Wartawan Kehormatan

2026.06.25

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Mutiara Syahadati dari Indonesia
Foto: Mutiara Syahadati

Instalasi sarangbang (kiri) dan anbang (kanan) di pameran tetap Korea 360 Jakarta.

Instalasi sarangbang (kiri) dan anbang (kanan) di pameran tetap Korea 360 Jakarta.


Korea memiliki berbagai warisan budaya tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi dan dan dilestarikan agar semakin dikenal oleh masyarakat Korea maupun masyarakat dunia.

Korea 360 yang terletak di Jakarta menjadi salah satu tempat yang memperkenalkan warisan budaya tradisional Korea kepada masyarakat Korea.

Penulis mengunjungi area Culture di Korea 360 pada tanggal 17 Juni 2026 untuk melihat berbagai artefak budaya dan kerajinan tradisional Korea yang mencerminkan kehidupan, nilai sosial, serta estetika masyarakat Korea pada masa lalu.

Salah satu warisan budaya tradisional Korea yang dipamerkan berupa instalasi sarangbang dan anbang yang menggambarkan ruangan pada zaman Joseon serta berbagai artefak budaya dan kerajinan tradisional.

Potret daegeum (alat musik tiup), busur, panah, serta alat tulis yang berada di instalasi sarangbang.

Potret daegeum (alat musik tiup), busur, panah, serta alat tulis yang berada di instalasi sarangbang.


Sarangbang merupakan ruangan khusus pria di rumah-rumah yang dibangun pada masa Dinasti Joseon (1392-1910). Beberapa barang yang dipamerkan dalam instalasi tersebut merupakan barang-barang yang dikenakan oleh pria pada masa itu.

Salah satu barang yang menarik perhatian dalam instalasi tersebut adalah jeongjagwan, yaitu topi yang digunakan dalam ruangan oleh para pria dari kalangan kelas atas pada era Joseon.

Artefak budaya tradisional lainnya adalah daegeum (alat musik tiup), busur, panah, serta alat tulis. Seluruh barang yang dipamerkan menggambarkan pria sebagai manusia terpelajar yang beradab, terdidik, disiplin, serta seimbang antara intelektual, seni, dan fisik.

Potret sulaman bermotif burung bangau (kiri) dan bermotif harimau (kanan) untuk pakaian para pejabat istana.

Potret sulaman bermotif burung bangau (kiri) dan bermotif harimau (kanan) untuk pakaian para pejabat istana.


Pameran tersebut juga menampilkan hyungbae, yaitu sulaman yang dijahit pada pakaian di bagian dada dan punggung untuk para pria yang lulus ujian negara.

Gambar burung bangau digunakan oleh para pejabat administrasi yang menyimbolkan kesetiaan, umur panjang, dan kebijaksanaan. Sedangkan harimau untuk para pejabat militer yang menggambarkan keberanian, kekuatan, dan perlindungan.

Peralatan menjahit yang digunakan para wanita pada era Joseon untuk membuat kerajinan tangan.

Peralatan menjahit yang digunakan para wanita pada era Joseon untuk membuat kerajinan tangan.


Anbang merupakan ruangan keseharian milik wanita pada era Joseon. Dalam instalasi dipamerkan tujuh alat jahit berupa alat setrika, gunting, penggaris, pelindung jari, benang, jarum dan bantalan.

Alat tersebut untuk membuat kerajinan tangan dengan menggunakan sisa kain perca serta benang warna-warni yang disimpul menjadi berbagai barang yang indah.

Jumeoni (kiri), jogakbo (tengah), dan honseon (kanan) yang dijahit dan disulam sebagai bagian warisan seni dan kerajinan tradisional Korea.

Jumeoni (kiri), jogakbo (tengah), dan honseon (kanan) yang dijahit dan disulam sebagai bagian warisan seni dan kerajinan tradisional Korea.


Pada instalasi ruang wanita yang disebut sebagai anbang, dipamerkan jumeoni, jogakbo, serta honseon.

Jumeoni merupakan kantung yang disulam bentuk-bentuk indah seperti bunga yang dipercaya untuk menghalang nasib buruk dan mengharapkan keberuntungan.

Jogakbo merupakan seni kerajinan tambal sulam yang menyambungkan potongan kain sisa menjadi kain pembungkus serbaguna atau digunakan untuk memindahkan barang kecil.

Kerajinan lainnya adalah honseon yang merupakan kipas bundar yang digunakan oleh pengantin wanita dan disulam dengan bentuk bunga peoni serta memiliki makna harapan kemakmuran, kehormatan dan umur panjang.

Najeonchilgi dengan motif bernuansa alam, menggambarkan representasi keindahan budaya tradisional Korea.

Najeonchilgi dengan motif bernuansa alam, menggambarkan representasi keindahan budaya tradisional Korea.


Pada pameran tetap di Korea 360 ini juga terdapat najeonchilgi, yaitu kerajinan tradisional Korea berupa pernis mutiara.

Permukaan kayu pada kerajinan tersebut dihiasi dengan tatahan potongan cangkang kerang berwarna-warni yang dibuat pola atau motif seperti bunga, burung, pohon dan bentuk yang menggambarkan alam, kemudian dilapisi pernis.

Pameran tetap ini memberikan wawasan mendalam bagi penulis karena memberikan pemahaman terhadap filosofi dan kreativitas masyarakat Korea pada masa lampau yang menjadi warisan budaya untuk masa kini dan masa depan.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait