Penulis: Wartawan Kehormatan Irez Anggraeni dari Indonesia
Foto: Irez Anggraeni
Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) menggelar lokakarya bertajuk "Pelafalan Bahasa Korea dengan Gagok dan Teknik Vokal Klasik" pada hari Rabu (22/7/2026).
Bertempat di ruang serbaguna KCCI, acara yang dilangsungkan secara luring ini menghadirkan Lee Seul-gi, seorang profesional teknik vokal klasik asal Korea sebagai pembimbing.
Potret suasana perkenalan Lee Seul-gi, profesional teknik vokal klasik asal Korea di lokakarya "Pelafalan Bahasa Korea dengan Gagok dan Teknik Vokal Klasik" yang digelar pada hari Rabu (22/7/2026) di KCCI, Jakarta.
Lokakarya diawali dengan sesi pengenalan dasar mengenai cara melafalkan kata-kata dalam bahasa Korea secara tepat.
Dalam pemaparannya, Lee menekankan pentingnya teknik hembusan napas yang benar untuk menghasilkan artikulasi dan pelafalan yang presisi.
Oleh karena itu, peserta pun diajak melakukan pemanasan serta latihan pernapasan perut, dilanjutkan latihan pelafalan vokal 'a', 'i', dan 'u'.
Potret Lee Seul-gi mencontohkan teknik pernapasan dan pelafalan huruf vokal ‘i’ di lokakarya "Pelafalan Bahasa Korea dengan Gagok dan Teknik Vokal Klasik" yang digelar pada hari Rabu (22/7/2026) di KCCI, Jakarta.
Menariknya, dalam sesi pernapasan ini, pengajar membagikan dua tipe hembusan napas yang berbeda, yakni yang menghasilkan angin hangat dan angin dingin.
Agar lebih mudah, pengajar mengajak peserta untuk membayangkan uap dari secangkir kopi panas untuk hembusan napas hangat dan segelas kopi dingin penuh es untuk hembusan napas dingin.
Lebih jauh, pengajar menjelaskan bahwa penguasaan kedua teknik pernapasan ini sangat penting dalam menyampaikan emosi di balik setiap kata yang diucapkan.
Ia memberi contoh pada kata "cinta," emosi di balik kata tersebut dapat berubah menjadi hangat atau dingin, tergantung cara pengucapannya.
Memasuki sesi inti, peserta diajak mempraktikkan teori tersebut secara langsung melalui lagu klasik Korea (gagok) karya komponis Kim Hyo-geun yang berjudul "Cheotsarang" (Cinta Pertama).
Sebelum mulai bernyanyi, seluruh peserta diajak membaca lirik lagu bersama-sama. Pengajar juga memberikan deskripsi arti dari beberapa kata yang ada dalam lirik lagu agar peserta dapat memahami maknanya dengan baik.
Untuk menguji pemahaman emosi dalam pelafalan, beberapa peserta pun ditunjuk secara bergantian untuk membaca lirik lagu tersebut.
Suasana ruangan menjadi kian syahdu saat Lee Seulgi memberikan contoh cara menyanyikan lagu "Cheotsarang."
Melalui artikulasi yang presisi dan olah vokal khas seriosa yang merdu nan penuh penghayatan, penampilan sang pengajar sukses memukau para peserta yang hadir.
Usai bernyanyi, pengajar pun mengajak para peserta berlatih menyanyi bersama, dimulai dari bait per bait hingga satu lagu secara keseluruhan.
Meski lagu ini memiliki nada yang cukup tinggi dan menantang, tetapi para peserta tetap antusias dan bersemangat menyanyikannya.
Bahkan, salah satu peserta memberanikan diri untuk bernyanyi sendiri saat pengajar memberi kesempatan.
Potret salah seorang peserta lokakarya menyanyikan lagu "Cheotsarang" dengan bimbingan pengajar di lokakarya "Pelafalan Bahasa Korea dengan Gagok dan Teknik Vokal Klasik" yang digelar pada hari Rabu (22/7/2026) di KCCI, Jakarta.
Di akhir sesi acara, pengajar mengajak para peserta untuk menuliskan kosakata bahasa Korea apa saja yang paling berkesan dan terpatri dalam ingatan mereka selama kegiatan berlangsung.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.