Mujinjeong, Haman-gun, Provinsi Gyeongsangnam. (Park Daejin dari Korea.net)
Haman nakhwa nori pada dasarnya merupakan festival tahunan dalam rangka memperingati kelahiran Buddha sebagai bentuk doa untuk kesejahteraan masyarakat setempat dan pengharapan untuk hasil panen yang melimpah.
Mengutip penjelasan dari laman pemerintah Haman-gun, kepala daerah Haman bernama Oh Hwaeng-muk menulis catatan berjudul Haman Chongswaerok selama ia memerintah pada tahun 1890. Menurut catatan tersebut, nakhwa nori pada saat itu digelar di Kawasan Benteng Haman-eup dan menarik banyak orang untuk menyaksikannya.
Tradisi tersebut sempat terhenti akibat kebijakan pemerintah kolonial Jepang (1910-1945) yang bertujuan menghapus kebudayaan Korea, tetapi dihidupkan kembali pada tahun 1985.
Berkat keunikan budayanya, Haman nakhwa nori ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Provinsi Gyeongsangnam pada tahun 2008. Selain itu, metode pembuatan nakhwabong (batang kembang api tradisional) memperoleh paten pada Agustus 2013.
Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat batang kembang api tradisional Korea. Foto di atas dipotret pada tanggal 27 Juli 2026 di Haman-gun, Provinsi Gyeongsangnam. (Arif Sakhbana Lubis)
Haman nakhwa nori tidak menggunakan kembang api modern seperti yang ada saat ini, tetapi terus mempertahankan tradisinya menggunakan nakhwabong.
Pembawa acara yang menyebutkan, "Di zaman modern yang serba maju dan segala sesuatunya dilakukan dengan sangat cepat, kami tetap berusaha mempertahankan cara tradisional dalam membuat nakhwabong dan tradisi penggelaran acara nakhwa nori."
Penulis pun mendapatkan kesempatan untuk mencoba langsung pembuatan nakhwabong. Nakhwabong ini dibuat dari bubuk arang yang dihasilkan dari pembakaran kayu pohon ek.
Bubuk-bubuk arang tersebut dimasukkan ke dalam kertas tradisional bernama hanji dengan kain katun yang berfungsi sebagai sumbu kembang api di dalamnya.
Bungkusan tersebut kemudian dipilin membentuk spiral dan diikat menggunakan tali rafia serta dilengkapi besi kecil sebagai pengait saat digantung.
Nakhwabong yang telah selesai dibuat, kemudian digantung di atas kolam yang berada di area Paviliun Mujinjeong.
Pembakaran nakhwabong oleh Komunitas Pelestari Nakhwa Nori dalam pertunjukan nakhwa nori pada tanggal 27 Juli 2026 di Haman-gun, Provinsi Gyeongsangnam. (Arif Sakhbana Lubis)
Setelah menyelesaikan pembuatan nakhwabong, penulis menyaksikan pertunjukan kembang api tradisional tersebut.
Pertunjukan dimulai dengan membakar nakhwabong satu per satu. Percikan api dari 1.200 nakhwabong yang digantung tersebut berjatuhan di atas kolam sehingga menciptakan pemandangan indah.
Keindahan kembang api yang menyala di atas permukaan air serta alunan musik tradisional Korea pun membuat suasana menjadi semakin khidmat dan spesial.
Potret keindahan pertunjukan nakhwa nori pada tanggal 27 Juli 2026 di Paviliun Mujinjeong, Haman-gun, Provinsi Gyeongsangnam. (Arif Sakhbana Lubis)
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.