Penulis: Wartawan Kehormatan Audrey Regina dari Indonesia
Foto: Audrey Regina
Gyeongju adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Gyeongsangbuk dan dulunya dikenal sebagai ibukota Dinasti Silla (57 SM s/d 935 M).
Kota yang dulunya dikenal dengan nama Seorabol ini memiliki keunikan, yaitu hampir di setiap sudut jalannya terdapat bukit yang merupakan makam-makam dari keluarga kerajaan Dinasti Silla.
Bagi penulis pribadi, bentuk makam yang ada di Korea memang unik dan sedikit berbeda dari makam pada umumnya.
Pada tanggal 19 Juli 2026 penulis berkesempatan pergi ke Gyeongju dan mampir ke Makam Geumgwanchong.
Di sana penulis belajar banyak hal tentang sejarah Dinasti Silla, terutama tentang proses pemakaman pada zaman Dinasti Silla.
Makam ini merupakan makam milik Raja Isaji yang namanya terukir pada salah satu pedang yang juga ditemukan pada saat konservasi.
Foto kiri merupakan potret awal Makam Cheonmachong, makam lainnya tak jauh dari Makam Geumgwanchong yang diperkirakan diambil pada tahun 1910 sebelum kolonialisme Jepang. Foto kanan merupakan potret dari Makam Geumgwanchong. Foto di atas dipotret tanggal 19 Juli 2026.
Berdasarkan informasi yang ada di lokasi, makam tersbut ditemukan pada tahun 1921, pada zaman kolonialisme Jepang di Korea (1910-1945).
Pada tahun tersebut Jepang membangun jalan di pusat kota Gyeongju dan akibat dari proyek tersebut, diperkirakan banyak makam lainnya yang rusak atau hancur.
Peninggalan pertama yang ditemukan di sana adalah mahkota emas atau geumgwan sehingga makam itu kelak dinamakan Makam Geumgwanchong.
Beberapa artefak lain yang ditemukan adalah pedang, cincin emas, ikat pinggang emas, dan perhiasan-perhiasan lainnya yang terbuat dari emas.
Di Makam Geumgwanchong, pengunjung juga dapat mempelajari cara orang-orang pada zaman Dinasti Silla membuat makam dengan bentuk yang menyerupai gundukan bukit.
Kurang lebih terdapat enam tahapan, mulai dari konstruksi awal saat lokasi makam diratakan lalu lubang persegi panjang sedalam 40 cm digali di bagian tengah dan batu-batu ditumpuk untuk menjadi dasar lantai tempat jenazah akan berbaring.
Setelahnya dibangun pilar-pilar yang terbuat dari kerangka kayu untuk dijadikan penopang gundukan.
Ruang kosong yang ada di antara kerangka kayu kemudian diisi dengan batu sungai untuk dijadikan dinding.
Setelah gundukan batu selesai, dilanjutkan dengan upacara pemakaman saat jenazah ditempatkan di ruang pemakaman bagian dalam.
Lalu setelah pemakaman selesai, langit-langit luar ditutupi dengan gundukan batu lagi dan dipadatkan dengan tanah liat sehingga membentuk gundukan pemakaman.
Ilustrasi dari proses pembangunan makam zaman Dinasti Silla. Foto di atas dipotret tanggal 19 Juli 2026.
Selain itu, berdasarkan informasi yang tersedia di lokasi, penulis menemukan sebuah fakta menarik.
Pada salah satu peninggalan berupa pedang yang terukir nama Raja Isaji ditemukan, sempat terjadi kontroversi karena Raja Isaji adalah nama yang tidak dapat ditemukan di catatan sejarah mana pun.
Namun, berdasarkan artefak yang berhasil digali, peneliti mengasumsikan bahwa makam ini adalah milik seorang wanita.
Selain itu, pada masa Maripgan (mulai dari pertengahan abad ke-4) ketika Makam Geumgwanchong dibangun, terdapat enam orang raja termasuk Raja Naemul ke-17 (356-402 M) sehingga terdapat beberapa pendapat yang mengasumsikan bahwa Raja Isaji adalah salah satu dari enam orang raja tersebut.
Namun, karena ada asumsi bahwa makam ini adalah makam seorang wanita, maka terdapat pula kemungkinan bahwa Raja Isaji adalah suami dari wanita tersebiut.
Hingga saat ini, identitas sebenarnya dari jenazah di Makam Geumgwanchong masih menjadi tugas penting yang membutuhkan penyelidikan berkelanjutan.
Potret dari Makam Geumgwanchong. Di bagian tengah terdapat tempat membaringkan jenazah dan benda-benda peninggalannya, lalu ditutupi lagi oleh kerangka kayu dan tumpukan batu. Foto di atas dipotret tanggal 19 Juli 2026.
Secara keseluruhan, penulis merasa kunjungan ke Makam Geumgwanchong ini sangat menarik dan banyak pelajaran yang didapat, terutama terkait sejarah Dinasti Silla.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.