Penulis: Wartawan Kehormatan Surya Nolaivani dari Indonesia
Foto: Surya Nolaivani
Poster resmi kuliah khusus bertajuk "Memahami Penerjemahan Modern: Pemanfaatan Teknologi AI" yang digelar pada tanggal 29 Juni 2026 di KCCI, Jakarta.
Hasil terjemahan AI (kecerdasan buatan) kini terasa semakin alami, bahkan mampu memahami konteks sebuah kalimat.
Di balik kemudahan tersebut, terdapat perkembangan teknologi yang terus mengubah wajah dunia penerjemahan.
Menjawab fenomena itu, Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) menggelar kuliah khusus bertajuk "Memahami Penerjemahan Modern: Pemanfaatan Teknologi AI" pada tanggal 29 Juni 2026 di KCCI, Jakarta.
Kegiatan ini menghadirkan Achmad Rio Dessiar yang merupakan akademisi Universitas Gadjah Mada sekaligus peneliti di bidang linguistik komputasional, untuk mengulas bagaimana AI mengubah cara manusia menerjemahkan bahasa.
Achmad Rio Dessiar memaparkan materi "Memahami Penerjemahan Modern: Pemanfaatan Teknologi AI" pada tanggal 29 Juni 2026 di KCCI, Jakarta.
Dalam pemaparannya, Rio menjelaskan bahwa perkembangan teknologi penerjemahan tidak terjadi secara instan.
Salah satu tonggak pentingnya adalah lahirnya Neural Machine Translation (NMT), teknologi yang kini digunakan oleh berbagai layanan penerjemahan otomatis seperti Google Translate.
Berbeda dengan sistem penerjemahan lama yang menerjemahkan kata atau frasa secara terpisah, NMT mampu memahami konteks kalimat sehingga menghasilkan terjemahan yang lebih alami.
Ia juga menjelaskan bahwa kemunculan Large Language Model (LLM), seperti teknologi yang digunakan pada berbagai bot obrolan AI modern, membawa kemampuan baru dalam dunia penerjemahan.
Jika NMT lebih unggul dalam kecepatan dan efisiensi, LLM dinilai lebih mampu memahami konteks, gaya bahasa, idiom, hingga nuansa budaya dalam sebuah teks.
Namun, kemampuan tersebut juga membutuhkan sumber daya komputasi yang lebih besar dibandingkan NMT.
Peserta antusias dalam sesi tanya jawab kuliah khusus "Memahami Penerjemahan Modern: Pemanfaatan Teknologi AI" yang digelar pada tanggal 29 Juni 2026 di KCCI, Jakarta.
Salah satu materi yang paling menarik perhatian penulis adalah pembahasan mengenai korpus paralel yang menjadi fondasi penting dalam pengembangan teknologi penerjemahan berbasis AI.
Rio menjelaskan bahwa korpus paralel merupakan kumpulan teks dalam dua atau lebih bahasa yang memiliki isi atau makna yang sama dan disusun secara berpasangan.
Sebagai contoh, dokumen asli berbahasa Korea yang dipasangkan dengan hasil terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia akan membentuk satu pasangan data dalam korpus paralel.
Keberadaan korpus paralel sangat penting karena menjadi "bahan belajar" bagi sistem AI. Semakin banyak pasangan kalimat yang tersedia dan semakin baik kualitas terjemahannya, semakin akurat pula model AI dalam mengenali pola bahasa, struktur kalimat, pilihan kosakata, hingga konteks budaya.
Oleh karena itu, kualitas korpus paralel tidak hanya ditentukan oleh jumlah data, tetapi juga oleh ketepatan dan konsistensi hasil terjemahannya.
Dalam praktiknya, korpus paralel dimanfaatkan untuk melatih mesin penerjemah agar mampu memahami hubungan antarkalimat dalam dua bahasa yang berbeda.
Melalui proses pembelajaran tersebut, sistem AI dapat memprediksi padanan kata maupun struktur kalimat yang paling sesuai ketika menerjemahkan teks baru.
Hal inilah yang membuat hasil terjemahan modern jauh lebih alami dibandingkan sistem penerjemahan berbasis kamus yang digunakan pada masa lalu.
Peserta berfoto bersama Achmad Rio Dessiar usai kuliah umum "Memahami Penerjemahan Modern: Pemanfaatan Teknologi AI" yang digelar pada tanggal 29 Juni 2026 di KCCI, Jakarta.
Meski teknologi AI berkembang sangat pesat, Rio menegaskan bahwa peran penerjemah manusia tetap tidak dapat sepenuhnya digantikan.
AI mampu mempercepat proses penerjemahan, tetapi masih memerlukan campur tangan manusia untuk memastikan akurasi makna, memahami konteks budaya, serta menyesuaikan gaya bahasa sesuai kebutuhan pembaca.
Pesatnya perkembangan AI telah membuka babak baru dalam dunia penerjemahan. Namun, kuliah ini menegaskan bahwa teknologi bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari kolaborasi yang lebih erat antara kecerdasan buatan dan keahlian manusia dalam membangun komunikasi tanpa batas.
margareth@korea.kr
*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.