Penulis: Wartawan Kehormatan Arif Sakhbana Lubis dari Indonesia
Foto: Arif Sakhbana Lubis
Stan Asosiasi Pelestari Yeongsanjae memperkenalkan ritual Yeongsanjae sebagai Warisan Budaya Takbenda di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.
Pameran K-Heritage House dibuka pada tanggal 20-29 Juli 2026 di BEXCO untuk menjamu para tamu yang hadir dalam Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 di Busan.
Sesuai dengan Namanya, K-Heritage House memamerkan berbagai warisan alam, warisan budaya, warisan budaya takbenda, serta berbagai bentuk warisan yang diakui secara nasional maupun oleh UNESCO.
Pada hari Kamis (22/07/2026), penulis mengunjungi K-Heritage House dan menjelajahi area Warisan Budaya Takbenda. Salah satunya adalah stan yang penulis kunjungi adalah stan Asosiasi Pelestari Yeongsanjae yang merupakan bagian dari Kuil Bongwonsa. Para biksu dari kuil tersebut hadir untuk memperkenalkan ritual Yeongsanjae kepada warga Korea dan internasional.
Pada dasarnya, Yeongsanjae sering kali dianggap sebagai ritual pengusiran roh jahat, seperti yang kerap ditampilkan dalam drama dan film Korea. Namun, sebenarnya Yeongsanjae merupakan ritual Buddhisme yang secara simbolis menghadirkan kembali kisah Buddha Sakyamuni ketika menyampaikan ajaran Sutra Teratai di Gunung Gridhrakuta sekitar 2.600 tahun lalu.
Ritual tersebut merupakan salah satu ritual yang penting bagi Buddhisme Korea, karena pada ritual ini melantunkan bumpae (liturgi), yaitu nyanyian ritual Buddhis yang mencerminkan esensi spiritual Buddhisme Korea dari zaman dahulu dan bertahan hingga saat ini.
Dokumentasi pelaksanaan ritual Yeongsanjae yang dipamerkan di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.
Ritual tersebut memberikan persembahan kepada Buddha (orang yang mengetahui kebenaran) dan Bodhisatwa (orang yang sedang menuju menjadi Buddha) yang hadir dengan tujuan agar orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal bisa merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang abadi.
Yeongsanjae saat ini menjadi salah satu warisan budaya takbenda yang penting bagi Korea dan bahkan telah diakui oleh UNESCO. Ritual ini mencerminkan nilai spiritual, seni pertunjukan, musik, tarian, hingga pembacaan doa yang berpadu dalam satu rangkaian upacara.
Selain sebagai bentuk penghormatan Yeongsanjae juga mengandung pesan mengenai pentingnya belas kasih, keharmonisan, dan doa bagi seluruh makhluk hidup. Oleh karena itu, Yeongsanjae tidak hanya dipahami sebagai upacara keagamaan, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai perdamaian dan kebersamaan kepada masyarakat.
Pada stan pameran, pengunjung diajak langsung berinteraksi untuk merasakan bagaimana ritual tersebut dilaksanakan dengan memakai pakaian dan properti-properti yang digunakan saat melakukan ritual.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam pameran karena memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk belajar secara langsung melalui praktik, bukan hanya melihat dokumentasi atau penjelasan tertulis.
Properti-properti yang digunakan saat ritual Yeongsanjae yang bisa dicoba langsung oleh pengunjung di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.
Bagi penulis, kunjungan ke stan Asosiasi Pelestari Yeongsanjae di K-Heritage House memberikan perspektif baru bahwa ritual Yeongsanjae bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, spiritualitas, dan perdamaian.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.