Wartawan Kehormatan

2026.07.08

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Maulia Resta Mardaningtias dari Indonesia
Foto: Maulia Resta Mardaningtias

Pada hari Selasa (30/06/2026) penulis berkesempatan menghadiri lokakarya K-Beauty yang diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) sebagai bagian dari rangkaian K-Beauty Festival 2026 yang diadakan di Seoul, Korea.

Lokakarya ini diadakan di KCCI dan terdiri atas dua sesi, yaitu Kelas Meracik Parfum Korea serta Seminar Warna Personal dan Kelas Tata Rias.

Dalam kesempatan kali ini, penulis mengikuti Kelas Meracik Parfum Korea. Kelas ini mengangkat dua tema unik, yaitu Dubai chewy cookie dan butter tteok, jajanan manis yang sedang populer di Korea. Sebanyak 30 orang peserta dibagi ke dalam dua kelompok sesuai tema tersebut.

v

Potret Selina, instruktur parfum dari Maison Amare Studio, sedang memaparkan materi terkait parfum kepada para peserta dalam Kelas Meracik Parfum Korea di KCCI (30/06/2026).


Kelas ini dipandu oleh Selina dari Maison Amare Studio, pusat pembelajaran parfum pertama di Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Instruktur Parfum Korea (KPIA).

Sesi dibuka dengan pengenalan sejarah parfum yang pertama kali ditemukan di Mesir. Pada masa itu, parfum hanya digunakan oleh kalangan bangsawan karena bahan dan proses pembuatannya masih alami sehingga dianggap sebagai barang mewah. Kini perkembangan teknologi membuat parfum dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Dalam budaya Korea, parfum dipandang sebagai bagian dari perawatan diri dan dikategorikan sebagai produk kosmetik yang dinikmati untuk kepuasan pribadi. Hal itu berbeda dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang cenderung menyukai parfum beraroma kuat dan tahan lama.

Masyarakat Korea lebih memilih aroma lembut yang hanya dirasakan oleh pemakainya karena bagi mereka aroma yang terlalu tajam dapat dianggap mengganggu privasi orang lain, terutama saat menggunakan transportasi umum atau berbagi meja di ruang publik.

Beberapa aroma yang diperkenalkan kepada peserta dan digunakan dalam pembuatan parfum bertema Dubai chewy cookie dan butter tteok pada kelas.

Beberapa aroma yang diperkenalkan kepada peserta dan digunakan dalam pembuatan parfum bertema Dubai chewy cookie dan butter tteok pada kelas.


Pada kelas ini, peserta diajak membuat parfum jenis Eau de Parfum (EDP). Jenis parfum ini dikenal fleksibel untuk digunakan pada berbagai kesempatan dengan intensitas aroma yang tidak terlalu kuat, tetapi juga tidak terlalu ringan.

Setelah penjelasan dasar tentang parfum, peserta diperkenalkan pada 15 jenis aroma khas yang terinspirasi dari Dubai chewy cookie dan butter tteok.

Aroma untuk parfum butter tteok antara lain karamel, vanila, nasi ketan, garam, heliotrop, dan susu. Kombinasi ini menghadirkan kesan manis yang lembut dengan sentuhan gurih yang membuatnya terasa hangat dan menenangkan.

Sementara itu, parfum Dubai chewy cookie memiliki komposisi yang lebih kompleks, seperti kakao, cokelat, hazelnut, almon, susu, garam, pistasio, praline, vanila, kayu cendana, dan tebu.

Perpaduan aroma tersebut memberi kesan kaya dan berlapis, dominan pada nuansa cokelat serta kacang-kacangan yang memberikan kesan karakter yang lebih pekat dan menggugah selera.

Butter tteok menonjolkan aroma susu dan mentega yang ringan, sedangkan Dubai chewy cookie lebih kuat dengan aroma cokelat dan pistasio sehingga terasa lebih berani dan intens.

Kolase foto botol parfum berukuran 300 ml yang disediakan oleh penyelenggara, proses penulis meracik parfum dengan meneteskan aroma sesuai komposisi, serta penuangan cairan alkohol parfum oleh Maison Amare Studio sebagai langkah akhir pembuatan parfum.

Kolase foto botol parfum berukuran 300 ml yang disediakan oleh penyelenggara, proses penulis meracik parfum dengan meneteskan aroma sesuai komposisi, serta penuangan cairan alkohol parfum oleh Maison Amare Studio sebagai langkah akhir pembuatan parfum.


Melalui sesi pengenalan aroma, peserta dapat mengenali berbagai aroma dengan mengaitkannya pada pengalaman sehari-hari.

Misalnya, aroma karamel yang mengingatkan pada jagung brondong, aroma garam yang menyerupai laut, aroma bunga heliotrop yang mirip permen, hingga aroma almon yang mengejutkan karena menyerupai obat sirup.

Penulis sendiri cukup terkesan dengan aroma asli almon yang berbeda dari almon panggang yang biasa dikonsumsi karena memberikan kesan unik dan tak terduga.

Selain itu, aroma kayu cendana dan tebu menjadi favorit pribadi penulis karena keduanya menghadirkan nuansa hutan dan kebun tebu yang segar, alami sekaligus menenangkan.

Setelah sesi uji aroma, instruktur menampilkan tabel berisi resep membuat parfum pada layar. Tabel tersebut berisikan komposisi setiap aroma yang dibutuhkan untuk membuat satu botol parfum. Dengan mengikuti resep tersebut, peserta mulai meracik parfum aroma Dubai chewy cookie dan butter tteok mereka.

Potret beberapa hasil karya parfum peserta yang telah dibungkus menyerupai Dubai chewy cookie dan butter tteok.

Potret beberapa hasil karya parfum peserta yang telah dibungkus menyerupai Dubai chewy cookie dan butter tteok.


Usai meracik parfum, Maison Amare Studio membantu para peserta membungkus parfum buatan mereka dengan kemasan kertas yang menyerupai kemasan toko yang menjual Dubai chewy cookie dan butter tteok sehingga seolah-olah peserta benar-benar membeli jajanan viral tersebut.

Melalui pengalaman ini, penulis tidak hanya belajar mengenai proses pembuatan parfum, tetapi juga memahami perbedaan preferensi aroma parfum dalam budaya Korea.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait