Penulis: Wartawan Kehormatan Arif Sakhbana Lubis dari Indonesia
Tur Komemoratif Warisan Budaya Dunia Marisan Tumuli diadakan oleh Gaya Tumuli World Heritage Management Foundation pada tanggal 27 Juli 2026 di Haman-gun, Provinsi Gyeongsangnam. (Park Daejin dari Korea.net)
Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 yang diselenggarakan di Busan pada tanggal 19 Juli – 29 Juli 2026 telah berakhir. Selain agenda utama persidangan komite, Korea sebagai tuan rumah juga menggelar tur untuk mengunjungi Warisan Dunia UNESCO yang ada di Korea, salah satunya Gaya Tumuli.
Gaya Tumuli merupakan tujuh kompleks pemakaman yang merupakan peninggalan dari kerajaan-kerajaan kecil yang berdiri sekitar abad ke-1 hingga pertegangahan abad ke-6 di wilayah selatan Semenanjung Korea. Kerajaan-kerajaan kecil ini membetuk satu kesatuan politik menjadi sebuah konfederasi yang dikenal dengan Konfederasi Gaya.
Tujuh kelompok makam Gaya Tumuli ini merepresentasikan entitas politik dalam Konfederasi Gaya. Daeseong-dong Tumuli merepresentasikan Geumgwan Gaya, Marisan Tumuli merepresentasikan Ara Gaya, sementara Jisan-dong Tumuli dan Okjeon Tumuli merepresentasikan Daegaya beserta wilayah pengaruhnya.
Songhak-dong Ancient Tombs merepresentasikan Sogaya, sedangkan Gyodong and Songhyeon-dong Tumuli merepresentasikan Bihwa Gaya. Sementara itu, Yugok-ri and Durak-ri Ancient Tombs tidak mewakili satu kerajaan tertentu, melainkan menjadi bukti meluasnya pengaruh politik dan budaya Konfederasi Gaya hingga wilayah Namwon.
Tumuli merupakan gundukan makam menyerupai bukit. Potret yang diambil pada tanggal 27 Juli 2026 di atas adalah Komplek Pemakaman Haman Tumuli, Haman-gun, Provinsi Gyeongsangnam. (Park Daejin dari Korea.net)
Pada tanggal 27 dan 29 Juli 2026 penulis berkesempatan mengunjungi situs dan museum Gaya Tumuli, yakni Marisan Tumuli, Gyodong dan Songhyeon-dong Tumuli, Museum Haman Tumuli, dan Museum Changnyeong Tumuli.
Kunjungan tersebut diadakan oleh Gaya Tumuli World Heritage Management Foundation. Berdasarkan pengamatan penulis, tumuli-tumuli tersebut merupakan gundukan makam menyerupai bukit-bukit kecil yang tersebar dalam wilayah yang luas.
Gundukan itu berada di dataran yang lebih tinggi yang didalamnya di makamkan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh besar, seperti raja dan keluarganya atau keturunan bangsawan. Mereka dimakamkan bersama harta benda atau peninggalan yang dimiliki.
Konfederasi Gaya sering kali kurang dikenal dalam narasi sejarah Korea karena catatan tertulis mengenai peradabannya relatif terbatas sehingga Konfederasi Gaya kerap disebut sebagai peradaban yang hampir terlupakan.
Hal ini diperkuat oleh pernyataan dari Yeoungjin Choi selaku kurator dari Museum Changyeong yang mengatakan, "Peradaban Gaya tidak memiliki bukti catatan sejarah selain peninggalannya yakni pemakaman dan artefak-artefak yang ditemukan."br />
Artefak-artefak gerabah dan besi sebagai bukti peninggalan Konfederasi Gaya yang dipamerkan di Museum Haman Tumuli. Foto di atas dipotret pada tanggal 27 Juli 2026, Haman-gun, Provinsi Gyeongsangnam. (Arif Sakhbana Lubis)
Saat mengikuti tur, penulis melihat Konfederasi Gaya banyak meninggalkan artefak gerabah dan besi. Dominasi kedua jenis artefak tersebut menjadi bukti yang bahwa konfederasi gaya memiliki eksistensi besar dalam pembuatan gerabah dan alat-alat atau barang-barang dari besi.
"Melalui sistem politik dan industri besi yang berkemebang, Konfederasi Gaya berhasil memasok besi ke Jepang dan Tiongkok melalui perdagangan," ujar Yeoungjin Choi selaku kurator Museum Changyeong Tumuli.
Selain artefak, pemakaman-pemakan yang ditinggalkan Konfederasi Gaya ini memiliki karakteristik arsitektur liang kubur yang sama, yakni menggunakan susunan batu yang dibangun secara teratur untuk membentuk ruang pemakaman.
Rekonstruksi arsitektur liang kubur pada Tumuli yang dibangun menggunakan susunan batu yang rapi, beserta posisi jenazah dan benda-benda peninggalan yang turut dimakamkan. Foto di atas dipotret di Museum Haman Tumuli pada tanggal 27 Juli 2026 di Haman-gun, Provinsi Gyeongsangnam. (Arif Sakhbana Lubis)
Sistem politik, artefak gerabah dan besi, serta bentuk liang kubur yang unik inilah yang menjadi pembeda Konfederasi Gaya dengan tiga peradaban kerajaan besar Korea, yakni Goguryeo, Baekje, dan Silla.
Bagi penulis, peninggalan ini menunjukkan bagaimana jejak peradaban Gaya yang hampir terlupakan dapat kembali dikenali dan kemudian diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO karena nilai sejarah dan arkeologisnya.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.