Wartawan Kehormatan

2026.05.26

Membaca artikel ini dalam bahasa yang lain
  • 한국어
  • English
  • 日本語
  • 中文
  • العربية
  • Español
  • Français
  • Deutsch
  • Pусский
  • Tiếng Việt
  • Indonesian

Penulis: Wartawan Kehormatan Fergi Nadira Bachruddin dari Indonesia
Foto: Fergi Nadira Bachruddin

Para pembeli mengerubuti sebuah sudut penjualan baju bekas di Pasar Loak Dongmyo.

Para pembeli mengerubuti sebuah sudut penjualan baju bekas di Pasar Loak Dongmyo.


Penulis saat tanpa sengaja menemukan sebuah kawasan penuh barang bekas di dekat Stasiun Dongmyo di Seoul pada hari Jumat (10/04/2026).

Kala itu penulis memang menginap tidak jauh dari Stasiun Dongmyo. Awalnya penulis hanya ingin mencari pakaian hangat murah untuk menghadapi udara dingin Korea yang saat itu masih menusuk, terutama saat malam tiba.

Berbagai barang bekas dijual dengan harga murah di Pasar Loak Dongmyo.

Berbagai barang bekas dijual dengan harga murah di Pasar Loak Dongmyo.


Namun, saat itu suasana pasar tampak mulai sepi. Beberapa pedagang sudah membereskan dagangan mereka. Langit mendung dan udara dingin membuat penulis akhirnya mampir ke sebuah kedai tokpoki kecil di pinggir jalan.

Semangkuk eomuk hangat, tokpoki, dan kimbap menjadi penyelamat sore itu. Uap panas dari kuah eomuk membuat tubuh terasa lebih hangat setelah berjalan di tengah udara dingin Seoul.

Sambil makan, penulis sempat bertanya kepada pemilik kedai mengenai Pasar Loak Dongmyo. Ia berkata bahwa pasar biasanya mulai tutup saat sore hari, sementara akhir pekan menjadi waktu paling ramai.

Suasana Pasar Loak Dongmyo pada hari Minggu (12/04/2026).

Suasana Pasar Loak Dongmyo pada hari Minggu (12/04/2026).


Saat penulis kembali datang pada Minggu pagi, suasana Dongmyo berubah total. Kawasan itu dipenuhi warga lokal Korea dari berbagai usia. Wisatawan asing justru bisa dihitung dengan jari.

Suara para pedagang terdengar saling bersahutan menawarkan barang dagangan mereka. Suasananya mengingatkan penulis pada Pasar Senen atau Jatinegara di Jakarta, hanya saja kali ini dengan nuansa khas Korea.

Di sepanjang jalan, pakaian bekas digantung rapat memenuhi gang-gang kecil. Ada jaket musim dingin, kaus bermerek, hingga sepatu-sepatu bekas yang kondisinya masih sangat layak pakai. Beberapa bahkan tampak seperti baru.

Tak hanya pakaian, Dongmyo juga dipenuhi barang-barang unik dan antik. Di salah satu lapak, seorang kakek menjual barang elektronik lama, mulai dari laptop lawas, radio kecil, kamera tua, hingga televisi bekas yang masih tertata rapi di atas terpal.

Ada juga tumpukan jam tangan, kabel, ponsel jadul, bahkan barang-barang yang mungkin sudah sulit ditemukan di toko modern.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian penulis adalah tulisan di sebuah lapak kecil yang berbunyi, "Jangan sentuh. Tanya terlebih dahulu." Tulisan itu ditempel tepat di depan kotak berisi jam tangan dan barang elektronik kecil, seolah menunjukkan betapa uniknya budaya pasar loak di Korea.

Salah satu lapak penjual jam tangan di Pasar Loak Dongmyo.

Salah satu lapak penjual jam tangan di Pasar Loak Dongmyo.


Penulis juga sempat menemukan toko kecil yang menjual piring lawas, cangkir antik, hingga lukisan tua khas Korea. Sementara di sudut lain, musik lawas Korea terdengar pelan dari toko yang menjual kaset dan piringan hitam lama.

Meski tidak terlalu mengenal lagu-lagunya, penulis menikmati suasana nostalgia yang terasa hangat dan berbeda dari hiruk pikuk Myeongdong.

Yang membuat penulis semakin senang tentu saja harga barang-barangnya. Banyak pakaian dijual mulai dari 5.000 won. Penulis bahkan berhasil membeli jaket tebal musim dingin seharga 10.000 won dengan kondisi yang masih sangat bagus.

Pengalaman paling seru justru terjadi saat menawar jam tangan bekas di salah satu kios. Awalnya sang penjual membuka harga 50.000 won. Namun, setelah mencoba menawar menggunakan bahasa Korea sederhana yang dipelajari selama beberapa bulan, penulis akhirnya berhasil mendapatkannya dengan harga 30.000 won.

Gang di Pasar Loak Dongmyo menjual baju, buku, dan barang-barang lainnya.

Gang di Pasar Loak Dongmyo menjual baju, buku, dan barang-barang lainnya.


Bagi penulis, Dongmyo bukan sekadar tempat berburu barang murah. Pasar loak legendaris ini memperlihatkan sisi lain kehidupan Korea yang jarang terlihat di kawasan wisata modern Seoul.

Di tengah kota yang dikenal serba cepat dan modern, Dongmyo justru menghadirkan suasana hangat, sederhana, dan penuh cerita dari barang-barang lama yang masih menemukan pemilik barunya.

Tak heran jika hingga kini Pasar Loak Dongmyo tetap menjadi salah satu tempat favorit warga lokal Korea untuk mencari barang unik dan penuh nostalgia dengan harga terjangkau.


margareth@korea.kr

*Artikel ini ditulis oleh Wartawan Kehormatan Korea.net. Program Wartawan Kehormatan dijalankan oleh Korea.net di bawah Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Para anggotanya merupakan sukarelawan yang memperkenalkan berbagai hal tentang Korea kepada dunia dengan berperan sebagai jembatan budaya.

konten yang terkait