Penulis: Wartawan Kehormatan Afifa Nur Faadhila dari Indonesia
Foto: Afifa Nur Faadhila
Dalam dua tahun terakhir, menemukan restoran maupun kafe Korea di kawasan Jabodetabek bukan lagi hal yang sulit. Mulai dari restoran barbeku Korea, kafe bergaya khas Korea, hingga toko roti khas Korea terus bermunculan di berbagai sudut kota.
Kehadiran toko-toko tersebut bukan hanya mencerminkan meningkatnya popularitas kuliner Korea, melainkan juga menunjukkan bahwa budaya Korea semakin akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Suasana sebuah restoran Korea di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada tanggal 13 Januari 2026. Konsep interior modern dan estetik yang dipadukan dengan hidangan khas Korea menjadi bagian dari pengalaman bersantap yang diminati pelanggan.
Salah satu faktor yang mendorong meningkatnya popularitas restoran Korea di Indonesia adalah halyu. Banyak yang pertama kali mengenal mi instan Korea, tokpoki, kimbap, hingga ayam goreng khas Korea melalui tayangan hiburan Korea.
Rasa penasaran tersebut kemudian berkembang menjadi minat yang mendorong semakin tingginya permintaan terhadap kuliner Korea di Indonesia.
Pandangan ini juga disampaikan oleh Ruan, seorang koki Korea yang bekerja di Indonesia, dalam sesi tanya jawab secara daring yang dilakukan pada hari Jumat (26/06/2026). Menurutnya, pengaruh budaya Korea menjadi faktor terbesar di balik meningkatnya jumlah restoran Korea.
"Jika dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu, jumlah restoran Korea kini meningkat pesat (di Jabodetabek), terutama dalam dua hingga tiga tahun terakhir," ujar Ruan.
Namun, pertumbuhan hubungan ekonomi antara Indonesia dan Korea juga turut mendorong berkembangnya restoran Korea di Jabodetabek.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan yang dirangkum GoodStats, terdapat 9.550 orang tenaga kerja asal Korea yang bekerja di Indonesia pada tahun 2024.
Kehadiran para ekspatriat tersebut turut menciptakan permintaan terhadap kuliner Korea yang autentik sehingga restoran Korea tidak hanya melayani masyarakat Indonesia yang tertarik pada halyu.
Hidangan khas Korea, seperti tokpoki, ayam goreng khas Korea, kimbap, dan kimci, disajikan di sebuah restoran Korea di kawasan BSD, Tangerang Selatan.
Agar dapat diterima oleh lebih banyak pelanggan, banyak restoran Korea di Indonesia melakukan penyesuaian terhadap menu dan cita rasa tanpa menghilangkan identitas kuliner Korea.
Penyesuaian tersebut dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku lokal serta menyesuaikan karakter rasa agar lebih sesuai dengan preferensi konsumen Indonesia.
Menurut Ruan, menghadirkan cita rasa Korea yang autentik bukanlah hal yang mudah. Ia menjelaskan, "Karena menggunakan bahan baku lokal, cukup sulit untuk menghadirkan cita rasa Korea secara 100 persen. Selain itu, dibandingkan orang Korea, masyarakat Indonesia cenderung menyukai rasa yang lebih kuat."
Dari sisi pelanggan, penyesuaian tersebut mendapat tanggapan yang beragam. Sebagian menganggap cita rasa makanan Korea di Indonesia sudah sesuai dengan lidah lokal, sementara yang lain berharap penyesuaian tidak dilakukan secara berlebihan agar karakter asli masakan Korea tetap terjaga.
Interior salah satu restoran ayam goreng khas Korea di kawasan Gading Serpong, Tangerang.
Selain menyesuaikan cita rasa, banyak restoran Korea juga menghadirkan pengalaman bersantap yang menarik bagi pelanggan.
Generasi muda saat ini tidak hanya mempertimbangkan rasa makanan ketika memilih tempat makan. Suasana, desain interior, kenyamanan, hingga konsep restoran menjadi faktor penting dalam menentukan pilihan.
Tidak mengherankan jika banyak restoran dan kafe Korea mengusung konsep estetik yang nyaman dan menarik untuk dibagikan di media sosial.
Menurut Ruan, desain restoran memang menjadi salah satu aspek yang paling diperhatikan. "Saya tahu orang Indonesia sangat suka berfoto sehingga membuat tampilan restoran menarik sejak bagian depan bangunan menjadi hal yang sangat penting," ujarnya.
Kehadiran restoran dan kafe Korea tidak hanya memperkaya pilihan kuliner masyarakat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Selain membuka lapangan kerja, restoran-restoran tersebut turut menghidupkan kawasan komersial dan menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat, baik komunitas Korea maupun masyarakat Indonesia yang memiliki ketertarikan terhadap budaya Korea.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kuliner dapat menjadi salah satu media pertukaran budaya sekaligus memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi lokal.
Berbagai hidangan khas Korea disajikan di sebuah restoran Korea di Senopati pada tanggal 10 Mei 2025.
Menurut Ruan, perkembangan kuliner Korea di Indonesia masih memiliki potensi yang besar. "Saya yakin akan semakin banyak variasi masakan Korea di Indonesia karena banyak koki muda Korea yang ingin bekerja di sini. Namun, tantangan yang masih dihadapi adalah ketersediaan bahan baku khas Korea yang belum semudah di Korea,” tambahnya.
Melalui makanan, Korea dan Indonesia tidak hanya saling memperkenalkan cita rasa, tetapi juga membangun ruang untuk saling memahami budaya satu sama lain. Dengan terus berkembangnya industri kuliner Korea di Indonesia, hubungan tersebut diperkirakan akan semakin erat di masa mendatang.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.