Penulis: Wartawan Kehormatan Hurum Maqshuro dari Indonesia
Poster pameran bertajuk 2050 Ibu Kota Maritim Busan, Melampaui Ombak Menuju Masa Depan yang berlangsung dari tanggal 29 Mei hingga 27 September 2026 di Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan Lantai B1, Jung-gu, Busan. (Pemerintah Kota Busan)
Pada tanggal 7 Juli 2026 penulis mengunjungi pameran bertajuk 2050 Ibu Kota Maritim Busan, Melampaui Ombak Menuju Masa Depan.
Pameran yang diselenggarakan secara gratis ini berlangsung dari tanggal 29 Mei hingga 27 September 2026 di Museum Sejarah Modern dan Kontemporer Busan Lantai B1, Jung-gu, Busan. Pameran diselenggarakan untuk memperingati 150 tahun pembukaan Pelabuhan Busan.
Melalui perspektif seni kontemporer, pameran tersebut digelar sebagai upaya untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan serta peran baru Busan sebagai ibu kota maritim di masa depan.
"The Dance of Trash Layers" merupakan salah satu karya Etc Blank yang menata limbah plastik yang dikumpulkan dari pesisir Busan. (Hurum Maqshuro)
Pameran 2050 Ibu Kota Maritim Busan, Melampaui Ombak Menuju Masa Depan dibuat dengan narasi fiktif bahwa target netralitas karbon pada tahun 2050 telah berhasil dicapai, tetapi kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim telah mengubah bentang wilayah dan cara hidup masyarakat.
Pameran dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama mengambil tema "Dialog Baru antara Manusia dan Laut: Kota Terapung." Bagian ini mengangkat gagasan kota terapung sebagai ruang hidup masa depan yang berkelanjutan, tempat manusia dapat beradaptasi dengan kenaikan permukaan laut sambil hidup selaras dengan ekosistem laut.
Sementara itu, bagian kedua bertema "Jalan Baru yang Dibuka Laut: Kota Pelabuhan Seni." Bagian ini mengeksplorasi peluang dan tantangan yang muncul akibat terbukanya Rute Arktik serta menafsirkan masa depan Pelabuhan Busan melalui karya seni yang merefleksikan hubungan antara pembangunan, lingkungan, dan budaya maritim.
"Busan Ocean Waste Object" karya Etc Blank merekonstruksi limbah plastik yang dikumpulkan dari laut Busan dengan menyegelnya di dalam struktur transparan sehingga menjadi sebuah 'objek laut'. (Hurum Maqshuro)
Memasuki ruang awal pameran, pengunjung disambut oleh karya seniman Etc Blank yang mengolah limbah dari pesisir Busan menjadi karya seni bernilai baru.
Melalui "Etc Blank's Floating Workspace," ia membayangkan sebuah studio di kota terapung sebagai refleksi atas kenaikan permukaan laut dan menawarkan gagasan seni yang berlandaskan pada adaptasi serta hidup berdampingan dengan lingkungan.
Di dalam karya "Sea Forest," seniman Lee Min-hae menunjukan di antara garis-garis organik eelgrass (lamun), tampak ikan muda seperti ikan gizzard shad, rockfish hitam, dan belut laut, serta pari tutul, camar, dan manusia. (Hurum Maqshuro)
Pada ruang berikutnya, terdapat karya yang berjudul "Sea Forest" milik seniman Lee Min-hae yang menggambarkan terumbu buatan sebagai ruang tempat manusia dan berbagai makhluk laut hidup berdampingan, sehingga batas antara alam dan lingkungan buatan menjadi semakin kabur.
Melalui ilustrasi berbagai spesies yang ditempatkan setara, karya ini mengajak pengunjung melihat makhluk nonmanusia bukan sekadar sebagai objek, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki nilai yang sama.
Melalui karya "Tide Totem: Floating Sculpture" dan seri "Hand Lighthouse," Lee Hye-sun mengolah limbah laut menjadi visi kota terapung di masa depan. (Hurum Maqshuro)
Lee Hye-sun merupakan seniman yang sejak tahun 2016 mengumpulkan limbah laut dari pesisir Pulau Jeju dan Donghae, seperti pelampung serta peralatan penangkapan ikan bekas, untuk diolah menjadi karya seni yang bernilai baru.
Melalui karya "Tide Totem: Floating Sculpture" dan seri Hand Lighthouse," ia membayangkan bentuk arsitektur serta berbagai perangkat yang dapat mendukung kehidupan di kota terapung pada masa depan.
Terinspirasi dari suara ombak dalam cangkang siput laut, "Earwig" karya Choi Hye-won menghadirkan pengalaman yang berada di antara rasa tenang dan ketidaknyamanan. (Hurum Maqshuro)
Menelusuri bagian lainnya, pengunjung dapat menikmati "Earwig" karya Choi Hye-won yang mengeksplorasi laut sebagai simbol ketenangan sekaligus ruang untuk menghadapi emosi yang terpendam.
Karya ini terinspirasi dari suara ombak yang terdengar melalui cangkang siput laut, ia menghadirkan pengalaman auditori yang berada di antara rasa nyaman dan ketidaknyamanan.
Karya tersebut mengubah laut dari sekadar pemandangan alam menjadi pengalaman yang personal, sekaligus mengajak pengunjung merenungkan hubungan emosional manusia dengan alam.
Melalui "Blue Hour: The Time of the Dog and the Wolf," STUDIO 1750 mengangkat tema budaya hibrida dan transformasi objek untuk menggambarkan dampak krisis iklim terhadap Arktik. (Hurum Maqshuro)
Memasuki bagian kedua pameran ini, terpajang karya-karya dari STUDIO 1750 yang merupakan kelompok seni yang mengangkat tema budaya hibrida serta transformasi objek dalam karya-karyanya.
Melalui pendekatan tersebut, mereka menghadirkan imajinasi baru mengenai kehidupan tumbuhan dan hewan di tengah perubahan lingkungan.
Melalui karya "Blue Hour: The Time of the Dog and the Wolf," STUDIO 1750 menggambarkan dampak krisis iklim terhadap kawasan Arktik serta dilema di balik terbukanya Jalur Pelayaran Arktik.
Karya tersebut mengingatkan bahwa kemajuan yang memberikan peluang bagi manusia juga membawa konsekuensi ekologis bagi makhluk hidup dan ekosistem yang terdampak.
Melalui "The Gathering," Byun Dae-yong menggunakan figur beruang kutub untuk mengajak pengunjung merenungkan dampak perubahan lingkungan di Arktik di balik pengembangan Jalur Pelayaran Arktik. (Hurum Maqshuro)
Selain itu terdapat karya Byun Dae-yong yang dikenal menggunakan figur beruang kutub sebagai simbol untuk menyampaikan isu-isu sosial dan krisis iklim melalui gaya visual yang lembut dan mudah diterima.
Melalui karya "The Gathering," ia mengajak pengunjung merenungkan dampak perubahan lingkungan di Arktik di balik pengembangan Jalur Pelayaran Arktik serta pentingnya menyeimbangkan pembangunan dengan kelestarian alam.
Melalui "The Link of Wave," Lee Eun-jung memvisualisasikan siluet Korea, Alaska, Greenland, dan Belanda sebagai ombak yang saling terhubung melalui Jalur Pelayaran Arktik. (Hurum Maqshuro)
Memasuki ruangan berikutnya, terdapat karya dari Lee Eun-jung yang merupakan seniman yang mengekspresikan hubungan antarmanusia dan perubahan emosi melalui lukisan abstrak.
Dalam karya "What Continues Beyond the Horizon," ia memvisualisasikan keterhubungan yang meluas dari Busan, khususnya Pelabuhan Busan, menuju Alaska, Greenland, hingga Belanda melalui Jalur Pelayaran Arktik.
Karya tersebut menunjukkan bahwa Busan tidak hanya berperan sebagai pusat logistik maritim, tetapi juga sebagai titik awal pertukaran budaya, pengalaman, dan kenangan yang menghubungkan berbagai belahan dunia.
Melalui "Resonating Monolith," Gaggoda membayangkan struktur yang menopang kehidupan di kota bawah laut dengan menyalurkan cahaya, memurnikan air laut, dan mengalirkan oksigen sebagai respons terhadap kenaikan permukaan laut. (Hurum Maqshuro)
Memasuki ruang akhir pameran, terdapat Gaggoda yang merupakan kelompok proyek berbasis arsitektur.
Melalui karya "Resonating Monolith," mereka membayangkan perairan di lepas Pantai Pelabuhan Utara Busan pada tahun 2050 setelah kenaikan permukaan laut.
Karya tersebut menawarkan visi masa depan Busan sebagai kota maritim yang hidup berdampingan secara harmonis dengan lautan.
Melalui karya-karya para seniman, pameran ini mengajak pengunjung merefleksikan masa depan Busan sebagai ibu kota maritim di tengah perubahan iklim.
Pameran 2050 Ibu Kota Maritim Busan, Melampaui Ombak Menuju Masa Depan mengingatkan bahwa masa depan bukan sesuatu yang menunggu, melainkan sesuatu yang kita ciptakan bersama.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.