Wartawan Kehormatan

2026.07.31

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Lubis Arif Sakhbana dari Indonesia
Foto: Lubis Arif Sakhbana

Pada hari Rabu (22/07/2026) penulis mengunjungi ruang pameran K-Heritage House yang diadakan selama Sidang Komite Warisan Dunia UNESCO ke-48 di BEXCO, Busan.

Pada kesempatan tersebut, penulis mengunjungi stan milik Kuil Haeinsa yang memperkenalkan Tripitaka Koreana.

Stan tersebut sangat menarik karena dijaga langsung oleh para biksu yang memperkenalkan secara langsung Tripitaka Koreana kepada pengunjung. Pengunjung pun bisa melihat langsung proses pemahatan Tripitaka Koreana.

Penulis berfoto bersama seorang biksu yang menjaga stan Kuil Haeinsa di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.

Penulis berfoto bersama seorang biksu yang menjaga stan Kuil Haeinsa di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.


Melalui penjelasan dari seorang biksu di stan tersebut, penulis mengetahui bahwa Tripitaka Koreana merupakan kitab suci Buddha yang berisi winaya (peraturan sangha yang berlandaskan naskah-naskah seperti Vinaya Pitaka), sutta (khotbah-khotbah dan ajaran Sang Buddha), Abhidhamma Pitaka (ajaran luhur dari Buddha).

Tripitaka Koreana dipahat pada lebih dari 80 ribu balok kayu pada masa Dinasti Goryeo (918-1392) sebagai bentuk permohonan kepada Sang Buddha untuk melindungi Korea dari serangan invasi Mongol di masa lampau.

Hal uniknya lagi, pemahatan ini dilakukan selama 16 tahun dari tahun 1237 dan selesai pada tahun 1248.

Selain memiliki nilai keagamaan, Tripitaka Koreana juga menunjukkan tingginya kemampuan masyarakat Korea pada masa Dinasti Goryeo dalam bidang seni ukir dan pelestarian naskah kuno.

Hingga saat ini, Tripitaka Koreana disimpan dan dilestarikan dengan baik di Kuil Haeinsa sebagai Warisan Memori Dunia UNESCO.

Tripitaka Koreana yang dipamerkan oleh Kuil Haeinsa pada stan Kuil Haeinsa di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.

Tripitaka Koreana yang dipamerkan oleh Kuil Haeinsa pada stan Kuil Haeinsa di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.


Stan Kuil Haeinsa di K-Heritage House menampilkan para biksu yang menjadi artisan dalam pemahatan setiap blok kayu Tripitaka Koreana. Kayu-kayu tersebut dipahat dengan sangat hati-hati dan teliti oleh para biksu.

Pemahatan Tripitaka Koreana yang dilakukan oleh para biksu pada stan Kuil Haeinsa di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.

Pemahatan Tripitaka Koreana yang dilakukan oleh para biksu pada stan Kuil Haeinsa di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.


Kegiatan tersebut memberikan pengalaman yang interaktif karena pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga dapat membawa pulang selembar cetakan replika dari salah satu lembaran blok kayu Tripitaka Koreana yang dicetak secara langsung dengan cat di atas kertas sebagai kenang-kenangan.

Cara ini menjadi media edukasi yang menarik untuk mengenalkan nilai sejarah dan budaya kepada masyarakat dari berbagai negara.

Prosesi pembuatan hasil cetakan Tripitaka Koreana menggunakan cat pada kertas di stan Kuil Haeinsa di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.

Prosesi pembuatan hasil cetakan Tripitaka Koreana menggunakan cat pada kertas di stan Kuil Haeinsa di K-Heritage House pada tanggal 22 Juli 2026 di BEXCO, Haeundae-gu, Busan.


Bagi penulis, kunjungan ke stan Kuil Haeinsa tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai Tripitaka Koreana, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah memori dapat tersimpan melalui pahatan kayu.

Melalui upaya pelestarianya, Tripitaka Koreana tetap menjadi simbol penting sejarah, spiritualitas, dan identitas budaya Korea yang dapat dipelajari oleh masyarakat dunia.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait